
Judul: Bukan Cinta Kontrak
Karya: Bae Lla
Semakin jam berputar, cahaya matahari semakin terik membakar kulit. Bulir-bulir keringat mulai berjatuhan, bersamaan dengan bau badan yang semakin menyerbak tak mengenakkan.
Ayyara menarik tisu dengan cepat dari dalam tas, lalu mulai mengusap peluhnya yang sudah bertumpuk di pelipis. Akhir-akhir ini kota Pekanbaru memang sangat panas, matahari tidak lelah-lelah menyorotkan sinarnya ke bumi dengan ganas. Merasa kerongkongannya sangat kering, Ayyara memilih untuk berhenti di salah satu kafe terfavorit yang ada di kota ini.
Gadis dengan balutan blouse bunga-bunga memilih untuk duduk di luar ruangan, berpayung kecil yang dapat menutupinya dari sinar matahari. Sekali lagi Ayyara mengusap peluhnya, lalu meraih list makanan dan minuman di kafe itu.
“Es teh manis satu,” ujar Ayyara sambil menatap waiters.
Waiters itu balik menatap Ayyara dengan sorot bingung, menelisik dari bagian perut Ayyara sampai kepala. Sudah biasa, Ayyara hanya dapat menghembuskan napas kasar saat waiters itu mulai menilai dirinya. Selalu saja begini, apa salahnya jika dia memesan es teh manis? Itu bukan sebuah kesalahan.
“Dasar! Kalau nggak mau aku beli itu, harusnya jangan ada di daftar minuman,” omel Ayyara sesaat sang writers sudah pergi.
Hidupnya lagi capek-capeknya, jadi jangan salahkan jika Ayyara terus mengomel. Dia baru saja ditolak dari salah satu toko buku tempatnya melamar kerja, dan itu bukan sesuatu yang harus Ayyara banggakan sekarang. Sudah dari lima hari lalu, Ayyara selalu mencari pekerjaan yang dapat menampungnya, tetapi sampai saat ini dia belum menemukan. Semua tempat yang dia kunjungi, tidak mau menjadikannya karyawan meskipun Ayyara sudah meminta gaji yang kecil.
“Hidup aku kok gini banget ya? Perasaan orang enak-enak aja pas lamar kerja. Cuma aku sendiri yang selalu ditolak.” Ayyara cemberut, lalu menopang dagunya.
Belum cukup dengan lelahnya hari ini, ponsel dalam tas Ayyara bergetar. Cepat-cepat gadis itu mengambil, lalu menggeser tombol hijau ke atas.
“Halo.”
“Kak ... buruan pulang. Tadi rentenir datang lagi, mereka acak-acak rumah karena ibu gak bisa bayar hutang.”
Helaan napas Ayyara terdengar amat kasar. Dia menutup wajahnya menggunakan sebelah tangan, lalu menarik napasnya dengan kasar.
“Iya, sebentar lagi Kakak pulang,” ucap Ayyara lalu menutup sambungan telepon.
Ini adalah hal menyakitkan yang selalu Ayyara dengar. Air matanya hampir saja tumpah, tetapi sebisa mungkin Ayyara menahannya. Bagaimanapun, dia masih mempunyai malu untuk menampakkan titik lemahnya di tempat ini.
“Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” tanya Ayyara sambil menatap langit.
__ADS_1
Ujian hidupnya terlalu berat untuk Ayyara, gadis itu harus menguatkan kaki dan bahunya agar tidak tumbang ketika badai menerjang secara bersamaan. Satu tahun lalu, tepatnya di bulan Oktober, terpaksa seorang Ayyara meminjam uang dari rentenir untuk melunasi biaya rumah sakit ibunya. Awalnya gadis itu hanya meminjam tiga puluh juta, tetapi dia baru membayar delapan juta, dan sisanya tidak dia bayar karena belum ada uang masuk. Hingga akhirnya hutangnya itu berbunga hingga membuat Ayyara terjebak pada rentenir.
“Saya bisa membantu kamu untuk melunasi hutangmu itu.”
Ayyara membalikkan badan, menatap ujung sepatu dengan kilat yang begitu menyilaukan mata. Lalu perlahan pandangan gadis itu naik ke atas, pada tas bermerek yang sering dia lihat di ponsel. Naik lagi, hingga tatapannya bertemu dengan senyum manis wanita paruh baya di depannya.
