
Arnold dan Tiara mengantar kepergian kedua orang tua Arnold. Sedangkan mereka masih akan menginap satu malam lagi di hotel ini. Setelah mobil yang membawa orang tuanya pergi, Arnold langsung mengalihkan pandangannya pada Tiara. Gadis itu pura-pura tidak melihat dan sibuk mengamati halaman hotel.
"Ayo masuk," ajak Arnold seraya menatap Tiara.
"Hmm, iya," balas gadis itu. Dia berjalan di belakang Arnold dengan langkah pelan.
Sesampainya di kamar, Tiara langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa kamar. Setelah seharian berada di mal, rasanya tubuh gadis itu remuk redam. Tiara merentangkan tangan, sambil sesekali menghembuskan napas lelah.
"Kentara tidak pernah pergi ke mal," ejek Arnold. Tapi tatapan pria itu masih dingin dan datar.
Tiara mengabaikan Arnold dan memilih membaringkan tubuh di sofa. Sangat tidak banget kalau dia harus baringan di ranjang, sedangkan di sana ada Arnold yang tengah sibuk dengan ponsel pintarnya.
Jemari Tiara lihai menggeser layar ponsel yang dia genggam, menyelami dunia maya. Ternyata tidak enak bila kita tak mempunyai teman, contohnya Tiara. Dia jadi bingung, karena kontak ponselnya hanya diisi oleh nomor mertua, paman dan suami saja. Jadi tak ada hiburan mengirim pesan dengan teman.
"Arnold," panggil Tiara.
"Tidak sopan!" Pria yang kini meletakan ponsel di meja samping ranjang, menatap tajam ke arah Tiara.
"Hah? Tidak sopannya di bagian mana?" tanya Tiara bingung. Dahinya berkerut sampai kedua alisnya menyatu.
__ADS_1
"Panggilan," lontar pria itu.
Mendengar jawaban sang suami membuat Tiara tertawa terbahak-bahak. Apakah Arnold benar-benar menganggap pernikahan ini ada? Padahal, mereka hanya menikah di atas kertas. Demi keuntungan keduanya juga.
"Lantas, aku harus memanggilmu apa? Mas, Beb, atau Sayang?" Tiara mengedipkan sebelah matanya ke arah Arnold. Lalu gadis itu kembali tertawa ketika melihat ekspresi Arnold.
"Itu juga bagus," kata Arnold.
Mulut Tiara terasa kelu, gadis itu tidak lagi tertawa melainkan terdiam dengan wajah pias. Apalagi ketika Arnold berjalan ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Gegas Tiara duduk, tentunya dengan waswas.
Arnold membungkuk dan meletakkan kedua tangannya di kepala sofa. Tatapan pria itu terus terkunci pada mata Tiara, membuat sang istri kebingungan plus ketakutan. Tiara ingin pergi dari sana, tetapi dia terkungkung dengan tubuh Arnold hingga tidak bisa bergerak.
"Kenapa?" Arnold bertanya seraya menaikturunkan sebelah alisnya.
Bukannya mendengarkan permintaan Tiara, Arnold malah semakin mendekatkan tubuhnya dengan Tiara. Kedua tangan pria itu beralih dari kepala sofa jadi memeluk Tiara dengan erat. Dagunya dia letakan di bahu sang istri.
"Ternyata tubuhmu cukup nyaman untuk dipeluk," ucap Arnold.
"Apaan, sih? Minggir, aku sesak!" cetus Tiara berusaha mendorong Arnold agar melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Tidak mau. Kiss dulu," pinta Arnold sukses membuat mata Tiara mendelik tajam.
Merasa begitu kesal, Tiara menggigit bahu Arnold dengan kuat sampai membuat pria itu melepaskan pelukannya. Wajah bengis Tiara masih begitu terlihat, lalu kedua tangannya berkacak pinggang dengan gigi bergemertuk.
"Sana kiss sama kambing. Dasar pria mesum!" geram Tiara.
"Memangnya ada manusia tidak mesum? Dasar aneh," sahut Arnold dengan tenang. Meski bahunya masih terasa sakit akibat gigitan Tiara.
"Ada ... aku," ucap Tiara mantap.
Arnold tersenyum, bukan senyum biasa melainkan senyum seringai. Kembali membuat Tiara waswas.
"Apa perlu kita uji, siapa yang paling berpikiran mesum di antara kita?" tantang Arnold. Tiara menelan ludah dengan susah payah.
"Diam lah! Aku mau mandi," elak Tiara dan langsung berlari masuk ke kamar mandi.
**
Jangan lupa dukung othor, ya? Biar semangat buat ngelanjutin cerita ini.
__ADS_1
Jangan cari bacaan sad, tidak rumah Arnold dan Tiara tempatnya. Melainkan novel kedua othor, dengan judul 'Lambaian Cinta'. Yang berkisahkan tentang perjuangan sang suami mendapatkan cinta istri dan mengubah mahligainya menjadi wanita surga.
Mampir kuy. Othor tunggu.