
Semua Tiara lakukan demi menyenangkan hati Aela, wanita itu memiliki banyak sekali mata-mata. Kalau Tiara tidak menuruti permintaan Aela, untuk terus ikut ke mana Arnold pergi. Maka, bisa jadi Aela akan marah dan kecewa padanya. Sebab itu, dia memilih menurunkan egonya, setidaknya demi sang mertua yang sudah sangat baik padanya.
Setelah seharian berada di kantor Arnold, akhirnya mereka akan segera sampai di rumah. Tiara menyandarkan kepalanya di kepala kursi mobil, matanya mulai terpejam ketika kantuk menghampiri.
"Jangan tidur dulu, sebentar lagi akan sampai di rumah," ucap Arnold. Sukses membuat Tiara membuka matanya.
"Hmm."
Mobil memasuki halaman rumah, Fan langsung keluar dan membukakan pintu untuk sang tuan. Lekas Arnold ikut keluar dari mobil itu, tangannya terulur ke arah Tiara yang sudah hampir keluar juga. Terpaksa Tiara menerima uluran tangan sang suami demi menjaga pikiran tidak-tidak Fan, meskipun dia sangat enggan bersentuhan dengan pria menyebalkan ini.
Hampir saja Tiara berteriak karena Arnold menarik tangannya kencang hingga membuat tubuhnya terhuyung menabrak dada bidang Arnold. Bibir pria itu dia tempelkan ditelinga sang istri, mengigit cuping telinga Tiara dengan pelan.
"Pergilah ke kamarku. Sepertinya Fan akan lama di rumah ini," bisik Arnold.
Meskipun Fan asisten pribadinya, tetapi pria itu lebih takut pada sang mamah. Apa pun yang Aela katakan, Fan pasti menurutinya. Seperti memata-matai Arnold dan Tiara.
"Iya," lirih Tiara lemas.
__ADS_1
Gadis itu berlalu dari sana, membiarkan Arnold dan Fan yang masih terlibat percakapan. Tubuhnya sudah sangat lelah, butuh guyuran air untuk merilekskannya. Sampai di kamar Arnold, Tiara langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia berendam di bathtup yang beraroma mawar.
*
*
*
Gedoran pintu kamar mandi tidak membuat gadis di dalam sana, sadar dari alam bawa sadarnya. Arnold terus mengetuk bahkan menggedor, tentunya dengan perasaan khawatir. Sudah dua jam sang istri belum keluar juga dari kamar mandi, membuat perasaan khawatir semakin mendominasi hatinya.
Sedangkan sang empu, masih setia dengan posisi nyamannya. Tiara tidur sambil duduk di bathup, tampak begitu pulas dengan dengkuran halus. Namun, matanya mulai mengerjap tak kala mendengar pintu yang terus digedor. Refleks Tiara langsung sadar dan keluar dari bathup.
"Astaga ...." Dia langsung meraih handuk dan melilitkan ke tubuhnya. Beranjak untuk membuka pintu karena teriakan Arnold terdengar berulang kali.
Ceklek
"Kenapa?" tanya Tiara tanpa rasa bersalah. Bahkan gadis itu tidak sadar bahwa dia hanya menggunakan handuk sebagai penutup tubuh.
__ADS_1
Susah payah Arnold menelan ludahnya, tatapannya terus mengindai dari ujung kaki Tiara sampai kepala. Kulit gadis itu begitu mulus, membangunkan gairah Arnold yang sudah berusaha dia tahan.
"Kamu ...?" Arnold menunjuk tepat di dada Tiara, membuat gadis itu mendelik tajam.
"Ngapain nunjuk-nuniuk? Dan itu ... kenapa harus bagian sini?" Tiara semakin melotot tajam.
"Karena aku suka di bagian sana," jawab Arnold. Dia maju selangkah, mendekati Tiara.
Harap-harap cemas, Tiara langsung mundur beberapa langkah. Bahkan dia kembali masuk ke dalam kamar mandi, diikuti Arnold yang juga terus melangkah mendekatinya.
"Arnold! Jangan macam-macam, ya?" tuding Tiara sambil menunjuk wajah Arnold.
"Aku cuma mau satu macam, kok. Lagian, sudah lama juga aku menginginkan ini," terang Arnold dengan senyum seringai.
Tiara tak bisa lagi mundur, dia akan terjengkang ke dalam bathup. Dia memilih diam di tempat dengan jantung yang sudah berdetak tak karuan, napasnya memburuh ketika melihat Arnold semakin melangkah mendekatinya. Ketika Tiara akan lari, Arnold langsung menarik tubuh gadis itu dan memeluk erat.
"Kumohon, aku sudah tidak sanggup menahannya, Ti."
__ADS_1