
Besoknya Arnold mengantar Tiara ke rumah paman gadis itu sebab mamahnya akan datang sore nanti untuk mengantar Arnold, melamar Tiara secara resmi.
Meski ada rasa takut di hati Tiara karena akan bertemu pamannya kembali, tetapi dia percaya pria paruh baya itu tak akan menjahatinya.
“Kamu tenang aja, ya. Nanti aku minta beberapa orang buat jagain kamu dari jauhan,” ucap Arnold ketika dia akan kembali.
“Hanya sampai sore saja, malamnya aku jemput kamu lagi untuk ikut pulang sama aku,” sambung pria itu dengan pandangan masih menatap wajah Tiara.
Diperlakukan seperti itu, ada rasa tak biasa dihatinya. Meski terus bertanya-tanya kenapa Arnold sangat perhatian padanya, tetapi Tiara menepis semua itu. Dia hanya mengangguk saja, lalu melepas kepergian Arnold.
“Kamu dan dia benar saling mencinta?”
Tiara berbalik, sang paman sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu sedikit tak nyaman, membenarkan posisi berdirinya.
“Iya,” bohong Tiara.
“Setidaknya dia punya banyak harta,” ucap sang paman seraya berlalu masuk ke dalam rumah.
Harta lagi harta lagi, Tiara muak mendengar pamannya membahas harta terus. Membuang napas kasar, Tiara ikut masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, gadis itu memilih untuk ke dapur. Meskipun lamaran ini tak dia inginkan, tetap saja menjamu tamu nantinya sangat penting. Apalagi mamah Arnold orang yang sangat baik.
**
“Orang tua, Tiara, di mana?”
Pertanyaan yang terlontar dari mulut ibu Arnold, mengalihkan pandangan orang di sekitarnya itu. Terutama Tiara, matanya mengerjap berulang kali, lalu kembali tertunduk saat merasa sesak di dada.
__ADS_1
“Mereka sedang sibuk di luar negeri, jadi tidak bisa kembali.” Paman angkat bicara.
“Oh, tidak apa. Lagian ini baru lamaran saja, menikah nanti pasti kembali, kan?”
“Sedang diusahakan.”
Selama pembicaraan tentang pernikahan, Tiara tak ikut andil mengusulkan kapan rencana itu akan diadakan. Dia hanya menurut saja, toh, meski dia mengusulkan ini dan itu. Semua terasa hambar.
“Lebih baik dipercepat saja,” usul ibu Arnold.
“Saya setuju,” sahut paman.
“Apa papah setuju kalau pernikahan Arnold dan Tiara dipercepat, Pah?”
Ibu Arnold mengalihkan pandangannya pada sang suami, pria yang memakai pakaian kantor itu, mendengkus kasar.
Dari sini Tiara paham, sepertinya pria paruh baya yang terbukti sebagai ayah Arnold tidak menyukainya. Terlihat dari bagaimana cara menatap Tiara dan memberi jawaban.
“Oke, deal, nikahnya dua Minggu lagi?” tanya ibu Arnold.
“Deal,” jawab mereka semua terkecuali Tiara. Gadis itu hanya mengangguk saja.
Pembahasan mereka berakhir, Tiara langsung mengajak semuanya untuk makan di ruang makan. Awalnya ayah Arnold menolak, tetapi sang istri terus saja memaksa hingga mau tak mau pria itu mengangguk juga.
**
__ADS_1
Selesai membereskan rumah, Tiara kembali bersiap sambil menunggu Arnold datang. Pria itu sudah berjanji akan menjemput dia, dan Tiara yakin pria itu akan menepatinya.
Tidak ada pembicaraan antara dia dan paman, sosok yang begitu dia sayangi itu, sepertinya menghindari Tiara terus. Bahkan sejak tadi tak terlihat oleh mata.
“Padahal Arnold sudah memberi banyak uang, tetapi paman masih marah juga padamu,” lirih Tiara sembari memandang halaman rumah. Dia sedang duduk di teras depan.
“Apa kurang banyak, ya?”
Tidak mungkin juga kurang banyak, Tiara dengar sendiri pamannya begitu terima kasih karena Arnold memberinya uang satu milyar. Mungkin saja, sang paman masih marah karena dulu dia pernah kabur. Wajar, dong, Tiara ingin melindungi diri makanya melakukan itu. Antahlah, dia bingung dengan keadaan sekarang ini.
Lamunan Tiara tersadar ketika melihat sorot lampu mobil di depan gerbang, dia segera berlari menghampiri. Benar saja, itu mobil Arnold.
“Ayo pulang.”
__ADS_1