
Hari-hari Tiara dia lalui dengan bosan di rumah, sesekali gadis itu memilih duduk di tepi kolam renang. Menikmati udara segar pagi sampai siang hari, ketika matahari terik, barulah dia kembali masuk ke dalam rumah. Namun, siang ini dia ingin sekali pergi keluar. Bayangan makanan di kafe melintas dalam pikiran, menggunggah selera meski hanya bayangan saja.
Dengan keinginan yang menggebu, Tiara berniat untuk pergi jalan-jalan. Saat sampai di gerbang, Tiara mendapat tawaran untuk diantar sopir, tetapi wanita itu menolak. Meskipun Arnold sudah meminta dia untuk pergi bersama sopir, tetapi Tiara tidak ingin. Terlalu berlebihan untuk wanita tangguh seperti dia.
Taksi online yang dia pesan, telah tiba. Tiara bergegas naik dan meminta sopir untuk mengantarnya ke kafe yang berada di dekat perusahaan Arnold. Entah mengapa makanan di sana menjadi favoritnya karena rasa yang benar-benar membuat melayang. Saat sampai di sana, kafe sudah terlihat ramai. Tiara memilih duduk di kursi luar saja, sambil menikmati padatnya kota siang ini.
"Satu jus alpukat dan desert telah tiba," ucap seorang pelayan sambil meletakkan pesanan Tiara.
"Terima kasih." Tiara memberikan senyuman terbaiknya.
Setelah kepergian pelayan itu, Tiara menikmati jus alpukat yang baru saja datang. Rasa segar langsung mengaliri kerongkongannya yang semula kering.
"Wah, tidak disengaja bertemu di sini." Seseorang langsung duduk di kursi depan Tiara, hanya berpenghalang meja saja. Dia adalah Bianca, gadis itu tersenyum seringai ke arah Tiara.
Dengan malas Tiara menjawab, "iya. Silakan duduk, Mbak."
"Terima kasih sekali, Ti," balas Bianca dengan senyum sok manisnya.
__ADS_1
Kalau saja tahu akan bertemu dengan Bianca, sudah pasti Tiara tidak akan pergi keluar rumah. Bahkan minuman di depan matanya, sudah tidak menggugah seperti awal dia datang.
"Tumben sekali kamu ke sini, lagi ngapain, Ti?" tanya Bianca.
"Cuma mau menikmati minuman ini," jawab Tiara sambil menunjuk minumannya.
"Oh. Kirain ikut Arnold ke kantor."
Ikut juga bukan urusanmu kali, nenek lampir!
"Mbak sendiri, sedang apa di sini?" tanya Tiara balik.
"Sama seperti kamu."
"Oh." Tiara menanggapi sekenanya saja.
Bianca menatap Tiara dengan senyum yang terus mengembang, tentunya senyum sinis. Gadis itu sedikit mengubah posisi duduk.
__ADS_1
"Kamu tahu tidak, aku dan Arnold adalah dua orang yang saling mencintai dulu?" Entah sengaja atau tidak, Bianca menyampaikan itu.
Tiara yang baru mau memasukkan makanan ke dalam mulut, urung karena mendengar ucapan Bianca. "Oh, iya, kah?"
"Hemm. Kami adalah dua orang yang saling mencintai," ulang Bianca.
"Sayangnya itu dulu. Karena sekarang, Mas Arnold hanya mencintai aku saja," sahut Tiara dengan senyuman tak kalah sinis.
"Kamu yakin kalau Arnold mencintai kamu?"
Tiara diam. Sebenarnya dia juga tidak bisa memastikan Arnold sudah mencintainya atau belum. Pria itu tidak pernah mengakui, hanya saja sikapnya yang membuat Tiara yakin. Masalah benar atau salah, biarlah menjadi urusan belakang. Sekarang yang Tiara perlu lakukan adalah, membungkam muluk nenek lampir di depannya ini.
"Yakin. Apalagi setelah yang dilakukan mas Arnold padaku, itu menunjukkan kalau dia mencintai aku," kata Tiara dengan mantap.
"Tapi aku dan Arnold masih saling mencin--"
"Sudahlah, Mbak. Itu dulu, sekarang aku percaya pada suamiku. Kalau dia hanya mencintai aku, istri sahnya."
__ADS_1