
Drama tidak bisa turun dari pohon akhirnya selesai. Arnold bisa kembali turun ke bawah dengan menggunakan tangga yang Tiara pinjam. Sekarang ini, Tiara, Arnold dan bocah perempuan tadi tengah menikmati es cendol di depan kompleks.
Masih menjadi pertanyaan dalam benak Tiara, dari mana Arnold tahu bahwa dia pergi untuk berkeliling. Ah, mungkin saja pelayan lain yang memberi tahu, atau satpam rumah. Pikir Tiara.
“Makasih ya, Om. Udah mau ambilin balon aku,” ucap bocah perempuan yang duduk di sebelah Tiara.
“Emm, iya,” balas Arnold singkat. Dia masih trauma dengan kejadian tak bisa turun dari pohon tadi.
“Maaf, ya, Sayang. Omnya lagi sakit gigi,” kata Tiara sambil melirik ke arah majikannya itu.
Arnold hanya melirik saja, enggan untuk membalas ucapan Tiara. Tangannya meraih gelas berisi cendol, dan menyesap isinya.
“Ouh, Omnya sakit.” Bocah perempuan tadi menganggukkan kepala saja.
Sinar matahari tak lagi terang seperti tadi. Tiara melirik ke arah layar ponselnya, seketika matanya melotot ketika melihat jam yang tertera. Sudah pukul 16.00 sore. Lekas dia beranjak dari duduk, lalu meminta bocah perempuan itu untuk ikut berdiri juga.
“Kita pulang ya, soalnya udah sore,” ajak Tiara.
“Ayo, Om, kita pulang,” ajak Ziva sembari menarik tangan Arnold.
__ADS_1
Pria yang sejak tadi hanya melamun, tersadar. Arnold menatap ke arah bocah bernama Ziva itu, dengan dahi berkerut.
“Ada apa?” tanya Arnold.
“Pulang, Tuan. Ya ampun, makanya jangan melamun terus,” omel Tiara sembari membayar es cendol mereka.
Setelah menerima kembalian, Tiara menggandeng tangan Ziva. Dua perempuan itu berjalan meninggalkan Arnold yang masih saja duduk di tempat, tak berniat untuk bangun.
Menatap dengan malas, Arnold mendengkus kesal saat melihat Tiara sudah jauh. Gegas dia berdiri, lalu berlari mengejar dua perempuan tadi.
“Tunggu! Kamu tidak tahu peraturan, ya? Seharusnya, majikan yang berjalan duluan!” ucap Arnold dengan nada ketus. Menyejajarkan langkahnya dengan Tiara.
“Idih, bukannya tadi aku udah ngajakin. Tuan saja yang sok cuek,” jawab Tiara tak kalah ketus.
Mendengar itu, Tiara hanya bisa mendumal dalam hati. Baru kerja beberapa hari saja, dia sudah muak. Bagaimana seterusnya? Ah, mungkin dia akan mati berdiri. Langkah kaki Tiara semakin cepat, begitu pun Ziva yang masih digandeng.
“Emm, rumah Ziva di mana?” tanya Tiara, menghentikan langkahnya.
“Di sana, Tante. Dekat rumah paling besar,” jawab Ziva pelan.
__ADS_1
Tiara diam. Dia tahu di mana rumah itu, beruntungnya rumah Ziva berdekatan dengan rumah Arnold. Jadi, dia tak perlu jauh lagi untuk mengantar. Lagian, siapa juga yang tak tahu rumah paling besar di sini. Hanya milik majikannya itu saja, tidak ada yang lain.
Sebenarnya Tiara bingung, kenapa anak sekecil Ziva dibiarkan bermain sendiri. Bukan apa, dia hanya takut penculikan. Tiara tidak bisa membayangkan, kalau saja tadi dia tak bertemu Ziva. Entah apa yang akan terjadi dengan bocah itu.
“Ziva kenapa main sendiri? Mamah, di mana?” Tiara kembali membuka suara, lalu menoleh untuk menatap Ziva.
“Mamah kerja, Tante.” Ziva tertunduk membuat Tiara bingung.
Tiara tak lagi bertanya, dia menatap Ziva yang semakin menunduk. Tiba-tiba bahu bocah perempuan itu bergetar, membuat Tiara panik.
“Kok, nangis, Sayang?” Tiara mengusap air mata yang meleleh dari kedua sudut mata Ziva.
“Z-ziva cuma kasihan sama Mamah. Harus kerja untuk, Ziva,” ucap Ziva sesenggukan.
Tanpa menunggu lama lagi, Tiara langsung memeluk Ziva. Dia mengusap punggung gadis kecil itu dengan sayang. Ah, Tiara selalu saja lemah jika menyangkut anak-anak.
**
__ADS_1
Maaf baru up dan sedikit pula. Saya lagi kurang enak badan, jadi susah buat mikir.