Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 32


__ADS_3

Paman Tiara akhirnya benar-benar deal, menerima tawaran Arnold. Setelah selesai semua urusan, Arnold mengajak Tiara untuk pulang ke rumah. Meski sang paman melarang, tetapi pria itu tetap ngotot.


Di perjalanan, Tiara hanya diam saja. Arnold berusaha mencairkan suasana, tetapi gadis itu seolah enggan untuk berbicara.


“Apa yang sedang kamu pikirkan? Jika itu menyangkut masalah ini, apakah ingin dibicarakan kembali?” Pertanyaan Arnold mampu mengalihkan pandangan Tiara dari luar jendela.


Tiara mengernyitkan dahinya, hingga kedua alisnya saling bertaut. Menandakan bahwa gadis itu sedang bingung. Namun, tetap enggan membuka suara untuk sekadar menanyakan balik maksud Arnold.


“Tiara!” panggil Arnold kesal.


“Iya, Tuan?” Akhirnya gadis itu membuka suara.


“Ingin berbicara lebih? Tentang hubungan kita?” tanya Arnold. Meski tak bisa menatap Tiara lama, tetapi dia tetap melihat ke arah gadis itu sebentar.


“Hmm, boleh,” jawab Tiara. Dia memang membutuhkan ini, mengobrol berdua.


Akhirnya Arnold menepikan mobilnya di parkiran kafe yang mereka datangi. Keduanya langsung keluar dari dalam mobil, lalu berjalan masuk ke dalam bangunan yang sudah dihias sedemikian rupa itu.


Arnold mengajak Tiara untuk duduk di bangku dekat pintu masuk, lalu pria itu memanggil pelayan.


“Kamu mau pesan apa?” tanya Arnold sembari mengangsurkan buku menu pada Tiara.

__ADS_1


“Capuccino saja,” jawab Tiara tanpa menerima buku menu.


Sambil menunggu pesanan datang, keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah Tiara persiapkan, seolah sangat susah untuk disampaikan. Padahal sekarang ini waktunya sudah tepat.


“Ehem.” Arnold berdehem untuk mencairkan suasana.


“Tuan, butuh minum?” Tiara bertanya dengan wajah panik.


“Tidak perlu. Sekarang, katakan apa yang ingin kamu sampaikan padaku,” pinta Arnold tanpa mengalihkan pandangannya dari Tiara.


Gadis cantik dengan balutan dress mini itu, menghela napas pelan terlebih dahulu sebelum mengeluarkan suara. Ada rasa takut saat akan mengungkapkan unek-unek, tetapi Tiara juga tak bisa memendamnya sendiri.


“Memangnya harus pakai cara apa, agar pamanmu menerima?” Arnold balik bertanya.


Tiara diam. Ya, kan, Arnold bisa saja membatalkannya. Dari pada harus mengeluarkan uang sebanyak itu, hanya untuk mendapat restu pamannya. Pikirnya.


“Tuan bisa membatalkannya,” sahut Tiara.


“Lalu kau menikah dengan tua bangka itu? Bukankah dulu, kau memintaku membawamu pergi agar tak menikah dengannya?”


“Tanpa bantuan Tuan, pun. Aku bisa kabur dari perjodohan itu,” sela Tiara mencoba membela diri.

__ADS_1


Kalau sudah berdebat seperti ini, Arnold paling malas sekali. Dia butuh istirahat sekarang, tetapi Tiara malah harus menguras energinya kembali untuk menanggapi ucapan gadis itu. Yang tak ada habisnya, dan hanya membahas hal yang sama.


“Dengar Tiara. Kamu hanya perlu diam dan ikuti saja alur cerita ini. Dan harusnya kamu bersyukur, aku bisa membantumu untuk lepas dari pamanmu itu,” ucap Arnold mencoba lembut.


“Tapi, Tuan, dengan cara apa aku membayar uang itu? Terlalu besar nominalnya untuk pengangguran sepertiku,” tanya Tiara dengan lesu.


“Seperti perkataan awalku, aku membantumu dan kau membantuku. Menikah denganku, itu saja yang kumau,” kata Arnold seraya memandang Tiara lama.


Ini terlalu menyakiti untuk kisah hidup Tiara, yang dijual oleh pamannya lalu dibeli oleh seorang pengusaha untuk dijadikan istri. Namun, apa boleh buat, dia juga tak punya pilihan lain. Dari pada harus dijodohkan dengan tua bangka, Tiara akhirnya menyetujui permintaan Arnold. Dia juga tak perlu capek-capek untuk kabur lagi.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2