
"Pakai semua menu yang kamu bawa," ucap Arnold sambil melihat ke arah Tiara.
Keduanya tengah duduk di sofa ruangan Arnold, yang disediakan untuk tamu. Sambil menunggu Tiara selesai mengambilkan makan untuknya, Arnold terus menatap ke arah gadis itu. Sesekali dia tersenyum kecil ketika mendapati Tiara tengah menggerutu kesal. Sepertinya sang istri terpaksa melakukan itu, demi pencitraan pernikahan mereka. Sangat lucu.
"Suapin," ucap Arnold lagi, sukses membuat mata Tiara melotot.
"Punya tangan, masih lengkap dengan jarinya juga. Makan sendiri," tukas gadis itu sambil meletakkan piring dipangkuan Arnold.
"Jadi istri nggak ada manis-manisnya," sindir Arnold.
"Bodoh amat! Emang gue pikirin?"
Tiara lebih memilih untuk melihat-lihat isi ruangan Arnold, dari pada harus memperhatikan pria itu yang sedang menikmati makan siang. Mata Tiara berbinar tak kala melihat banyaknya buku yang berjejer di rak. Sesekali dia membaca judul-judul dari buku itu, tetapi sayang Tiara tak mengerti. Karena semua buku tentang perusahaan.
"Kerja kantor capek, ya?" tanya Tiara sambil membalikkan badannya.
Sungguh, pertanyaan itu begitu konyol. Memangnya ada pekerjaan yang tidak capek? Dasar gadis aneh, Arnold hanya menggelengkan kepala saja sambil terus melanjutkan makan.
"Kalau tidak mau jawab, ya, sudah." Tiara memilih sibuk kembali.
"Aku sedang makan, kalau tersedak, gimana?"
__ADS_1
"Tinggal minum," sahut Tiara enteng.
Memang ya, melawan seorang perempuan itu sangat sulit. Ujung-ujungnya pasti akan kalah, makanya Arnold enggan menjawab lagi ucapan Tiara. Dia memilih meneguk minumnya dan menyusun bekal yang Tiara bawa tadi. Karena sudah selesai makan, jadi Arnold memilih untuk merapikannya.
"Yang namanya bekerja, sudah pasti capek. Tapi kalau nggak mau capek ya tiduran aja di rumah," celetuk Arnold sembari menghampiri istrinya yang tengah duduk di kursi kebesarannya.
"Aku tahu."
"Kenapa tanya lagi?"
"Ya, terserah," jawab Tiara tak acuh.
Arnold melirik arloji yang menempel di pergelangan tangannya, ada waktu sekitar lima belas menit lagi. Dia akan pergunakan itu untuk menemui Bianca. Sebelum pergi, Arnold melirik ke arah Tiara terlebih dahulu yang dibalas oleh gadis itu.
"Aku akan pergi menemui Bianca. Apa kamu ingin di sini saja, atau pulang?" Arnold balik bertanya.
"Di sini," jawab Tiara mengalihkan pandangannya.
Pria itu mengangguk, lantas pergi meninggalkan Tiara yang masih berada di ruangan dia. Gadis yang sejak tadi masih duduk, menghembuskan napas kasar. Namun, dia segera tersenyum dengan manis.
"Ngapain aku harus sibuk dengan pria itu. Bagus dong kalau misalkan mereka ada hubungan,biar cepat aku lepas dari Arnold," ucap Tiara sambil tersenyum.
__ADS_1
Sayangnya pikiran tak sejalan dengan hati, buktinya sekarang Tiara beranjak dari duduk. Meskipun dia ingin tidak peduli dengan apa yang Arnold lakukan, tetapi ada rasa penasaran dengan apa yang akan mereka lakukan. Alhasil dia memilih untuk keluar dan menuju cafe untuk membuntuti suaminya.
Tiara dibuat terkejut dengan kedatangan Fan, begitu pun sebaliknya. Namun, Fan langsung berdehem untuk mencairkan suasana.
"Nyonya ingin pulang? Mari, biar saya antar."
"Tidak, Mas. Saya masih ingin berkeliling terlebih dahulu," kata Tiara berbohong. Padahal dia berniat untuk menyusul suaminya.
"Oh, baiklah. Apa perlu saya temani?" tawar Fan.
"Ah, tidak perlu! Aku bisa sendiri."
Tiara langsung berlalu meninggalkan Fan, melangkah dengan cepat memasuki lift. Tiara sudah sangat penasaran dengan apa yang akan Bianca bicarakan pada Arnold, makanya dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang di lobi ketika melihatnya terburu-buru.
Ketika sampai di depan cafe, Tiara berhenti sejenak. Ada rasa ragu untuk masuk ke dalam, tetapi langsung tertepis dengan rasa penasarannya.
"Sekali ini aja, turunin ego buat kepo," lirih Tiara mantap. "Ya, kamu pasti bisa Tiara."
Tiara menyemangati dirinya sendiri sambil mengepalkan tangan ke udara.
"Bisa apa?"
__ADS_1
**
Hayo, siapa tuh yang mergoki Nyonya Tiara? 😅