Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 31


__ADS_3

Pukul 09.00 pagi, Arnold dan Tiara sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah paman Tiara. Mereka sudah masuk ke dalam mobil, dan bersiap untuk pergi agar tak terlalu lama untuk sampai di sana.


“Kamu masih tidak yakin denganku?” Pertanyaan Arnold membuat Tiara menoleh.


“Iya,” jawab Tiara mantap.


Gadis itu tersenyum dan mengambil sabuk pengaman untuk dipasang. Meski ada sedikit ketakutan, tetapi Tiara tetap positif thinking karena pamannya pasti tak akan menerima. Malas berdebat, Arnold memilih untuk segera menghidupkan mesin mobil. Lalu mengemudi untuk meninggalkan rumah.


Dalam perjalanan hanya ada keheningan, dua manusia di dalamnya seperti enggan untuk membuka suara satu sama lain. Sebenarnya banyak yang ingin diungkapkan Tiara, tetapi malas ketika melihat wajah dingin Arnold. Akhirnya sepanjang jalan mereka dalam kebisuan.


Gemetar. Tubuh Tiara panas dingin ketika melihat gerbang tinggi nan kokoh menjulang sebagai pembatas antara jalan dan halaman rumah. Dari jarak beberapa meter pun, Tiara juga dapat melihat bangunan rumah megah dan mewah pamannya.


“Kamu kenapa?” Arnold mengalihkan pandangannya ke arah Tiara setelah melepas sabuk. Dia mengerutkan keningnya ketika melihat keringat yang muncul di kening gadis itu.


“Hah? Apa?” Tiara kaget, dia segera memperbaiki posisi duduknya.


“Kita sudah sampai,” ucap Arnold sambil menunjuk ke depan.


“Oh, iya? Ayo turun,” ajak Tiara sembari membuka sabuk pengamannya.


“Iya.”


Keduanya turun bersamaan. Arnold langsung berjalan menghampiri Tiara, tiba-tiba pria itu menggenggam tangan Tiara dengan erat. Membuat sang gadis bingung melihat tingkahnya.

__ADS_1


“Kenapa digenggam, Tuan?” tanya Tiara dengan polos.


“Biar kamu nggak hilang,” jawab Arnold santai. Lalu menarik tangan Tiara agar segera mengikuti langkahnya.


Mereka disambut dengan hangat oleh satpam rumah paman, tetapi ketika sampai di halaman rumah, banyak sekali bodyguard yang berjaga di sana. Semua orangnya masih sama ketika Tiara masih tinggal di rumah ini.


“Aku takut.” Tiara berbisik dengan tangan yang semakin erat menggenggam tangan milik Arnold. Lalu gadis itu juga merapatkan tubuhnya dengan sang majikan.


“Tidak perlu takut, ada aku,” kata Arnold mencoba menenangkan Tiara.


Tanpa mengatakan apa pun, satu pria yang bekerja sebagai bodyguard mengajak mereka untuk masuk. Tak ingin berlama-lama, Arnold menurut saja.


Warna cat serta isi dari rumah mewah ini, masih sama dengan yang dulu. Rasa rindu menyeruak dalam hati, ketika Tiara melihat fotonya dengan sang paman yang tertempel di dinding. Andai. Andai saja pamannya bukan pria jahat yang ingin menjualnya, sudah pasti Tiara tak akan kabur dan mereka hidup bahagia. Namun, semua sudah terjadi dan tidak mungkin bisa diulang kembali.


“Terima kasih, Paman,” ucap Tiara sembari duduk mengikuti Arnold.


Mereka semua saling diam, belum ada yang mau membuka suara. Tidak ada minuman atau makanan sebagai jamuan tamu, sepertinya sang paman masih marah pada Tiara makanya tidak menjamu mereka dengan baik.


“Aku datang ke sini untuk melamar keponakanmu, Tiara.” Arnold membuka suara dan langsung to the poin.


“Haha, tidak bisa!” sahut paman.


“Apa uangku belum bisa meyakinkan, Anda?” tanya Arnold menekan setiap katanya.

__ADS_1


“Tiara akan menghasilkan uang lebih banyak, jika aku menikahkan dia dengan pria kaya raya di kompleks ini,” ucap paman Tiara dengan senyuman remeh.


“Berani berapa dia?”


Perdebatan semakin alot, Tiara hanya menjadi pendengar dengan jantung berdebar hebat. Satu sisi, dia ingin pamannya menolak lamaran Arnold. Namun, disisi lain dia juga tak ingin menikah dengan pria pilihan pamannya itu.


“Lima ratus juta.” Ucapan sang paman, membuat Tiara terkejut sedangkan Arnold hanya tersenyum.


“Aku bisa memberimu enam ratus juta,” lontar Arnold.


“Haha, dia bisa memberi lebih banyak kalau aku memintanya. Bahkan delapan ratus juta,” sahut sang paman masih meremehkan.


“Oke. Ini penawaran terakhir. Aku akan memberimu satu milyar, jika Anda menerima lamaran ini. Bagaimana?”


Astaga! Ini tidak benar. Bisa-bisanya Arnold mengeluarkan uang sebanyak itu, hanya untuk mendapatkan restu pamannya.


“Oke, deal,” jawab sang paman dengan senyum mengembang.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2