
Tiga hari sebelum hari pernikahan, Arnold membawa Tiara pulang ke rumah pamannya. Awalnya gadis itu menolak, tetapi Arnold tetap memaksa demi tidak membuat mamahnya curiga.
"Kalau paman jahat, gimana? Aku takut," ucap Tiara ketika mereka akan masuk ke dalam rumah.
"Kamu tenang aja, nggak akan terjadi apa-apa," kata Arnold mencoba meyakinkan gadis itu. "Katanya bukan cewek lemah."
"Dih, emang. Udah sana, pulang," usir Tiara seraya melambaikan tangannya di udara.
"Sabar. Aku juga ada perlu dengan pamanmu."
Akhirnya mereka berdua memilih untuk masuk. Keduanya dipersilahkan duduk oleh pelayan rumah ini, yang Tiara tak kenal siapa dia. Mungkin karena malas memasak sendiri, sang paman coba menerima jasa pembantu.
"Apakah Anda sudah mendapatkan dua orang yang berminat pura-pura menjadi orang tua, Tiara?" Arnold langsung membuka suara ketika paman Tiara baru saja duduk.
Mendengar pertanyaan itu, tentu Tiara sangat terkejut. Dia tidak menyangka Arnold akan melakukan ini. Seharusnya jujur saja, bahwa dia yatim piatu. Kenapa mesti harus menyewa orang?
"Aku tidak setuju!" Tiara angkat bicara.
__ADS_1
"Kami tidak butuh persetujuanmu," tukas Arnold mengabaikan gadis itu.
"Tapi aku nggak mau, Arnold! Lebih baik jujur saja, kalau aku ini yatim piatu!" ucap Tiara.
Tampak Arnold memijat hidungnya dengan menyandarkan kepala di sandaran sofa. Terlalu lelah memikirkan banyaknya pekerjaan di kantor, dan kini harus stres juga karena Tiara.
"Tiara, duduk. Ini urusan kami, tidak perlu ikut campur!" Sang paman memberi perintah, tetapi tak didengar oleh Tiara.
"Pokoknya aku nggak mau bohong lagi, Arnold. Kamu harus jujur sama tante Aela, kalau aku ini udah nggak punya orang tua," kata Tiara sembari memandang ke arah Arnold.
"Ternyata sudah sebanyak itu kebohongan kita." Tiara lemas. Gadis itu memilih menyandarkan tubuh di sofa sembari memejamkan mata.
"Tenang. Aku sudah mendapatkan orangnya," celetuk paman dengan senyum mengembang.
"Benarkah? Ternyata pekerjaan Anda jauh lebih cepat, ketika uang sudah berada ditangan." Arnold tertawa puas, ketika melihat wajah paman Tiara berubah menjadi masam.
"Uang sangat berharga bagi manusia!"
__ADS_1
Arnold memilih diam, tatapannya kini beralih pada sang calon istri. Tidak ada pergerakan dari Tiara, mata gadis itu pun masih terpejam. Arnold berpikir, mungkin Tiara sudah tertidur. Dia berinisiatif menepuk pelan pipi sang gadis, tetapi tetap tak ada pergerakan.
Dengan gesit Arnold menggendong Tiara ala brydal style menuju kamar gadis itu. Tentu saja dengan paman yang mengantarnya. Sesampainya di kamar Tiara, Arnold langsung membaringkan gadis itu di kasur dengan perlahan, membelai pelan rambut hitamnya dengan tatapan terkunci pada Tiara.
Lima menit memandangi wajah Tiara, tatapan Arnold beralih ke pria paruh baya yang berdiri di dekat pintu. Lalu dia berjalan untuk menghampiri paman Tiara.
"Jangan sakiti dia, apalagi coba-coba untuk membawanya kabur," ancam Arnold.
"Tidak mungkin. Aku sangat menyayanginya," jawab paman.
Arnold tertawa mendengar itu. "Sayang bagaimana menurutmu? Dengan tega menjual keponakannya sendiri?" cibir Arnold.
"Intinya aku sayang padanya."
"Sebenernya dia tak mau tinggal di sini, tetapi karena terpaksa, akhirnya dia mau. Bahkan, dia saja takut pada dirimu, wahai Paman." Arnold menekan kata 'paman' yang membuat pria paruh baya itu terdiam.
"Ingat! Jangan sakiti dia. Pengawalku selalu mengintai rumah ini," sambung Arnold. Dia berlalu meninggalkan kamar Tiara.
__ADS_1