Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 68


__ADS_3

Setelah kepergian Bianca, barulah Tiara bisa bernapas lega. Dia langsung meraih gelas jus dan meneguk isinya hingga tandas. Ternyata bukan matahari saja yang bikin panas, Bianca pun bisa juga.


Tiara sudah sejauh ini, kalau dulu dia akan bahagia bila ada perempuan yang mendekati Arnold. Namun, sekarang dia harus bisa menyingkirkan perempuan itu. Ada rasa tidak rela bila Arnold didekati perempuan, apalagi itu Bianca.


Baru saja akan beranjak, kedatangan Fan membuat Tiara duduk kembali. Pria yang dia ketahui bekerja sebagai tangan kanan suaminya, menghampiri mejanya.


“Nyonya Tiara ada di sini?” tanya Fan dengan dahi berkerut.


“Iya, Mas. Niatnya tadi mau cari udara segar,” jawab Tiara sekenanya.


“Nggak ke kantor Tuan?”


“Tidak!” Tiara menggelengkan kepala berulang kali.


Karena kedatangan Bianca tadi, Tiara mendadak enggan melihat wajah Arnold. Entah mengapa, dia merasa kesal juga dengan suaminya itu. Namun, sedikit sudut hati Tiara merindukan suara dan pelukan Arnold. Jadi, sekarang dia harus bagaimana? Tetap pada ego atau keinginan yang sedikit itu?


“Tuan sedang istirahat makan siang. Apa Nyonya tidak berniat mampir ke kantornya?” tanya Fan. Pria itu tahu, Tiara pasti tidak akan menolak.


Menghembuskan napas kasar. Sepertinya Tiara harus menuruti keinginan sedikitnya itu, biarkan egonya menepi sejenak. “Baiklah. Aku akan ke sana.”


“Bareng saya saja, Nyonya. Tapi sebentar, saya beli minuman dulu buat Tuan.” Tiara mengangguk saja. Lalu kembali duduk sambil menunggu Arnold kembali.


**


Tiara sudah berada di dalam ruangan Arnold, bahkan wanita itu kini tengah menemani sang suami makan siang. Sesekali pandangan Tiara terlempar pada wajah sang suami, dia akui, hari ini Arnold sangat tampan. Ralat, mungkin bukan hari ini saja, tetapi hari-hari sebelumnya.


Aih, tidak. Arnold itu biasa saja.

__ADS_1


Wanita bergelar istri itu tertawa kecil mendengar ucapan batinnya. Entahlah, rasanya berat mengakui bahwa Arnold tampan. Selain gengsi, dia juga tidak ingin memulai jika Arnold tidak memulai duluan.


“Kenapa kamu senyum-senyum?” Arnold membuka suara, membuat Tiara terkejut.


“Nggak! Siapa juga yang senyum-senyum,” kilah wanita itu.


Arnold hanya geleng-geleng kepala, dia kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Namun, tatapan yang kini lembut itu, terus pada wajah Tiara.


“Aku tahu aku cantik, tapi jangan dilihati terus. Aku malu,” ucap Tiara dengan jujur. Dia bahkan menunduk malu.


“Hah? Tiara yang terkenal keras kepala ini, bisa malu juga?” Arnold pura-pura kaget.


“Ish, Arnold! Kamu iseng.”


“Soalnya kamu tambah cantik, kalau lagi malu begitu,” ungkap Arnold.


“Arnold, udah. Nanti aku nggak bisa tidur,” ketus Tiara. Arnold tertawa kecil.


“Malah bagus lah, kita bisa olahraga sepanjang malam.”


“Dasar mesum!” teriak Tiara sambil memukul pelan lengan Arnold.


“Mesum sama istri sendiri, tidak masalah,” sahut Arnold tak mau kalah.


Ah, Tiara lebih memilih sibuk dengan ponsel. Bahkan, beberapa kali Arnold menoel lengannya, tetapi wanita itu pura-pura tak peduli. Tiara hanya takut, kembali terbang karena ucapan Arnold, lalu akan dijatuhkan oleh kenyataan.


“Arnold, sto—“

__ADS_1


Cup


“Biar istriku tidak marah lagi.” Arnold memotong ucapan Tiara dengan kecupan di pipi.


Cup


“Yang ini, biar istriku makin cinta.”


Belum selesai dengan keterkejutan dan detak jantung yang bergerak dua kali lebih cepat, Tiara harus merasa kecupan di pipi sebelahnya. Dan itu sukses membuat dia malu kepalang, Tiara langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang Arnold.


“Awas kamu, ya,” ancam Tiara.


“Gak sabar nunggu hukuman dari istriku. Kaya’nya, bakalan menang banyak, nih.”


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2