Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 54


__ADS_3

Ternyata sang ibu mertua datang untuk menyampaikan tentang Bianca, Tiara hanya tersenyum menanggapi. Tidak mungkin juga dia mengaku, kalau tadi pun Arnold bertemu dengan gadis itu. Satu yang Tiara kagumi dari Aela, sosok wanita yang ternyata sangat pintar. Menyebar mata-mata untuk dirinya juga Arnold. Hampir saja Tiara membuat kesalahan, kalau tidak tahu kepintaran mertuanya.


"Kita tidak bisa biarin Bianca ganggu Arnold terus, Sayang," kata Aela dengan semangat yang menggebu.


"Tapi Mah ... Tiara yakin Mas Arnold pasti setia," jawab Tiara, mencoba menenangkan mertuanya.


"Sayang, dengar. Bianca itu teman Arnold sejak kecil, jadi tak ada salahnya jika mereka berdua memiliki rasa karena selalu bersama, dulu. Mamah hanya tidak ingin, kelakuan Bianca menyakiti kamu," jelas Aela sambil mengusap kepala Tiara lembut.


Mendapat perlakuan seperti itu, membuat hati Tiara menghangat. Dia merasakan kasih sayang sosok ibu, yang selalu dia rindukan sejak kecil. Dengan senyum mengembang, Tiara menggenggam jemari Aela dengan erat.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Mah?" tanya Tiara dengan lembut. Melihat keseriusan Aela tentang ini, Tiara tidak mungkin bisa menolak permintaan wanita itu.


"Kamu harus selalu dekat dengan Arnold, kalau bisa, ke mana pun dia pergi kamu ikut," ujar Aela. Tiara menggeleng kecil.


"Apa harus segitunya, Mah? Tiara yakin, Mas Arnold pasti mengingat batasan."

__ADS_1


"Sayang, pokoknya kamu harus ikutin apa yang Mamah bilang. Mamah sangat khawatir, Sayang. Mengertilah."


Lagi-lagi Tiara mengangguk lemah. Dia pasti akan sangat bersalah kalau sampai membuat Aela sedih, makanya menuruti semua permintaan mertuanya. Kalau saja Aela tahu, Tiara sungguh tidak ingin peduli dengan apa pun yang Arnold lakukan, pasti akan sangat kecewa.


"Kenapa Mas Arnold tidak menikah dengan Bianca saja? Bukankah mereka sahabat sejak kecil, Mah?" tanya Tiara tiba-tiba. Bukan ingin kepo, dia hanya penasaran sedikit.


"Mamah sudah sempat tawarkan itu pada Arnold, tetapi dia menolak. Bianca pun sempat menolak, mengingat gadis itu hanya ingin fokus pada kariernya," jelas Aela sambil terus menatap ke arah menantu kesayangannya.


Tiara menanggapi 'oh' saja, lalu dia mengajak Aela untuk makan bersama. Untungnya sang mertua juga belum makan, jadi mereka langsung menuju ke dapur untuk makan siang.


**


Mengingat ucapan Aela tadi siang, membuat Tiara langsung beranjak dari duduk. Dengan perlahan gadis itu menaiki tangga, berniat menghampiri Arnold di kamar. Kagum. Tiara tidak lepas menatap kamar yang begitu rapi, warna abu-abu yang mendominasi kamar ini, terlihat begitu nyaman dipandang. Dia langsung masuk, melihat sekitar ranjang yang terdapat sofa satu set beserta TV, dan barang-barang berharga lainnya.


Saat akan menyentuh bunga di meja dekat dinding, Tiara dikejutkan dengan suara Arnold. Dia langsung mundur beberapa langkah, hingga menabrak sesuatu yang keras dan ... dingin.

__ADS_1


"Ngapain di sini?" Sekali lagi Arnold bertanya. Kedua tangannya memegang bahu Tiara, lalu membalikkan badan gadis itu.


Deg


Dengan susah payah Tiara menelan ludah, saat menatap dada bidang yang begitu menggoda. Air-air yang masih mengalir di sana, semakin menambah kadar pesona pria itu. Membuat mata Tiara tak ingin lepas memandangnya.


"Anu ... apa, ya?" Tiara mendadak gugup.


"Apa?" tanya Arnold sambil menaikturunkan sebelah alisnya.


Arnold yang hanya menggunakan handuk sebagai penutup tubuh bagian bawah, semakin maju mendekati Tiara. Membuat gadis itu langsung mundur, tetapi tak bisa lagi ketika tubuhnya sudah mentok di meja. Arnold dengan gesit mengkungkung tubuh Tiara, senyum seringai tercipta di bibirnya.


"Kenapa, istriku?" bisik Arnold dengan suara lembut mengalun merdu. Sungguh, itu terdengar begitu sensual di telinga Tiara.


**

__ADS_1


Plis komen dan likenya. Othor tidak memaksa kalian untuk memberikan vote atau bunga, kopi, dan sebagainya. Othor cuma minta like dan komennya. Please 🙏


__ADS_2