Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 74


__ADS_3

Aela terburu-buru masuk ke dalam rumah Arnold. Dia sangat cemas dengan keadaan Tiara. Ketika Arnold memberitahunya tadi, Aela langsung bergerak cepat untuk pergi ke rumah sang putra.


“Di mana menantuku?” tanya Aela pada pelayan.


“Ada di kamar, Nyonya,” jawab pelayan itu dengan kepala tertunduk.


“Baiklah.”


Wanita paruh baya dengan setelan elegan itu, langsung melesat ke kamar sang putra. Ketika membuka pintu, hal pertama yang Aela lihat adalah menantunya yang tengah berjalan menuju kamar mandi dengan terburu-buru. Tanpa pikir panjang, Aela langsung mengikutinya. Ternyata pintu kamar mandi juga tidak terkunci, memudahkan dia untuk masuk ketika mendengar Tiara muntah-muntah.


“Kamu kenapa, Sayang?” Aela dengan sabar memijat tengkuk Tiara.


Selesai membilas mulut, Tiara langsung menatap ibu mertua. Melihat wajah pucat menantunya, membuat Aela tidak tega.


“Masuk angin, Mah,” lirih Tiara.


“Benarkah masuk angin?”


“Iya.”


Aela tidak lagi bertanya ketika Tiara kembali mual. Wanita itu tersenyum mendapati muntahan Tiara hanya cairan, lalu dia membantu Tiara untuk ke ranjang setelah selesai.


“Masa, sih, kamu cuma masuk angin?” tanya Aela setelah mereka sudah berada di kasur.


“Iya, Mah.”


“Jangan-jangan ....”


“Apa, Mah?”

__ADS_1


“Kamu hamil!”


Tiara melotot sambil menggelengkan kepala. Masa iya dia hamil? Mungkin hanya pikiran Aela saja, pikir Tiara.


“Enggak, lah, Mah. Orang aku baru dapat mens ....” Tiara menghentikan ucapannya.


“Bulan ini aku belum datang bulan, Mah! Apa, iya, aku hamil?”


Aela langsung mengubah posisi duduk jadi tegap, dia melihat menantunya dengan tidak percaya. Lalu detik kemudian senyumnya mengembang.


“Kamu harus menge-ceknya, Sayang. Ya, secepatnya. Bila perlu Mamah akan langsung membelikan tespek,” ucap Aela menggebu.


“Aku takut hasilnya negatif, Mah.”


“Kita coba dulu, Sayang. Kalau negatif berarti belum rezeki.”


Bunyi bel rumah membuat Aela berlari ke arah pintu utama. Wanita itu langsung menerima dan membayar barangnya. Sambil membawa teh, dia juga membawa barang pesanan tadi.


“Minum dulu tehnya, Sayang. Setelah itu baru cek,” pinta Aela sambil menyodorkan segelas teh hangat.


Tiara meraih tespek yang baru diambil dari dalam kardus. Dia masuk ke dalam kamar mandi dengan jantung berdegup kencang. Rasanya sangat takut melakukan ini, takut hasil tidak seperti keinginan.


“Semoga saja,” bisik Tiara.


Perlahan-lahan, dia membalikkan alat yang sudah dia celup ke urin tadi. Mata Tiara melotot sempurna, melihat garis dua di sana.


“Mah!” teriak Tiara. Sontak Aela langsung menghampiri.


“Ada apa, Sayang? Gimana hasilnya?”

__ADS_1


“Mah. Hasilnya ....” Tiara menjeda kalimat, sebab tidak sanggup berucap apa pun lagi. Sambil menangis, Tiara menyerahkan alat tadi pada Aela.


Mata Aela membulat sempurna melihat apa yang ada ditangannya. Tanpa dipinta, air mata itu merembes turun. Bukan air mata kecewa, melainkan kebahagiaan. Keduanya saling berpelukan, dengan Aela yang terus mengusap punggung Tiara.


“Kamu hamil, Sayang. Kamu hamil,” ucap Aela.


“I-iya, Mah. Hiks.”


“Kita harus beritahu Arnold, pasti dia bahagia.”


“Jangan, Mah.”


“Kenapa, Sayang?” tanya Aela bingung.


“Aku takut ini salah. Jadi, nanti aku akan ajak Mas Arnold buat cek ke dokter,” ujar Tiara.


“Baiklah. Semoga ini tidak salah. Mamah sudah tak sabar menimang cucu.”


 **


Hay guys, jangan lupa mampir di karya othor yang lainnya. Pencet akun othor, buat lihat karya-karya dari Bae Lla.




 


 

__ADS_1


__ADS_2