Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 62


__ADS_3

Hari ini Tiara tidak ikut suaminya ke kantor. Semua disebabkan karena aktivitas malam mereka, Tiara masih begitu lelah dan mengantuk. Dia berniat istirahat seharian di rumah. Setelah mengantar Arnold ke depan dan memastikan pria itu pergi dulu, Tiara baru masuk ke dalam rumah untuk sarapan.


Selesai sarapan, Tiara membantu membereskan meja makan. Dia beranjak setelah dapur beres, berniat untuk mencuci bajunya dan Arnold. Selama ini Tiara memang mencuci bajunya sendiri, dia tidak mau orang lain yang mencucinya karena tidak biasa. Begitu pun baju Arnold, dia semua yang menghandle.


🌹🌹


Arnold sampai di kantor dan langsung menuju ruangannya. Sepanjang jalan bibirnya tidak pernah menghilangkan senyum manis. Sosok yang biasanya hanya mengabaikan sapaan para karyawan, kini membalas dengan ramah dan penuh akan senyuman. Dan itu, sukses membuat seisi kantor heran.


“Tumben banget bos begitu?” tanya salah satu karyawan yang berjalan di lobi bersama temannya.


“Entahlah. Mungkin baru mendapat keajaiban,” celetuk satunya.


Lalu keduanya sama-sama tertawa, apalagi mengingat wajah ramah Arnold tadi. Sungguh membuat mereka bingung.


Bukan hanya para karyawan, Fan pun juga dibuat bingung dengan sikap Arnold. Pria dingin nan datar itu, kini berubah lemah lembut. Ketika dia melakukan kesalahan sedikit, Arnold tak marah seperti biasa. Justru pria itu meminta Fan untuk banyak-banyak istirahat.


“Maaf, Tuan.” Fan membuka suara karena tidak tahan dengan rasa bingungnya.


“Iya, Fan, ada apa?” tanya Arnold ramah sambil mengalihkan pandangannya dari laptop.


“Apa, Tuan, baru saja mendapat harta warisan? Kenapa sangat ramah hari ini?” celetuk Fan. Selanjutnya dia menutup mulut karena merasa perkataannya sangat salah.


Bukannya menjawab, Arnold malah tersenyum lalu disusul dengan tawa kecil. Pria itu menutup laptopnya terlebih dahulu, barulah akan menjawab pertanyaan Fan yang begitu menggelikan baginya.


“Tidak ada harta warisan, orang tuaku juga masih hidup semua. Ada-ada saja kamu, Fan,” jawab Arnold masih terus tertawa kecil.


Nah, Fan malah semakin bingung. Ingin melayangkan pertanyaan kembali, tetapi dia urungkan karena takut membuat Arnold marah. Jadi, Fan memilih untuk undur diri saja dan kembali ke ruangannya. Namun, langkahnya tertahan oleh ucapan Arnold.


“Fan, tolong carikan bunga yang cantik untuk istriku. Bila perlu, sekalian suruh penjual itu menuliskan surat di bunganya,” ucap Arnold.

__ADS_1


“Bunga?” Fan bertanya dengan dahi berkerut.


“Iya, bunga. Kenapa? Apa ada yang salah jika seorang suami ingin memberi istrinya bunga?”


“Ah, tidak, Tuan. Malah itu sangat baik untuk hubungan kalian,” ujar Fan.


“Hmm. Tolong carikan segera,” pinta Arnold.


“Baik, Tuan. Saya akan langsung pergi ke toko bunga.”


Se-peninggalan Fan, Arnold tertawa kecil. Apalagi ketika mengingat kejadian malam tadi, sungguh pria itu tak ingin melupakan memori terbaik seumur hidupnya. Apa ini yang namanya cinta? Entah lah, Arnold tidak tahu. Yang jelas, dia selalu merasa bahagia bila berada di dekat Tiara, justru akan merasa rindu bila wanita itu tak ada.


🌹🌹


Tiara berkutat dengan alat dapur bersama mbak Yuni, menyajikan makanan terbaik mereka. Tawa bahagia terdengar sesekali, begitu pun candaan yang terlontar dari bibir satu sama lain. Meski tidak memiliki teman, tetapi mbak Yuni cukup membuat hari-harinya bahagia. Berbeda dengan pelayan lain—yang usianya lebih muda dari dia. Selalu menyindir Tiara, menyalahkan gadis itu tentang pernikahannya dengan Arnold. Namun, dia memilih acuh, toh, semuanya sudah menjadi bubur.


“Sedang apa, Istriku?” Arnold mengecup singkat leher jenjang Tiara.


“Masak. Makanya kamu minggir dulu, nanti gosong ini,” kata Tiara sambil berusaha melepas pelukan Arnold.


“Gini aja dulu, nggak bakalan gosong, kok,” sahut pria itu.


Mau tak mau Tiara menurut saja, dia segera memindahkan sayur ke mangkuk ketika sudah matang. Ke mana pun Tiara pergi, Arnold selalu mengikuti. Tidak melepaskan pelukan di pinggang wanita itu.


“Kamu kenapa, sih? Dari tadi nempel terus.”


“Nggak apa, kangen aja,” jawab Arnold.


“Sana ke kamar. Mandi. Nanti aku nyusul buat siapin baju,” suruh Tiara, tetapi Arnold tak mengindahkan.

__ADS_1


Lima menit kemudian, Arnold barulah melepaskan pelukannya. Tiara bisa bernapas lega, dia langsung menuju meja makan untuk menaruh dua gelas susu yang baru dia buat. Saat berbalik, Tiara dibuat kaget dengan buket bunga di depan matanya. Di sana, Arnold tersenyum manis sambil menyodorkan buket bunga mawar pada Tiara.


Dia mematung di tempat, dirinya gamang untuk mengambil buket itu. Bukan karena tak suka melainkan bingung. Apakah perlakuan ini termasuk akting yang mereka jalankan? Atau ... karena dirinya sudah memberikan hak pria itu, makanya Arnold memberi dia bunga?


“Maaf, aku pamit ke kamar lebih dulu.” Tiara langsung pergi, meninggalkan Arnol yang masih setia di tempat. Dengan kedua tangan yang terus memegang buket.


Tatapan pria itu melemah, kepalanya tertunduk kecil. Bayangan wajah bahagia terlintas berulang kali ketika dia masih berada di kantor. Betapa bahagianya wanita itu mendapatkan bunga ini, nyatanya berbeda, justru Tiara terlihat bingung dengan perbuatannya.


“Aku cuma mau ngucapin terima kasih, Ti. Karena sudah hadir di hidupku, meski pertemuan yang tak begitu baik.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2