
“Apakah Tuan pikir, menikah itu gampang?”
Sekarang ini Tiara dan Arnold tengah bersama di ruang utama. Keduanya sama-sama duduk di sofa. Sedangkan Area, gadis itu telah pergi setelah Arnold memutuskannya.
“Tidak juga,” jawab Arnold santai. Mampu membangkitkan emosi Tiara kembali.
Berbicara dengan Arnold memang harus memiliki kesabaran yang penuh, sebab pria itu sangat menjengkelkan. Setiap kalimat yang terucap dari mulutnya, bisa membangunkan amarah dalam diri Tiara.
“Kalau begitu, stop mengajak aku menikah karena aku tidak menginginkannya!” tekan Tiara dengan wajah kemerahan menahan amarah.
“Mamahku sudah sangat berharap. Apakah kau ingin membuatnya sedih?” Arnold bertanya sembari menatap Tiara yang duduk di sampingnya.
Ah, sial. Tiara tidak bisa berpikir jernih. Satu sisi dia ingin terhindar dari pria ini, tetapi di sisi lain, ibu Arnold sangat baik padanya. Tiara menghela napas pelan, sambil terus berpikir apa yang akan dilakukan sekarang ini.
“Kita sudah terlalu jauh membohongi mamah, jadi sebaiknya lanjutkan saja pembohongan itu,” ucap Arnold.
“Gila! Yang ada kita semakin menyakiti hati mamah!” pekik Tiara tak terima.
“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Arnold.
Tiara diam. Jujur sekarang ini dia sangat bingung. Masalah dengan pamannya saja masih membuat beban pikirannya menumpuk, kini harus ditambah dengan drama bohongan itu. Sungguh dia ingin lari saja dari keadaan, tetapi tidak bisa karena masih bergantung pada Arnold.
__ADS_1
“Tidak ada yang harus kita lakukan,” jawab Tiara mantap.
“Kamu lupa, kita sudah berjanji akan melangsung tunangan. Dan mamah sudah menyiapkan semuanya.” Arnold membuka suara kembali.
Dalam kebisuan Tiara merasa tersindir, dia teringat akan janjinya pada Tuhan. Menjadikan siapa pun yang menolongnya waktu itu, sebagai suami jika dia lelaki. Kini, semua seperti bumerang untuk dirinya sendiri.
“Baiklah, aku akan menerima lamaran itu, jika Tuan bisa memintaku pada paman,” kata Tiara sambil menatap Arnold dengan saksama.
Dia berharap Arnold tidak akan sanggup, lagi pun pamannya tidak mungkin gampang menyerah. Tiara tersenyum kecil, sepertinya cara ini akan membantunya untuk membatalkan niat dan keinginan orang tua Arnold, karena pamannya tak memberi izin. Ya, semoga saja seperti itu.
“Baik, aku setuju. Itu sangat gampang,” jawab Arnold dengan mantap tanpa beban.
“Caranya?”
Sebenarnya Tiara ingin sekarang, tetapi melihat jam terus berputar dan hari semakin malam. Akhirnya dia mengurungkan niat dan meminta Arnold datang besok saja. Melihat pria itu tak gentar sedikit pun, Tiara agak takut Arnold akan berhasil.
Sebelum Arnold pergi ke kamarnya, Tiara menghadang pria itu untuk mencari tahu sesuatu.
“Dengan cara apa Tuan akan memintaku pada paman?” Tiara langsung to the poin karena tak ingin terlalu lama dan berbelit-belit.
“Apa pun.”
__ADS_1
“Contohnya?”
“Biar aku saja yang tau,” ketus Arnold karena merasa kesal Tiara bertanya terus.
Merasa gagal mengorek informasi, Tiara berbalik dan pergi dari hadapan Arnold. Gadis itu berjalan sembari mengentak-entakkan kakinya di lantai rumah. Sedangkan Arnold yang melihat itu, hanya mendengkus kasar dan berlalu dari sana.
Memang tidak gampang melakukan ini semua, kalau saja tidak ada desakan dari sang ibu, tidak mungkin Arnold harus lelah seperti ini. Mencari gadis untuk bekerja sama dan membuat Tiara cemburu, lalu memastikan gadis itu untuk menikah dengannya. Ah, ide gila mamahnya memang sangat ampuh. Mamahnya terlalu takut jika dia dan Tiara tidak berjodoh. Padahal memang begitu, dia dan Tiara hanya berdrama sebagai pasangan kekasih di depan mamahnya.
Sekarang yang harus Arnold pikirkan adalah; mendapatkan kepercayaan paman Tiara agar mereka bisa segera menikah. Namun, justru dia belum percaya betul dengan hatinya. Meski jantungnya selalu berdebar saat bersama Tiara, belum tentu dia juga jatuh cinta.
“Huff. Semoga saja paman Tiara akan tunduk ketika aku mengiminginya uang.”
**
Uang memang segalanya.
__ADS_1