Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 66


__ADS_3

Rumah mewah bergaya Eropa sudah berada di depan mata. Tiara mengerjap berkali-kali dengan mulut terbuka kecil. Kaget. Rumah mertuanya ternyata dua kali lebih besar dari milik Arnold.


"Ayo, masuk. Mamah sudah nungguin di dalam," ajak Arnold, mengambil tangan Tiara dan menggenggamnya.


Mereka masuk beriringan, Tiara menggenggam erat tangan suaminya saat mereka sudah sampai di dalam. Meski kagum dengan isinya, tetapi Tiara juga takut ketika mendapati seorang pria paruh baya yang duduk dengan mamah Aela.


"Apa kabar, Sayang?" Aela datang menghampiri, memeluk erat tubuh menantunya.


"Baik, Mah," balas Tiara.


Lalu ketiganya memilih duduk. Tiara semakin merapatkan duduknya dengan Arnold, memeluk lengan pria itu. Apalagi ketika tatapan sang ayah mertua berubah tajam.


Buset, dah. Itu ayah mertua ada masalah apa, sih, sama aku?


Tiara terus bertanya-tanya. Bukan sekali dua kali, tetapi dari pertunangan itu, ayah Arnold sepertinya memang tidak suka dengan dirinya. Jujur, itu membuatnya tidak nyaman.


"Kamu sudah makan, Sayang?" tanya Aela mengalihkan perhatian Tiara.

__ADS_1


"Sudah, Mah. Tadi makan di rumah bareng Mas Arnold," jawab Tiara sopan. Tak lupa membubuhkan senyuman termanisnya.


"Kita cuma mau mampir, Mah. 'Kan, sejak pertama menikah, kami belum pernah main ke sini," ucap Arnold.


"Mamah juga rindu dengan kalian. Ngomong-ngomong, kapan, nih, Mamah dikasih cucu?" Aela menaikturunkan alisnya, menggoda anak dan menantu.


Malu? Tentu saja. Otak Tiara jadi kembali di malam panas mereka, dia langsung menggeleng pelan, menepis ingatan itu. Enak, sih, tetapi malu.


"Secepatnya pasti akan kami beri, Mah," jawab Arnold sembari mengeratkan genggaman pada Tiara.


"Wah. Pasti akan Mamah tunggu."


Ketika mereka masih di teras rumah, pria paruh baya datang menghampiri. Wajahnya masih dingin dengan sorot tajam.


"Hentikan sandiwara kalian." Ucapan itu terdengar begitu tegas. Ralat, bukan seperti ucapan melainkan sebuah perintah.


"Sandiwara? Apa maksud Anda?" Arnold memandang tak kalah tajam juga.

__ADS_1


"Pernikahan ini. Aku tahu kalian hanya bersandiwara," kata ayahnya.


"Kadang, orang pintar memang pandai menggambarkan sesuatu sesuai kemampuannya. Tapi tidak dengan hubungan kami. Anda tidak perlu ikut campur, bukankah sebelum menikah, Anda memang tidak peduli dengan apa yang terjadi?"


"Gadis ini hanya menguras hartamu!" Seperti tak puas, sang ayah kembali bersuara yang kali ini membuat amarah Arnold meluap-luap.


Ingin membalas, Tiara langsung menghentikan Arnold dan menggelengkan kepala berulang kali. Dia mengajak pria itu untuk pergi saja.


"Kamu direndahkan!" tekan Arnold.


"Tidak masalah, karena yang merendahkan ku adalah Ayah mertuaku sendiri," ujar Tiara. Memandang tepat pada mata mertuanya.


"Aku yang lebih tidak peduli! Mau itu ayahku sendiri, ketika kamu direndahkan seperti ini, maka aku akan melindungimu."


"Sudahlah, Mas, ayo kita pergi," ajak Tiara. Dia hanya tidak ingin masalah ini semakin panjang, dan takutnya nanti mamah Aela tahu.


"Jangan sok manis!"

__ADS_1


Tiara tidak peduli, dia langsung menarik lengan Arnold dan membawa pria itu pergi. Sebenarnya dia sudah tak tahan, air matanya ingin merembes keluar. Namun, sekuat tenaga dia menahan, demi menjaga harga dirinya.


"Menangis lah, aku tahu kamu tidak setegar itu. Jangan jadikan itu beban untuk dirimu sendiri, Ti."


__ADS_2