
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Kini Tiara tengah duduk di depan cermin kamarnya, menatap pantulan wajahnya yang sudah dipoles make up tipis. Untuk ijab kabul, mereka memang memilih rumah sang paman saja. Sedangkan resepsi, barulah di hotel. Ribet memang, tetapi keduanya sanggup.
Sambil menunggu ijab kabul selesai, Tiara terus menerus membuang napas dengan kasar. Meskipun pernikahan ini tak diharapkan, tetap saja, dia gugup. Jantungnya berasa akan melompat, karena terlalu gugup dengan keadaan.
Tiba-tiba, seorang wanita masuk ke dalam kamarnya. Tiara tidak tahu siapa itu, tetapi dia tetap menurut ketika diajak untuk keluar. Semakin berkurangnya anak tangga yang dia lalui, jantung Tiara semakin tak bisa diajak kompromi. Membuat keringat dingin mulai terlihat dipelipisnya.
Ini benar-benar mendebarkan.
Gemuruh tepuk tangan, terdengar ketika dia sampai di tangga paling terakhir. Banyak pujian yang Tiara dengar, dari mulut-mulut para saksi yang berada di sana. Gadis itu diminta duduk di dekat Arnold, saling berhadapan. Jujur, meski ini bukan pertama kalinya, tetap saja, Tiara merasa sangat gemetar.
"Tanda tangani buku nikah terlebih dahulu," pinta penghulu.
Mereka menurut, bergantian Arnold dan Tiara menandatangani buku nikah mereka. Setelah itu, keduanya diminta berhadapan kembali.
"Sekarang, pengantin perempuan silakan mencium punggung tangan suaminya." Penghulu kembali membuka suara.
Tanpa menunggu perintah untuk kedua kalinya, Tiara langsung meraih tangan Arnold dan mengecup dengan takzim.
"Sang suami, cium kening istrinya."
__ADS_1
Arnold meraih kepala Tiara, lalu mendaratkan kecupan singkat di kening gadis itu.
"Nggak usah berharap lebih," bisik Arnold dengan tatapan mengejek.
Tiara melotot. "Siapa juga! Dasar kepedean," balas gadis itu.
Lalu keduanya menghampiri orang tua Arnold, beserta orang tau pura-pura Tiara. Mereka mengecup punggung tangan orang tua dengan takzim, yang dibalas dengan doa-doa baik.
Selesai acara ijab kabul, mereka diberi waktu istirahat sampai sore. Barulah malamnya akan pergi ke hotel, untuk melangsungkan resepsi di sana. Arnold sudah masuk ke dalam kamar Tiara, memilih berbaring di ranjang gadis itu. Sedangkan sang pemilik kamar, masih menekuni aktivitas menghapus make up-nya.
"Kenapa harus ada resepsi, sih? Pasti sangat melelahkan," gumam Tiara yang masih bisa didengar oleh Arnold.
"Dasar tukang pamer," cemooh Tiara.
"Biarin. Kamu punya, nggak?" tanya Arnold sambil menaik turunkan alisnya.
"Ngapain punya harta banyak, kalau hidup tak bahagia," sahut gadis itu. Menatap wajah Arnold dari kaca yang langsung berhadapan dengan ranjang.
Bukannya menjawab, Arnold malah tertawa. Pria itu memilih memejamkan mata, mengabaikan Tiara yang sudah memasang wajah kesal.
__ADS_1
"Benar, kan? Kamu nggak bahagia?" tebak Tiara. Membuat Arnold mau tak mau membuka matanya.
"Malah aku bahagia banget, punya banyak harta," celetuk pria itu.
"Halah."
"Kenapa? Iri, ya?" Arnold semakin menggoda Tiara. Hingga membuat gadis itu langsung membalikkan badan, demi melihat wajah Arnold yang datar, tetapi sukses membuat dia kesal parah.
"Dengar ini, ya. Kenapa juga aku harus iri? Sebab, sekarang aku sudah menjadi istrimu. Jadi, hartamu juga hartaku," ucap Tiara menekan setiap katanya.
"Hartamu, harta siapa?"
"Hartaku ya, hartaku."
"Cih, paman sama keponakan sama saja!"
"Suruh siapa pilih aku jadi istrimu. Kapok!" Tiara tersenyum puas. Dia kembali membalikkan badan menghadap kaca, untuk melanjutkan aktivitasnya.
**
__ADS_1
Perempuan selalu menang! Wajib ini.