Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 28


__ADS_3

“Pacar tuan Arnold?”


Tiara masih terus menatapi foto itu, tetapi langsung dia letakan kembali setelah berpikir keras.


“Bodo amatlah, mau pacar atau istri juga pun, aku nggak peduli,” kata Tiara sembari berdiri.


Dia kembali membersihkan kamar Arnold, agar segera selesai dan bisa pergi dari sana. Bukan karena malas, dia juga capek karena tadi harus menyapu belakang rumah yang sampah daunnya memang cukup banyak.


**


Matahari mulai meninggi, sinarnya begitu terik membias ke bumi. Tiara baru saja bangun tidur, gadis itu menuju dapur untuk mengambil air minum. Baru saja akan membuka pintu kulkas, bel rumah berbunyi hingga mau tak mau dia harus mengabaikan rasa haus dan segera berlalu.


Pintu utama terbuka, terlihatlah sosok Arnold yang masih mengenakan pakaian kantor lengkap. Namun, seseorang yang berdiri di sebelah Arnold, membuat kening Tiara mengerut karena bingung siapa orang itu.


“Minggir, kami mau masuk,” ucap Arnold menyadarkan Tiara dari lamunannya. Lekas gadis itu berpindah dari depan pintu.


Matanya masih terus mengindah dua manusia berbeda jenis kelamin tadi, tentunya dengan hati bertanya-tanya. Tak biasanya Arnold pulang di jam makan siang, atau karena pria itu tak sarapan di rumah, makanya kembali. Tidak. Itu tidak alasan yang benar, biasanya juga selalu makan di kantor.


Lagi, pria itu pulang membawa seorang gadis. Cantik dan seksi, Tiara sangat iri melihat penampilan gadis itu dari ujung kaki sampai kepala. Tunggu, Tiara mulai menatap dengan saksama. Sepertinya dia pernah melihat gadis itu, tapi di mana?


Saat hatinya masih terus bertanya-tanya, dirinya dikagetkan dengan suara Arnold.


“Buatkan kami minum,” perintah pria itu.

__ADS_1


Tiara mengerjapkan mata berulang kali. “Baik, Tuan,” jawabnya dan segera berlalu.


Padahal sedikit lagi dirinya bisa mengingat gadis cantik itu, tetapi Arnold mengacaukan semuanya. Alhasil, saat membuat jus jeruk, Tiara terus mendumal karena kesal.


Setelah minuman jadi, Tiara langsung membawanya ke ruang utama. Dia meletakkan dua gelas jus di meja dan segera berlalu dari sana.


“Tunggu!” panggil Arnold. Mau tak mau, Tiara berhenti dan berbalik.


“Iya, Tuan? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Tiara dengan sopan. Demi menjaga harga dirinya di depan gadis yang memandangnya itu.


“Sepertinya, kekasihku tidak menyukai minuman ini,” ungkap Arnold. “Tolong buatkan jus yang lain.”


Apa yang pria itu katakan, kekasih? Yang benar saja. Bukankah selama ini, yang Tiara tahu dia adalah pria jomblo. Makanya selalu meminta dia untuk berpura-pura menjadi pacarnya.


“Iya, Tuan.”


Mau tak mau Tiara harus menuruti keinginan pria itu, meski hatinya masih penasaran dengan ucapan Arnold. Untuk apa mengajaknya menikah kalau dia sudah memiliki kekasih? Ah, sial. Tiara malah memikirkan itu, seharusnya dia bahagia, karena tidak terus-terusan diganggu oleh Arnold.


Tidak ada buah lagi kecuali jambu, akhirnya Tiara berinisiatif untuk membuatkan jus jambu untuk kekasih Arnold. Dia membuatnya dengan penuh keikhlasan dan rasa bahagia.


“Di depan siapa, Neng?” Mbak Yuni berdiri di samping Tiara dan menatap gadis itu.


“Itu, Mbak, pacarnya tuan Arnold.” Tiara menjawab seraya tersenyum.

__ADS_1


“Pacar?” Sangat jelas terlihat bahwa mbak Yuni sangat terkejut.


“Hmm,” jawab Tiara.


“Sejak kapan, tuan Arnold punya pacar? Terakhir kali dia membawa wanita ke sini, lima tahun lalu.”


Gerakan tangan Tiara terhenti, pandangan matanya langsung beralih ke arah mbak Yuni yang masih menampilkan wajah bingung. “Serius, Mbak?”


“Iya. Kecuali kamu.”


 **


Nah, loh, ada udang dibalik bakwan pasti.


Oh, iya guys. Mampir di karya kedua othor juga yuk. Tenang aja, pemeran wanitanya tetap kuat kok, kayak Tiara😁



 


 


 

__ADS_1


__ADS_2