
Pagi ini Arnold berniat untuk kembali kerja, sudah cukup waktu tiga hari dia libur karena menikah. Arnold tidak ingin membebankan pekerjaannya pada orang di kantor, pasti mereka sangat kelelahan.
Dibantu dengan mbak Yuni, Tiara menyiapkan sarapan pagi untuk Arnold. Sesekali gadis itu menguap karena kurang tidur, bagaimana bisa dia tidur nyenyak sedangkan di sana ada Arnold. Yang kapan saja bisa melahapnya. Tiara bergidik ngeri membayangkan itu.
"Nyonya, kenapa?" Mbak Yuni menatap Tiara dengan bingung.
"Nggak, kok, Mbak. Nggak apa," jawab Tiara sambil menggelengkan kepala.
"Oh, iya. Panggil Tiara aja, Mbak. Nggak perlu pake Nyonya-Nyonya segala," sambung Tiara.
Jujur dia memang tidak suka panggilan itu, Tiara menikah dengan Arnold bukan karena cinta apalagi hartanya. Jadi, sangat tidak pantas bila dia dipanggil 'Nyonya'. Meskipun Tiara selalu mengaku bahwa dia ratu di rumah itu.
Ketika melihat Arnold sudah duduk di kursi makan, Tiara segera menghampiri. Mengambilkan nasi beserta lauk, layaknya seorang istri benaran. Semua karena ada mbak Yuni dan beberapa pelayan, kalau saja tidak, Tiara enggan melakukannya.
"Terima kasih, istriku," ucap Arnold. Mencoba tersenyum meskipun hanya sedikit.
"Iya, sama-sama," balas gadis itu. Tidak lupa tersenyum juga.
Tiara izin membantu mbak Yuni lagi, dan Arnold mengizinkannya. Gadis itu hanya tidak ingin berduaan dengan pria yang sangat dia benci, eneg rasanya.
__ADS_1
"Loh, Neng Tiara kenapa ke sini? Nggak nemenin Tuan?" Mbak Yuni tampak bingung.
"Nggak, Mbak. Mau bantu Mbak aja, gak papa, kan?"
"Boleh, kok, Neng. Tapi ...."
"Udah, Mbak. Nggak usah dipikirin."
Tiara memilih melanjutkan kegiatannya, kini mencuci piring. Dengan cepat dia menggosok spon pada piring, setelah itu barulah membilasnya. Sedangkan mbak Yuni sejak tadi tidak mengalihkan pandangan dari Tiara, menelisik waja gadis itu yang kelihatan pucat.
"Neng, kenapa wajahnya pucat? Lagi sakit, ya?" tanya mbak Yuni sambil mendekati Tiara.
Mendengar jawaban Tiara, mbak Yuni hanya mengulum senyum. Entah apa yang ada dipikiran wanita setengah baya itu, yang jelas pasti tentang pernikahan Tiara. Apalagi ini masih masa-masa bahagia pengantin, sungguh pikiran mbak Yuni sudah sangat jauh. Padahal, keduanya belum melakukan apa-apa. Tiara juga tidak mempermasalahkan itu, dia memilih menghampiri Arnold yang tampaknya sudah selesai.
"Apa perlu aku membawa makan siang, nanti?" tanya Tiara sambil membereskan piring bekas Arnold.
"Boleh. Tapi kamu tidak sibuk, kan?"
"Tidak. Waktuku luang sekarang," kata Tiara. Arnold hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Melihat Arnold yang akan beranjak, Tiara juga ikut. Gadis itu akan mengantar Arnold setidaknya sampai teras rumah.
"Tuan Arnold!"
Panggilan seseorang membuat Arnold dan Tiara langsung mengalihkan pandangan. Terlihat seorang pria berpakaian kantor tengah berlari ke arah mereka.
"Fan?"
"Maaf, Tuan. Saya baru bisa bekerja kembali," ucap pria itu. Yang tidak lain dan bukan adalah Fan. Tangan kanan Arnold.
"Bagaimana keadaan nenekmu?"
"Sudah mulai membaik," jawab Fan.
"Syukurlah." Arnold segera meraih tas yang ada pada Tiara.
Fan mengalihkan pandangannya, melihat sosok gadis yang ada di sebelah tuannya. Sedikit senyum terlukis di bibir pria itu. Dia hanya tidak percaya, bahwa mereka benar-benar sudah menikah.
"Selamat, Tuan dan Nyonya. Maaf karena saya tidak bisa menghadiri pernikahan kalian," ucap Fan dengan ramah.
__ADS_1
Tiara tersenyum dan segera menjawab, "Tidak masalah. Kami mengerti."