
“Aku tidak suka, pacarku diperlakukan seperti itu! Lepaskan tangan kotormu dari kulit bersih pacarku!” tegas Arnold seraya menyentak kuat tangan pria paruh baya, paman Tiara.
Suasana di sana mendadak menegangkan, Tiara yang berada di tengah-tengah pria berbeda generasi itu, mulai waswas. Dia takut terjadi baku hantam, atau sejenisnya. Pahamlah, pamannya sangat jago bela diri.
“Maaf, Pak Arnold yang terhormat. Tapi, dia adalah keponakanku, dan aku ingin membawanya pulang,” ucap paman Tiara dengan nada rendah.
“Tapi saya pacarnya!” sahut Arnold tak mau kalah.
“Tetap saja, saya lebih berhak atas dia!”
Tiara pikir, mereka akan gulat atau bermain tinju di sana. Ternyata ... adu mulut yang keduanya memang terlihat sangat jago. Dia merasa bingung sekarang, harus memisahkan, tetapi telinganya juga panas mendengar celotehan saling mencemooh itu.
“Saya yang berhak!” tekan Arnold seraya menarik tangan sebelah kiri Tiara.
“Harusnya Anda sadar, saya pamannya. Maka, saya yang lebih berhak!” Sang paman juga tak mau kalah, ikut menarik tangan Tiara dengan kencang.
Diperlakukan seperti itu, membuatnya pusing. Tiara terus ditarik oleh dua pria ini, sampai-sampai tangannya terasa akan copot dari tempatnya.
“Paman, Tuan, kumohon stop!” pinta Tiara.
Keduanya seolah menulikan pendengaran, terus saja menarik-narik Tiara untuk ikut dengan mereka. Arnold yang tak mau kalah, berusaha sekuat tenaga agar Tiara dia yang mendapatkannya. Begitu pun sebaliknya, sang paman juga gencar menarik keponakannya, agar bisa dia bawa pulang ke rumah.
__ADS_1
“Kamu harus pulang sama Paman. Titik tidak pakai koma!” tegas sang paman.
“Enak sekali! Dia adalah pacarku!”
“Tapi aku pamannya! Sopanlah sedikit padaku!”
“Tidak! Tiara, ayo ikut saja denganku!”
“Stop! Berhenti kalian!” teriak Tiara kencang sembari menarik kedua tangannya dengan keras.
Rasa-rasanya tulang tangannya sangat sakit. Tiara terus mengusap-usap pergelangan tangan, tak lupa pula mengecek tangannya.
“Aku tidak akan ikut dengan siapa pun,” ucap Tiara seraya menekan setiap kata yang dia ucapkan.
Mendengar itu, Arnold membulatkan mata. Dia tak percaya dengan Tiara, yang benar saja, ternyata gadis itu benar-benar menganggapnya kejam. Padahal, selama ini, dia sudah berusaha lembut dan penuh kasih sayang.
“Setidaknya kita adalah pasangan yang akan menikah. Jadi, lebih baik kamu ikut saja denganku,” tukas Arnold. Masih berusaha untuk membujuk Tiara agar mau diajak pulang dengannya.
“Tidak! Keponakanku sudah kujodohkan dengan pria, yang lebih baik dari kamu,” sela sang paman.
“Tapi aku tahu, Tiara hanya cinta denganku. Wahai Paman tampan yang terhormat.”
__ADS_1
Ah, kepala Tiara rasanya ingin pecah. Celotehan mereka tak berhenti, meski dia sudah meminta untuk berhenti. Tiara rasa, keduanya memang jago bicara.
“Paman, kumohon berubahlah. Aku janji akan mengganti semua balas budiku, tetapi, kumohon jangan jual aku,” pinta Tiara dengan memohon.
“Memangnya kamu mau ganti pakai apa?” tanya sang paman dengan alis terangkat.
“Uang. Aku pasti akan mencari uang untuk menggantinya,” jawab Tiara.
Sang paman hanya tertawa menanggapi ucapan keponakannya itu, yang benar saja, mau kerja sebagai apa Tiara bisa mendapatkan uang banyak. Sungguh Giman—sang paman tidak habis pikir, gadis itu memiliki keberanian untuk memilih jalan ini.
“Jangan terlalu bermimpi, Tiara. Sadarlah, kamu hanya tamatan SMA, pekerjaan apa yang akan kamu dapatkan? Terlebih lagi, kamu tidak jago di semua bidang. Mungkin, hanya dengan jadi pelacur, barulah kamu mendapatkan uang,” hina Giman sambil tertawa sumbar.
Arnold geram, kedua tangannya sudah terkepal dan siap meninju wajah tanpa dosa itu. Namun, Tiara segera menghentikannya. Dia tak ingin, semua orang tahu apa yang Arnold lakukan, dan men-cap pria itu sebagai pemimpin tidak benar.
“Biarkan saja,” bisik Tiara pada Arnold.
“Kenapa, Tiara? Kamu takut? Ingat ini, harga diri seorang wanita itu sangat tinggi. Jangan mau direndahkan, oleh pria brengsek seperti dia!” tekan Arnold dengan penuh amarah.
**
Hadeh, Bang. Sok jadi pahlawan kesiangan.
__ADS_1