Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 33


__ADS_3

Tiara ikut kembali ke rumah Arnold, sebab pria itu tak mengizinkan dia untuk tinggal dengan pamannya. Bukan apa-apa, hanya takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Selama berjalannya makam malam, tak ada satu pun di antara keduanya membuka percakapan. Terlalu canggung setelah melewati satu hari bersama.


Mbak Yuni yang melihat itu, pun hanya bisa diam. Dia membereskan semua makanan dan piring, sedangkan Tiara hanya duduk karena tak diizinkan oleh Arnold.


“Aku kasihan melihat Mbak Yuni melakukan ini semua sendiri. Bolehkah aku membantunya, Tuan?” tanya Tiara. Berharap Arnold mengizinkan.


“Sudah kukatakan, kamu cukup diam!” tekan pria itu dengan nada tegas.


Sejujurnya Tiara juga ingin lepas dari keadaan hening seperti ini. Dia lebih baik mencuci piring dari pada harus berdua-duaan dengan Arnold. Yang pastinya akan menimbulkan tanya bagi pelayan lainnya.


“Aku sudah memberi tahu Mamah. Mungkin lusa baru bisa ke rumah pamanmu, untuk melamar secara resmi,” ucap Arnold.


“Hemm, baiklah. Aku ikut Tuan saja, bagaimana baiknya,” jawab Tiara.


Tidak mungkin juga dia menolak, semua sudah diatur sedemikian rupa. Jadi, sekarang Tiara cukup mengangguk dan mengikuti alurnya saja. Bohong berdua, menjalaninya pun harus berdua. Prinsip gadis itu. Namun, masih ada keraguan di dalam hati. Bagaimana kalau nanti sang mamah Arnold tahu semua ini?


Astaga Tiara, bagus dong kalau calon mertua kamu itu tahu. Biar kamu bisa lepas dari si Tuan dingin nan datar.


“Jangan berharap ada perpisahan. Karena pernikahan ini harus berjalan selama satu tahun!” Arnold kembali membuka suara.


“Berarti kalau lewat satu tahun, boleh dong berpisah?” tanya Tiara sambil menarik turunkan alisnya.


“Kenapa? Apa hartaku kurang banyak?”


“Bukan masalah harta, hanya saja, aku yang tak cinta,” jawab Tiara dengan jujur.

__ADS_1


Bahu Arnold melepas. Benar juga, mereka tak saling mencintai, untuk apa mempertahankan hubungan tanpa cinta. Yang ada, akan terasa hambar nantinya.


“Jika Tuhan belum membolak-balikkan hatiku,” ucap Tiara lagi.


Arnold mengerutkan dahi, pertanda bahwa dia bingung. “Maksudnya?”


“PR untuk Tuan. Kalau gitu aku ke kamar duluan,” pamit Tiara sembari melambaikan tangan ke arah Arnold, dengan senyuman mengejek.


Sedangkan sang empu, terdiam sembari memikirkan perkataan Tiara tadi. Maksudnya apa? Sepertinya Arnold memang harus mencari tahu.


**


Tring


Sebuah pesan yang masuk lewat aplikasi hijau berlogo gagang telepon itu, hanya Tiara lihat saja. Sebab, dia sudah malas saat melihat nama si pengirim. Siapa lagi kalau bukan ‘Arnoldku Sayang’. Ya, calon mertuanya yang membuatkan nama itu dulu, ketika baru pertama kali dibelikan ponsel.


Lagian, tak ada untungnya membalas pesan Arnold. Lebih baik melanjutkan menonton drama Korea saja, mampu mengembalikan moodnya dibanding isi pesan itu.


Tring


Ponsel Tiara kembali berdering, pertanda ada pesan masuk lagi. Dengan malas dia keluar dari laman YouTube dan membuka aplikasi WhatsApp.


[Nggak baik pesan calon suami hanya dilihat saja! Dasar tidak sopan!]


[Maaf. Tapi Anda yang tidak sopan, mengirim pesan malam-malam.] Akhirnya Tiara berinisiatif membalas karena geram.

__ADS_1


Seharusnya Arnold tahu, mau dibalas atau tidaknya pesan itu, kan hak Tiara. Dasar Tuan pemaksa.


[Terserahku. Ini diriku, bukan dirimu!]


[Ya, sudah. Terserahku juga, mau membalasnya atau tidak.]


Benar-benar tuan menjengkelkan. Kalau tak ingat sedang menumpang saja, sudah pasti Tiara akan datang ke kamar pria itu, dan memberinya pelajaran.


[Benar kata orang. Perempuan tidak pernah salah dan mau mengalah!]


 **


Ops, Tuan Arnold belum tahu. Wajib perempuan selalu benar!😂


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2