
Ruangan besar dengan berbagai barang mewah, kini terasa begitu mencekam. Sosok pria dengan pakaian kantor, duduk dengan kaki naik ke atas kaki yang satunya. Sorot mata Arnold begitu tajam, mengarah pada sosok gadis yang kini sedang menunduk seraya mengusap tengkuknya berulang kali.
"Kamu datang ingin bicara apa, Bi?" Arnold membuka suara, dan itu sukses membuat kepala Bianca terangkat.
Meski tadi Fan begitu susah payah menahan Bianca agar tidak menemui Arnold, tetapi gadis itu tetap ngotot dan akhirnya dia kalah. Di sinilah, di ruang utama, Bianca duduk bersama Arnold dan Fan yang tetap senantiasa mengawasi mereka.
"Tentang hubungan kita, Ar!" sahut Bianca antusias.
"Hubungan? Ada apa dengan hubungan kita? Aku merasa kita baik-baik saja," kata Arnold dengan dahi mengerut.
"Aku tidak ingin kita hanya berteman." Ucapan Bianca semakin membuat Arnold bingung.
Dia merasa akan terjadi sesuatu, dan itu pasti bukan hal yang bahagia. Arnold masih menatap Bianca dengan tatapan yang sulit diartikan, sukses membuat gadis itu sedikit gugup untuk mengutarakan niat kedatangannya.
"Maksudmu?" tanya Arnold.
"Aku ingin menjadi istrimu, Ar! Bukankah mamahmu pernah menawarkan sesuatu padaku, pernikahan. Agar aku mau menikah denganmu. Sekarang, aku mau, Ar," ucap Bianca panjang lebar.
Arnold diam, sedangkan Fan sudah melotot. Dia tidak percaya Bianca mempunyai keberanian menawarkan diri untuk menjadi istri kedua Arnold. Ingin rasanya Fan menyeret Bianca dan membuangnya jauh.
__ADS_1
"Arnold, aku sudah bang--" Teriakan Tiara tertahan tak kala melihat Bianca ada di sana.
Sang suami tersenyum kecil, lalu beranjak untuk menghampiri istrinya. Arnold langsung merangkul bahu Tiara, mengajak gadis itu untuk duduk juga.
Sebenarnya saat bangun tadi, Tiara sempat kaget karena dia sedang berada di kamar Arnold. Namun, dengan cepat dia menggeleng dan langsung berlari keluar dari kamar. Tiara malah semakin terkejut, tak kala melihat Bianca di rumah Arnold pagi begini.
"Hay, Mbak Bianca," sapa Tiara ramah sembari menjatuhkan bobotnya di sofa, samping Arnold.
"Hay juga, Mbak." Bianca balik menyapa. Tentunya gadis itu melembutkan suara, agar Tiara luluh padanya yang baik dan sangat sopan.
"Tumben pagi-pagi datang?"
"Ada sedikit urusan," jawab Bianca tak melunturkan senyumannya sedikit pun. Sedangkan sang empu hanya mengangguk-anggukan kepala saja.
"Akan ngobrol sama kamu juga. Karena ini masalah serius," kata Arnold.
Tiara menyipitkan matanya, dahinya pun berkerut karena merasa bingung dengan ucapan Arnold. Hatinya mendadak tidak tenang, takut terjadi sesuatu, tetapi ini yang dia inginkan. Lepas dari Arnold secepatnya, agar dia bisa hidup bahagia tanpa ikatan menyakitkan seperti ini.
"Serius apa? Kenapa aku merasa takut, ya?" Tiara tertawa kecil menanggapi ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Dia datang menawarkan diri untuk menjadi istri keduaku."
Mata Tiara melotot sempurna, mulutnya nyaris terbuka. Yang benar saja, mereka baru menikah beberapa hari, tetapi sudah ada saja yang menawarkan diri untuk menjadi istri suaminya. Tiara sungguh tidak percaya ini, mulutnya mendadak keluh untuk mengucap sepatah kata pun.
"Tetapi aku akan menolaknya, karena cuma kamu yang ada di hatiku," sambung Arnold sambil memeluk tubuh Tiara dari samping.
"Arnold! Kamu serius?"
"Iya, Bianca. Aku tidak mungkin menduakan istriku."
Nah, loh mbak Bianca. Mas Arnold nggak mau mendua😂
Maaf baru up guys, kemarin saya benar-benar tidak memiliki ide. Terima kasih buat yang sudah menunggu.
♥️Sebaik-baik bacaan adalah Al-Qur'an
♥️No plagiat karena ini karya asli Bae Lla
*♥️**Jangan lupa komen dan like, juga hadiah bila ada yang berkenan memberikan*
__ADS_1
Salam hangat dari saya
Bae Lla