
Jemari Arnold menyentuh pipi Tiara dengan lembut, beralih ke bibir gadis itu, dia mengusapnya berulang kali. Sang empu hanya bisa menahan napas dengan bulir-bulir keringat yang sudah membasahi pelipis. Senyum Arnold mengembang, dia memajukan wajahnya hingga mendekat pada gadis itu. Menggigit kecil cuping telinga Tiara, membuat sang istri menutup mata.
"Arnold ...."
"Ya?" Arnold menatap Tiara dengan senyuman, lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir gadis itu.
Lagi-lagi Tiara memejamkan mata, menahan segala sesak yang diperbuat oleh Arnold. Sekali lagi dia dapat merasakan gigitan kecil dari Arnold, yang disertai dengan embusan napas hangat pria itu.
"Arnold, hmmp ...."
Baru saja Tiara ingin membuka suara, sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir lembut pria itu. Mata keduanya tertutup, menyelami aura lembut yang menyatu. Tangan Arnold memegang belakang kepala Tiara, untuk memperdalam ciuman mereka. Sedangkan Tiara, dia terus memejamkan mata, menikmati setiap gigitan-gigitan kecil dari Arnold.
Tanpa sadar, Tiara mengalungkan tangannya dileher Arnold, membuat pria itu semakin semangat. Dengan gairah yang sudah membara, Arnold semakin menarik Tiara ke dalam pelukannya.
Saat akan mengangkat tubuh sang istri, dering ponsel di meja belakang mereka, mengagetkan keduanya. Terpaksa Arnold melepaskan tautan itu dan segera meraih ponsel. Tiara mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mengumpulkan kesadaran. Tanpa ba bi bu, gadis itu langsung berlari keluar setelah dia benar-benar sadar.
__ADS_1
Dasar bodoh! Bodoh! Bisa-bisanya kamu terhanyut dalam ciuman itu, Tiara.
Sumpah serapah terus terucap dalam hati, Tiara merasa sangat ceroboh. Dia langsung berlari menuju kamarnya di belakang, menutup pintu dengan keras dan menyembunyikan diri di dalam selimut.
"Hampir saja terjadi, hampir," lirih Tiara disertai pukulan kecil di kepalanya.
"Tapi kenapa tadi sangat nikmat," sambung gadis itu sembari membuka selimut. Dia menatap langit-langit kamar sambil mengingat kejadian tadi.
Untuk yang kesekian kalinya, Tiara memukul kepalanya kembali. Dia sungguh tidak bisa terus-terusan begini, bisa-bisa Arnold berhasil membobol dirinya.
**
Di kamar, Arnold baru saja selesai bertelepon dengan Fan. Berulang kali dia menghembuskan napas kasar, ketika tak mendapati Tiara di tempat semula. Padahal, hampir saja tadi dia menikmati surga dunia dengan gadis itu. Namun, semua harus gagal karena telepon dari Fan.
"Lihat saja kau Fan, aku pasti akan memberimu hukuman," tekan Arnold sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Pria itu memilih pergi ke walk in closed untuk memakai baju. Beberapa kali hati Arnold bertanya, untuk apa Tiara datang ke kamarnya? Pasti ada sesuatu yang ingin gadis itu sampaikan. Tanpa basa basi lagi, Arnold langsung keluar dari kamar, berniat menghampiri Tiara di kamarnya.
Langkah Arnold pelan, menyusuri lorong menuju kamar Tiara. Lama dia berdiam diri di depan kamar gadis itu, lalu memutar kenop pintu untuk membuka. Dia sangat bersyukur karena pintunya tak terkunci, jadi memudahkannya untuk masuk begitu saja. Tidak lupa juga Arnold mengunci pintu itu kembali, ketika dia sudah masuk.
Arnold bisa melihat Tiara yang sudah berbaring di rajang, dengan posisi telungkup menatap ke arah jendela. Dengan perlahan Arnold mendekat, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh gadis itu. Memeluk erat Tiara, hingga membuat sang empu tak bisa memberontak.
"Lepas!" pinta Tiara sambil terus menggoyangkan tubuhnya untuk lepas dari pelukan Arnold.
"Nggak. Gini aja dulu, aku suka."
"Tapi aku nggak suka!" tegas Tiara.
"Hmm. Kalau yang kaya' di kamar aku tadi, kamu suka? Mau mengulanginya?" tanya Arnold sembari berguling ke samping Tiara.
"Tidak! Pergi sana! Dasar pria mesum!"
__ADS_1