
Acara resepsi berjalan dengan lancar, kedua mempelai pengantin sudah boleh kembali ke kamar mereka. Tiara memilih duduk di sofa kamar hotel sembari memandang ke arah ranjang yang sudah dihias dengan banyak kelopak bunga.
Membuang napas dengan kasar, Tiara berniat bangun dari duduk. Namun, gerakannya terhenti ketika melihat Arnold yang baru keluar dari kamar mandi. Pria itu hanya menggunakan handuk yang melilit di perut, dan hanya menutupi bagian bawah tubuhnya.
Tiara hampir saja menjerit karena terkejut, tetapi gadis itu langsung menutup mulut dan matanya dengan kedua tangan. Sedangkan Arnold yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi, mengerutkan dahi karena heran melihat tingkah Tiara.
"Kamu kenapa? Pake segala tutup-tutup wajah begitu," tanya Arnold seraya berjalan ke arah ranjang.
"Cepat ganti. Dasar tidak malu, seharusnya keluar jangan hanya memakai handuk saja," omel Tiara masih terus menutup wajahnya.
Mendengar omelan sang istri, Arnold tersenyum seringai. Dia tak jadi megambil baju di koper, lebih memilih berjalan mendekati Tiara. Berniat mengerjai gadis itu. Arnold semakin tertawa geli ketika melihat Tiara masih terus menutup matanya, dia lebih mendekat. Meniup telinga sampai leher sang istri berulang kali.
Tiara yang merasa ada hembusan dibagian sensitif, langsung menurunkan tangan untuk melihat. Betapa kagetnya dia ketika wajah Arnold berada di depannya.
"Bahkan kalau pun aku tak memakai baju di depanmu, itu tidak masalah," ucap Arnold.
__ADS_1
"Dasar mesum!"
Arnold mengubah mimik wajahnya menjadi datar, keningnya masih mengerut. "Kenapa mesum? Apa ada yang salah?" tanyanya.
"Jelaslah. Yang pertama, kita menikah karena terpaksa bukan cinta. Dan kedua, sebaiknya Anda jangan berharap, bahwa aku akan memberikan hak Anda sebagai suami," jelas Tiara dengan wajah jutek.
Terkikik sebentar, Arnold kembali mendekatkan wajahnya dengan Tiara. Membuat gadis itu refleks mundur. Terus saja begitu sampai Tiara tak bisa lagi mundur karena sudah mentok didinding.
"Kalau urusan ranjang, tidak ada masalah dengan pernikahan terpaksa ini," ujar Arnold dengan seringai. Membelai pelan pipi Tiara, membuat gadis itu merinding.
"Cinta bisa datang kapan saja, sebab Tuhan maha membolak-balikkan hati manusia."
Sebelum mengakhiri kejahilannya, Arnold mengecup pelan bibir Tiara. Gadis yang sedari tadi fokus mendengarkan ucapan Arnold, tersadar. Matanya langsung melotot tajam ke arah sang suami, yang menatapnya dengan remeh.
"First kissku!" teriak Tiara tak percaya.
__ADS_1
"Malam ini ciuman pertama dulu, malam berikutnya mungkin lebih dari ini," ucap Arnold sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu mengedipkan sebelah mata, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaian.
Tiara terduduk di lantai, gadis itu langsung merengek sambil mengusap bibirnya dengan tangan.
"Nggak mau! Ih, jijik banget bekas orang songong kayak dia!" Tiara terus saja merengek, bahkan sampai Arnold keluar dari kamar mandi. Namun, pria itu memilih tidur dan mengabaikan Tiara.
**
Berbaring ke samping kanan, lalu pindah ke samping kiri. Tiara terus melakukan itu di sofa, sesekali dia juga menghela napas kasar. Kepalanya sakit karena tak memakai bantal, begitu pun kaki yang harus tertekuk karena panjang sofa tak sama dengan dirinya.
Kalau saja dia tidak gengsi, sudah pasti Tiara akan tidur satu ranjang dengan Arnold. Namun, gadis itu tak mau. Mengingat Arnold menciumnya tadi, dia sudah bergidik ngeri membayangkan hal-hal yang lebih dari itu.
"Tersiksa banget aku. Mana nggak ada selimut lagi," lirih Tiara seraya memeluk tubuhnya.
Sebisa mungkin dia berusaha tertidur, meskipun sebenarnya mata enggan untuk tertutup.
__ADS_1