
Merasa haus, Arnold terbangun dari tidurnya. Pria itu berjalan ke arah dispenser yang berada di sudut kamar, menuang air dan meneguk hingga tandas. Arnold merasa tenggorokannya sudah tak kering lagi, dia berniat untuk tidur kembali. Namun, tatapannya terpaku pada gadis yang tengah meringkuk di atas sofa.
"Demi gengsi, rela tidur tanpa bantal dan selimut," ucap Arnold.
Meskipun belum mencintai Tiara, tetapi dia tak tega melihat gadis itu kedinginan. Apalagi dia tahu, tidur di sofa bukanlah hal yang sangat nyaman.
Tanpa pikir panjang lagi, Arnold langsung menggendong Tiara untuk membawanya ke ranjang. Dia rebahkan tubuh Tiara dengan perlahan, lalu menyelimuti gadis itu. Arnold juga merebahkan tubuhnya di samping Tiara, memberi bantal guling sebagai pembatas di tengah-tengahnya.
**
Sinar matahari menerobos masuk melalui cela-cela gorden. Menelisik mata gadis yang tengah tertidur pulas. Tiara mengucek matanya perlahan sembari bangun dari tidur. Gadis itu merentangkan kedua tangannya, menatap ke arah jendela yang sudah menampakkan cahaya di luar.
Mata Tiara mengerjap berulang kali, lalu menatap ke arah selimut yang masih menutupi sebagian tubuhnya. Lalu, kini pandangannya beralih ke samping. Terlihat seorang pria tengah tertidur dengan tangan sebagai bantal, tampak begitu pulas.
"Kok, aku bisa tidur di sini?" tanya Tiara pada dirinya sendiri. Tatapan matanya tak lepas dari wajah damai Arnold.
__ADS_1
"Mungkin aku ngelindur dan berjalan ke sini saat sedang tertidur," sambung Tiara.
Dia segera turun dari ranjang, lalu merapikan tempat yang dia tiduri tadi. Sebelum Arnold bangun, Tiara sudah harus pergi dari ranjang. Ya, gadis itu hanya tak ingin Arnold berpikiran lain, bahwa dia sengaja tertidur di sana. Tidak! Sungguh dia sangat malu.
Tiara memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Tiara kembali duduk di sofa. Tak lupa juga dia membuka gorden kamar agar Arnold segera bangun.
Ketukan pada pintu kamar hotel, membuat Tiara langsung bangkit dan berjalan ke arah pintu. Terlihat sang ibu mertua tengah berdiri di depannya dengan senyuman mengembang.
"Wah, menantu Mamah sudah bangun," ucap Aela ramah.
"Iya, Mah," jawab Tiara. Tidak lupa membubuhkan senyuman manisnya.
"Kamu keramas, ya?" tanya Aela menahan senyum.
Refleks Tiara langsung memegang rambutnya. Dia memang keramas karena merasa sangat berat di kepala, dan naasnya dia lupa mengerikan rambutnya itu.
__ADS_1
"Iya, Mah." Tiara menjawab seadanya, karena memang gadis itu tidak memiliki pemikiran lain dari pertanyaan sang mertua.
"Ya, sudah, kalau gitu mamah kembali ke kamar. Oh, ya, jangan lupa bangunkan suamimu juga. Suruh dia keramas sama sepertimu," ujar Aela sembari berjalan meninggalkan Tiara. Wanita itu terus saja tersenyum.
Mendengar permintaan Aela, Tiara hanya bisa menghembuskan napas kasar. Dia berbalik dan menutup pintu kamar kembali. Kini, Tiara bingung harus membangunkan Arnold sesuai permintaan Aela, atau membiarkan pria itu tidur saja. Merasa berdosa harus mengabaikan mertuanya lagi, Tiara berniat untuk mendekati Arnold dan berusaha membangunkan pria itu.
"Arnold, bangun," ucap Tiara sembari menarik-narik selimut yang Arnold pakai.
Tidak ada pergerakan dari pria itu. Tiara berusaha kembali, kali ini menggoyangkan kedua bahu Arnold dengan sedikit kencang. Hingga akhirnya sang empu membuka mata dan langsung duduk.
"Ada apa?" tanya Arnold dengan suara khas orang baru bangun tidur.
"Cepat bangun dan jangan lupa bersihkan dirimu. Oh, ya, jangan lupa keramas juga," kata Tiara seraya berbalik.
"Kenapa harus keramas?"
__ADS_1
"Sudah, ikuti aja napa, sih. Pake protes segala."
Arnold terdiam, meskipun dia bingung. Namun, detik berikutnya dia mengerti. Arnold menggeleng pelan dengan senyum kecil, sambil berlalu masuk ke dalam kamar mandi.