
"Arnold! Kamu serius?"
"Iya, Bianca. Aku tidak mungkin menduakan istriku."
Tubuh Bianca melemas dengan tatapan sendu. Dia pikir Arnold akan menerimanya, karena dia teman dari sejak kecil pria itu. Ternyata, Arnold menolak dengan mentah-mentah dihadapan Tiara dan Fan.
"Kita sudah berteman lama, apa mungkin kamu tidak memiliki perasaan padaku?" tanya Bianca. Masih berusaha meyakinkan Arnold.
"Perasaan apa? Aku hanya menganggapmu sebagai teman, tidak lebih," jawab Arnold to the point.
"Aku cinta sama kamu, Ar. Bahkan sejak dulu, aku begitu mencintai kamu."
"Maaf, Bi, aku tetap menolakmu."
"Ar, kamu harus pikirkan lagi. Aku tahu pernikahan kalian pasti karena terpaksa bukan cinta," kata Bianca dengan kepercayaan yang tinggi.
__ADS_1
"Ya, itu memang benar. Tapi sekarang, aku sedang berusaha untuk mencintai istriku, Tiara." Arnold menarik Tiara ke dalam dekapannya, mengusap rambut gadis itu berulang kali dan tak lupa mengecup keningnya lembut.
Mendapat perlakuan seperti itu, ada yang menghangat di hati Tiara. Namun, dia enggan senang dulu. Bisa saja Arnold sedang akting, bukan benar-benar ingin melakukan apa yang pria itu ucapkan.
Sebenarnya Tiara setuju saja, kalau Bianca mau menjadi istri kedua Arnold. Dia bisa menggunakan alasan ini untuk cerai dengan Arnold, dan pergi sejauh-jauhnya. Namun semua ini tidaklah gampang, ada hati Aela yang harus dia jaga. Wanita baik itu, mengingatkan Tiara untuk terus bertahan. Begitu pun hatinya, meski pikiran ingin pergi, tetapi hati tetap ingin bertahan.
Ini terlalu susah bagi Tiara. Dia akan memikirkan cara yang lain. Untuk masalah ini, Tiara biarkan Arnold pemenangnya.
"Arnold, aku mohon, jadikan aku istri keduamu." Bianca masih terus membujuk Arnold, bahkan gadis itu menanggalkan rasa malu demi mendapatkan suami Tiara.
"Maaf Mbak, suami saya sudah menolak dua kali. Dan saya pun, enggan untuk dimadu," ucap Tiara dengan tegas. Rupanya Bianca tidak mendengarkan itu, dan sibuk membujuk Arnold dengan wajah melasnya.
Karena kesal ucapannya tidak didengar, Tiara menepis kuat tangan Bianca ketika ingin menyentuh tangan Arnold. Itu sukses membuat senyum di bibir Fan terbit, dia tidak menyangkah, ternyata Tiara bisa galak juga.
"Tolong jangan sentuh suamiku. Aku tidak rela, dari ujung kakinya sampai kepala disentuh oleh Anda!" tegas Tiara.
__ADS_1
"Memangnya kenapa? Kamu hanya orang baru Tiara, sedangkan aku temannya sejak kecil."
"Urusannya denganku apa? Yang penting sekarang aku istri sahnya, secara agama maupun negara," jawab Tiara tak mau kalah.
Dia memang paling suka yang namanya berdebat, apalagi dengan orang yang sombong seperti Bianca ini. Tiara menyunggingkan senyum seringai, tangannya beralih pada lengan Arnold, memeluknya dengan manja.
"Apa kamu menyukai temanmu ini, suamiku?" tanya Tiara sambil menatap mata Arnold.
"Tidak. Aku hanya ingin mencintai kamu saja," balas Arnold. Mengecup singkat bibir Tiara.
Ah, ingin sekali Tiara menendang Arnold hingga tersungkur. Bisa-bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ingin sekali Tiara mengusap bibirnya, tetapi takut Bianca akan curiga. Akhirnya dia hanya bisa tersenyum saja, senyum paksa.
"Arnold!" panggil Bianca dengan wajah melas.
"Fan, bawa gadis ini keluar dari rumahku. Aku sedang ingin berduaan saja dengan istriku," perintah Arnold dengan tegas.
__ADS_1
Fan mengangguk patuh, dan menarik kedua tangan Bianca meskipun gadis itu menolak dan terus meronta minta dilepaskan.