Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 64


__ADS_3

"Kamu cemburu, 'kan, makanya minta pulang?"


Tiara yang masih menjilat es krim ditangan, mengalihkan pandangan pada sosok pria yang duduk di sebelahnya. Cemburu? Gilak, nih, cowok. Pikirnya.


"Dasar tukang geer!" sahut Tiara, matanya melotot pada Arnold.


Pria itu hanya terkikik geli, lalu memandang pada keramaian gerobak es krim. Mereka tengah duduk di bawah pohon besar di taman, lebih tepatnya depan taman, belum sampai masuk ke dalam. Setelah pergi dari kafe, Tiara mengajak Arnold ke taman untuk sekadar lihat-lihat atau menikmati es krim saja.


Karena kepalang kesal, Tiara tak segan-segan meminta dua es krim pada suaminya. Dia juga tidak peduli mau dianggap rakus atau apa pun itu, bagaimana lagi, moodnya hancur gara-gara kedatangan Bianca di kafe tadi.


"Makan aja belepotan. Dasar bocah!" ejek Arnold sambil terkikik menatap wajah Tiara. Sang istri mendengkus sebal, memelototi dirinya.


"Usap dulu itu," sambung Arnold sambil menunjuk mulut Tiara.


"Kamu tidak lihat tanganku dua-duanya lagi pegang es?"

__ADS_1


"Bilang aja minta bersihkan," celetuk Arnold yang langsung mendapat tatapan tajam dari Tiara.


Baru saja gadis itu akan menjawab, pergerakan tangan Arnold membuat tubuhnya menegang. Mata indah itu tak lepas pada paras rupawan sang suami, menelisik dalam manit mata hitam milik Arnold.


"Dari tatapan, bisa saja jadi cinta. Jadi, hati-hati menatapku, nanti kamu jatuh cinta." Arnold membuang tisu ke tempat sampah yang tak jauh dari tempat mereka berada. Dia kembali dengan tawa yang masih ada.


"Dih, siapa juga yang cinta sama kamu!" tandas Tiara.


"Aku bilang bisa jadi. Sepertinya kamu memang sudah jatuh cinta, ya." Tawa Arnold semakin kencang saat Tiara memakan rakus es krimnya.


"Kaya'nya pulang aja, deh. Aku capek," ucap Tiara tiba-tiba.


"Pulang? Yakin?" tanya Arnold sambil menaikturunkan sebelah alisnya.


"Hmm. Lagian hari juga sudah sore. Kalau terusan main, yang masak di rumah siapa," kata wanita itu.

__ADS_1


"Mbak Yuni. 'Kan, memang setiap hari beliau yang masak."


"Iya, iya. Mana mungkin juga aku," sahut Tiara malas. Dia langsung berjalan meninggalkan Arnold.


Perempuan kalau ngambek memang bikin pusing, Arnold lelah melihat sikap Tiara sejak tadi. Berbicara ketus, melakukan apa-apa sambil ngomel, dan yang lebih parah, dia juga yang disalahkan. Memang, ya, laki-laki selalu salah dimata wanita.


Sebelum sang istri ngambek kembali, Arnold langsung mendahului wanita itu dan membukakan pintu untuk istrinya. Dengan senyum mengembang dia membiarkan sang permaisuri masuk ke dalam mobil.


**


Sebelum pulang tadi, Tiara sempat mampir di mini market untuk membeli sosis dan jajanan lainnya. Arnold menemani saja, tanpa berniat memilih sesuatu untuk dirinya sendiri.


Kini keduanya tengah berada di ruang utama, menonton TV sambil menikmati kudapan yang dibawa mbak Yuni. Arnold menyesap teh hangat miliknya, menikmati harum melati yang menguar dari teh itu. Sedangkan matanya tak lepas menatap laptop. Tiara sendiri sibuk dengan camilan dan TV, tidak memedulikan yang lain lagi, termasuk suaminya.


"Kalau misalnya nanti mamah tahu kita menikah karena ego masing-masing, apa mamah tidak akan marah? Atau mamah akan meminta kamu menikah lagi?" Tiba-tiba Tiara bertanya seperti itu. Membuat Arnold segera menutup laptopnya.

__ADS_1


__ADS_2