Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 36


__ADS_3

Arnold mulai disibukkan dengan mengurus untuk pernikahannya, ditambah lagi dengan pekerjaan di kantor. Sang papah seperti sengaja memberi banyak pekerjaan di kantor, hingga membuat Arnold jadi jarang tidur malam demi menyelesaikan semuanya. Namun, dia enggan untuk protes, Arnold jalani saja semua.


Siang ini dia mengajak Tiara untuk fitting baju, dengan mengandalkan waktu satu jam yang dia miliki sebelum kembali berkutat dengan pekerjaan. Bukan apa, sang mamah terus saja mendesak Arnold agar membantu Tiara memilih gaun yang indah untuk gadis itu kenakan.


"Seharusnya tidak perlu repot-repot, Tuan. Toh, kita tidak saling mencintai," ucap Tiara ketika mereka akan memasuki butik yang sangat terkenal di kota.


"Lalu, kau mau gunakan baju apa? Piama?" sahut Arnold dengan nada tak suka.


"Bukan begitu maksudku. Dari pada harus mengeluarkan uang banyak untuk gaun, lebih baik ditabung saja," jelas Tiara.


"Meskipun sepuluh gaun lagi kubeli, tak akan habis uangku." Arnold berjalan mendahului Tiara untuk masuk ke dalam butik.


Gadis itu hanya mendengkus kasar, meskipun begitu dia tetap enggan rasanya untuk masuk butik ini. Sebenarnya tak perlu repot-repot mengadakan resepsi, toh, mereka menikah karena terpaksa bukan cinta. Jadi, pasti semua akan terasa hambar.


"Orang kaya sombong!" cibir Tiara dengan suara pelan.

__ADS_1


**


Sudah hampir sepuluh gaun yang Tiara coba, tetapi tak ada yang cocok dimata Arnold. Entah macam mana selera pria itu, Tiara tak tahu. Yang jelas, dia sudah sangat lelah sekarang ini. Bolak balik berganti, menghabiskan banyak energi.


"Kalau yang satu ini salah juga, lebih baik Tuan saja yang mencari gaunnya dan memakainya," ketus Tiara ketika akan berbalik ke ruang ganti.


"Bukan begitu, hanya saja gaun yang sudah-sudah sangat jelek," jawab Arnold.


"Lah, memangnya defenisi cantik bagi Tuan itu seperti apa? Aku capek, tau!"


"Pokoknya belahan dada kamu tidak boleh terlalu terlihat!"


"Aku bukan pria seperti itu! Sudah sana, ganti lagi," suruh Arnold sembari melambaikan tangan tanda mengusir.


Desainer yang mendengar permintaan Arnold, kembali mencari gaun yang pria itu inginkan. Membawanya ke ruang ganti, dan meminta Tiara untuk memakainya.

__ADS_1


Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam, akhirnya mereka selesai fitting baju. Arnold tak punya waktu lagi untuk mengajak Tiara jalan-jalan, pria itu langsung kembali ke rumah. Setelahnya pergi lagi ke kantor.


Tiara berjalan ke kamar, tetapi belum masuk ke dalam tempat ternyamannya. Ada dua pelayan datang menghampiri, keduanya masih sama-sama muda.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Tiara ketika keduanya hanya diam saja.


"Anu, kak. Itu ...."


"Ada apa?" tanya Tiara lagi.


"Kakak benaran mau menikah dengan, Tuan muda?" Salah satu gadis yang sejak tadi hanya diam, akhirnya membuka suara mewakili temannya.


Tiara diam, rasanya malu harus menjawab pertanyaan mereka. Sudah pasti keduanya akan menebak, Tiara menggoda Arnold hingga pria itu mau menikah dengan dia. Padahal tidak seperti itu kenyataannya.


"Hmm, iya," jawab Tiara dengan suara pelan, bahkan nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Ya, padahal seharusnya aku yang menjadi pendamping, Tuan."


Gadis berambut panjang berwarna, langsung membekap mulut temannya. Sedangkan Tiara terbengong mendengar celetukan itu. Pantas saja, gadis yang memiliki postur tubuh sedikit gendut itu, akhir-akhir ini begitu cuek ketika dia menyapa. Eh, ternyata, memiliki rasa pada calon suaminya.


__ADS_2