
“Kenapa, Tuan, di sini?”
“Sekarang aku adalah suamimu. Jelas saja kalau aku masuk ke dalam kamarmu, sebab, kita juga akan tidur berdua nantinya.”
“Suami? Tidak mungkin.”
“Kamu lupa? Kita baru beberapa jam yang lalu, sah menjadi suami istri.”
"Tidak!”
Keringat dingin membasahi pelipisnya, napas pun tersengal-sengal. Tiara menarik napas dan menghembuskannya kembali. Dia menatap sekitar, barulah mengusap dada lega. Ternyata ... semua yang baru saja terjadi, hanya mimpi.
“Syukurlah.”
“Bisa-bisanya aku bermimpi, telah menikah dengan tuan Arnold. Yang benar saja,” lirih Tiara dengan kepala terus menggeleng.
Mungkin saja karena sering bertemu dengan Arnold, makanya Tiara memimpikan pria itu. Pikirnya. Tak ingin ambil pusing, Tiara kembali merebahkan diri saat setelah melihat jam. Pukul 03.00 dini hari, masih ada waktu beberapa jam untuk dia kembali menyelam ke alam mimpi.
Tak lupa pula Tiara juga mencoba untuk melupakan mimpi tadi, dan berharap tidak datang kembali karena dia sangat tidak menyukainya. Meski dikata hanya bunga tidur, tetapi semua terasa begitu nyata. Menikah dengan Arnold? Tidur sekamar dan hidup bersama pria itu? Mimpi terburuk bagi Tiara.
**
__ADS_1
Tergesa-gesa Arnold turun melalui tangga. Dia langsung menuju dapur untuk menikmati sarapan pagi, tetapi, ketika dia sampai di sana. Makanan belum terhidang, membuatnya hanya bisa menghela napas kasar.
“Apa masih lama?” tanya Arnold sambil sesekali melirik arloji di pergelangan tangannya.
“Iya, Tuan. Saya pikir Tuan tidak akan pergi ke kantor se-pagi ini,” ucap mbak Yuni tak enak hati.
“Tidak masalah,” balas Arnold. “Baiklah, saya makan di kantor saja. Lanjutkan masakmu.”
Arnold keluar dari dapur dan segera keluar melalui pintu utama. Dia segera menuju garasi untuk mengeluarkan mobil kesayangannya, lalu masuk dan mulai memacu kuda besi itu. Mendapat kabar mendadak bahwa jam meeting di majukan, membuat Arnold harus bangun dengan terburu-buru.
“Hais, aku lupa meminta Tiara untuk mengantar makanan ke kantor,” ucap Arnold di tengah-tengah aktivitas mengemudinya.
**
“Sudah berangkat, Neng,” jawab mbak Yuni tanpa mengalihkan pandangan dari wajan.
“Tumben cepat.”
“Entahlah, mungkin saja ada meeting pagi,” kata mbak Yuni. Tiara hanya mengangguk.
Gadis itu berbalik, dan berniat untuk pergi. Subuh tadi, mbak Yuni memintanya untuk membereskan kamar Arnold bila pria itu sudah pergi ke kantor. Jadi, gadis itu kini ingin menjalankan tugasnya. Meskipun malas, tetapi Tiara mencoba untuk ikhlas.
__ADS_1
“Huff. Aku berharap kamarnya tidak kotor,” lirih Tiara dengan lesu.
Siapa tahu kan Arnold yang meminta mbak Yuni untuk menyuruhnya membersihkan kamar pria itu. Dengan dalih ingin mengerjai, bisa saja.
Saat Tiara masuk ke dalam kamar, dia langsung ternganga. Dugaannya salah, kamar ini justru sangat bersih. Kasur dan bantal sudah tersusun rapi, begitu pun gorden-gorden. Mungkin hanya tinggal lantai yang butuh di sapu.
“Rajin juga ni orang,” celetuk Tiara sambil menatap ke seluruh penjuru ruangan.
Kamar yang cukup besar, dengan ranjang khusus dua orang, serta satu meja kecil di dekat ranjang. Satu lemari pakaian besar, satu set sofa beserta tv dan juga meja khusus untuk bekerja. Ada juga lemari kecil tempat menyimpan barang-barang.
Saat akan mengambil kemoceng di meja dekat ranjang, tak sengaja Tiara menangkap sebuah foto. Tangannya ragu untuk mengambil selembar yang tergeletak di kasur itu, tetapi, dia juga penasaran.
“Mungkin diambil nggak apa, kali, ya?” tanyanya pada diri sendiri.
Saat tangannya sudah mengambil foto itu, Tiara langsung membalikkan untuk melihat gambarnya. Dahinya mengerut dengan alis saling bertaut. Seorang gadis cantik yang Tiara yakini mungkin saja seorang model. Dilihat dari gaya berfotonya.
“Pacar tuan Arnold?”
__ADS_1