“Ibu siapa?” tanya Ayyara dengan dahi berkerut. Sebelah alisnya ikut menukik karena bingung.
“Kenalkan, saya Aseva.” Wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya, berharap bisa berjabatan dengan Ayyara.
Dengan gugup Ayyara ikut mengulurkan tangannya, lalu menjabat tangan Aseva dengan senyum yang terpaksa gadis itu tampilkan.
“Saya Ayyara, Nyonya.”
“Salam kenal Ayyara. Maaf kalau sebelumnya saya lancang, tetapi tidak sengaja tadi saya mendengar percakapan kamu dengan seseorang di telepon. Bukan bermaksud ikut campur, tetapi saya hendak membantu kamu untuk keluar dari masalahmu itu,” ucap Aseva seraya mengusap lembut bahu Ayyara.
“Tidak, tidak perlu Nyonya. Saya bisa menyelesaikannya sendiri,” tolak Ayyara cepat.
“Kamu yakin bisa membayarnya? Bukankah suara adik kamu terdengar sangat memilukan? Saya yakin masalah keluargamu tidak seringan itu.” Aseva tersenyum, dengan sebelah alis menukik.
“Jangan takut, saya bukan orang jahat, justru saya ingin menolong kamu agar keluar dari masalah keluargamu. Katakan saja kamu butuh berapa, maka saya akan memberikannya padamu,” ucap Aseva.
“Tapi ....”
“Kamu yakin tidak mau?”
Bola mata Ayyara berputar ke segala arah, lalu tertutup dengan napas terembus kasar. Ini adalah tawaran yang sangat menggiurkan, tetapi Ayyara tidak tahu harus melakukan apa. Jika menerima, Ayyara takut malah terjebak dengan wanita bernama Aseva ini. Namun, Ayyara tidak yakin juga bisa mendapatkan uang delapan puluh juta dalam waktu dua hari.
“Saya mau,” sahut Ayyara cepat.
Aseva tersenyum, lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. “Saya akan melunasi hutang kamu, dan saya jamin ekonomi keluarga kamu terjamin. Tapi, tetap ada syarat yang saya ajukan.”
Dahi Ayyara berkerut, bingung dengan ucapan Aseva. “Kalau boleh tahu, apa syaratnya?”
__ADS_1
“Goda anak saya sampai dia berpisah dengan istrinya. Jika kamu berhasil, saya akan berikan lagi lima persen saham saya kepada kamu!”
“Apa?!”
Mata Ayyara melotot sempurna, ucapan Aseva mampu membuat jantungnya berdetak cepat. Syarat macam apa itu? Mengapa sangat menakutkan? Jika diartikan, bahasa kasarnya adalah, Ayyara dijadikan sebagai pelakor di rumah tangga putranya. Sungguh, Ayyara tidak menginginkan itu.
“Tidak adakah syarat yang lain, Nyonya?” tanya Ayyara dengan suara tercekat.
“Tidak. Saya hanya menginginkan kamu menjadi penghancur rumah tangga putra saya. Buat mereka berpisah, tetapi jangan pernah jatuh cinta dengannya!”
“Tapi Nyonya, apa alasan saya harus melakukan itu?”
“Kamu tidak perlu banyak tanya, lakukan saja apa yang saya perintahkan, jika kamu ingin saya melunasi hutang-hutangmu!”
“Saya tidak bisa,” ucap Ayyara lirih.
Tidak penting jika hutangnya tidak lunas, yang penting Ayyara bisa melakukan hal yang baik di dunia ini. Menjadi seorang pelakor, sama saja mengantarkan dirinya ke lubang kegelapan meskipun semua ini hanya suruhan.
“Kamu adalah seorang Kakak yang tega, membiarkan adik dan ibumu dalam masalah!”
“S-saya ....”
“Tega, kamu Ayyara!”
Bayangan tangis ibu dan adiknya memenuhi kepala Ayyara. Gadis berusia 20 tahun itu mencengkeram kuat sisi meja, mencoba menyalurkan rasa takutnya di sana. Tidak! Dia tidak akan membiarkan keluarganya tersiksa.
“Baiklah, saya menerima tawaran Anda!”
“Deal?”
“Deal!” Ayyara langsung menyambut jabatan tangan Aseva.
Bibir Aseva tertarik membentuk sebuah senyuman seringai. Dia menatap wajah pucat pasi Ayyara dengan perasaan bahagia.
__ADS_1
**
Teman-teman, ayo mampir ke karya baru saya