Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 61


__ADS_3

"Kumohon, aku sudah tidak sanggup menahannya, Ti."


Perasaan Tiara mendadak tak menentu, pandangan gadis itu lurus pada mata Arnold yang sudah tertutup kabut hasrat. Tubuhnya tak bisa bergerak, semua terasa kaku.


"Ti ...." Suara Arnold bergetar. Tanpa menunggu jawaban dari sang istri, dia langsung membopong tubuh Tiara.


Arnold menidurkan Tiara di kasur, perlahan dia merangkak naik ke tubuh gadis itu. Sejauh apa yang Arnold lakukan, Tiara belum juga bergerak atau pun membuka suara. Bibirnya terasa keluh, begitu pun tubuh yang tak bisa memberi reaksi. Nalurinya menerima, tetapi akalnya tidak.


Pria berstatus suami, mengecup bibir sang istri. Dari kecupan menjadi *******, pelan tanpa ada paksaan. Arnold masih berusaha meluluhkan akal Tiara, dia tidak ingin melakukan semuanya dan malah menyakiti Tiara.


Perlahan ciuman itu turun ke leher, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana. Tiara belum juga bereaksi, membuat Arnold semakin keras bekerja untuk menaklukannya. Namun, siapa sangka, Tiara mulai membuka mulut. Melancarkan aksi Arnold untuk mengabsen setiap inci dalam mulut gadis itu. Daging tanpa tulang, saling berbelit. Napas Tiara pun mulai tak beraturan karena ciuman yang semakin panas.


"Emh ...."


"Kamu suka?" Arnold menatap Tiara yang berada di bawahnya, menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah.


"Arnold ...." Lagi-lagi suara Tiara tertahan.


"Aku akan melakukannya pelan-pelan," potong Arnold.


"Tapi--"

__ADS_1


"Tidak apa, Ti. Aku pasti akan bertanggung jawab."


Akhirnya malam itu terjadi, keduanya sama-sama menyelami madu pernikahan dengan peluh membasahi wajah. Arnold benar melakukannya dengan pelan, bahkan penuh akan kelembutan. Memberikan kenikmatan yang belum pernah Tiara rasakan, begitu pun dia.


(Skip. Jangan paksa othor lima belas tahun menulis ini.)


*


*


*


Helaan napas terdengar berulang kali, membuang sesak dalam dada. Ingin menyesal, tetapi dia juga menikmati itu. Bahkan, Tiara tak segan memintanya lagi ketika Arnold berhenti. Sungguh, Tiara ingin menghilang saja dari dunia ini karena malu akan perbuatannya.


Baru saja akan menurunkan kaki satunya, Tiara merasa sangat sakit pada bagian intim. Gadis itu meringis, berpegangan pada kepala ranjang. Mungkin karena ini yang pertama kalinya, jadi dia belum terbiasa. Apa? Belum terbiasa? Bahkan Tiara enggan melakukan lagi.


"Mau apa?" Tiba-tiba Arnold sudah duduk di sebelah dia. Hanya dengan menggunakan bokser, pria itu turun dari ranjang.


"Haus," jawab Tiara.


"Bentar, biar aku ambilkan."

__ADS_1


Tatapan Tiara terus tertuju pada sosok yang kini berdiri di depan dispenser yang berada di sudut ruangan. Berulang kali Arnold menutup mulutnya karena terus menguap, membuat Tiara terkikik geli. Apalagi ketika melihat tubuh hanya menggunakan bokser, sungguh membuatnya malu sendiri.


"Masih jam 03.00 dini hari. Lebih baik tidur kembali, atau ...." Kerlingan dan seringai di bibir pria itu, membuat tubuh Tiara merinding.


"Apa?"


"Lanjutkan yang tadi malam. Bukankah kamu kurang? Buktinya ketika aku berhenti, kamu merengek meminta lagi," ucap Arnold tanpa rasa bersalah.


"Arnold, jangan bahas itu lagi!" tegas Tiara. Memukul pelan lengan Arnold.


"Oke, oke. Kalau gitu aku tidur kembali, sebaiknya kamu juga."


Arnold merebahkan tubuhnya di samping Tiara, yang disusul oleh gadis itu. Kedua tangan Arnold langsung memeluk tubuh Tiara, membuat sang empu menggeliat ingin melepaskan.


"Aku tidak pakai sehelai apa pun. Tolong lepas tanganmu," pinta Tiara.


"Diam atau lanjut yang tadi malam?"


"Cih."


Akhirnya Tiara pasrah, dipeluk Arnold hingga pagi.

__ADS_1


__ADS_2