Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 37


__ADS_3

Mengingat ucapan salah satu pelayan di rumah Arnold, Tiara terus tertawa karena merasa geli. Gadis itu begitu jujur padanya, padahal dia ini sudah berstatus tunangan Arnold dan sebentar lagi akan menikah.


Kalau saja dia tahu sejak lama ada sosok gadis yang mencintai Arnold, sudah pasti Tiara akan meminta gadis itu untuk menggantikan dia. Namun sayang, semua sudah terlambat. Tak ada lagi yang perlu di sesali.


Selesai mengenakan pakaian, Tiara berniat untuk keluar dari kamar. Meski nyaman terus berbaring di kasur, tetapi dia juga bosan bila terus tiduran saja. Tiara berinisiatif untuk membantu mbak Yuni dan mbok di dapur saja. Ketika dia sampai di dapur, ternyata makanan sudah tertata rapi di meja. Semua terlihat enak, aroma masakan menguar ke udara dan menyapa indera penciuman Tiara. Membuat gadis itu tak tahan untuk mengabaikan makanan di meja.


Sayangnya dia tidak berani untuk mengambil makanan itu, karena semua pasti khusus untuk makan malam Arnold. Akhirnya Tiara memilih mendekati mbak Yuni, menanyakan apa ada makanan yang bisa dia makan.


"Mbak," panggil Tiara.


"Iya, Neng. Ada apa?" tanya mbak Yuni. Menghentikan aktivitas mencuci piring.


"Ada makanan yang bisa Tiara makan?" Tiara tersenyum malu, sedangkan mbak Yuni hanya geleng-geleng kepala saja.


"Kan, Neng bakalan makan bareng, Tuan," ujar mbak Yuni.

__ADS_1


Tiara hanya mengangguk, tanpa bertanya lagi dia pergi dari dapur. Ruangan utama sudah terlihat bersih, dua orang yang menemuinya siang tadi terlihat tengah duduk di lantai. Sepertinya mereka kelelahan selesai membersihkan rumah.


"Apa ada yang belum dikerjakan?" tanya Tiara pada mereka.


Sebenarnya aneh, ada enam pelayan perempuan khusus membersihkan rumah. Namun, mereka selalu menyelesaikan semuanya malam hari. Sepertinya Tiara harus memaklumi, karena rumah Arnold memang cukup besar.


"Tidak perlu, Nona. Biarkan kami yang menyelesaikannya," ucap salah satu dari mereka. Gadis berambut pirang, Mima.


"Kelihatannya kalian sangat kelelahan, jadi tidak ada salahnya jika aku membantu," ujar Tiara.


Belum sempat Mima menjawab, terdengar bel rumah berbunyi. Tiara hendak berbalik, tetapi langkahnya terhenti dengan gerakan cepat gadis bertubuh gempal yang tadi duduk di lantai. Riana.


Dia menggelengkan kepala seraya tersenyum ke arah Mima, sedangkan gadis itu menunduk malu. Kalau sudah bucin, memang selalu bertingkah aneh. Tiara membiarkan Riana yang membuka pintu, dia memilih menunggu saja.


"Kamu ngapain di sini?" Arnold berjalan menghampiri Tiara, membuat Mima lekas berdiri dan menunduk hormat.

__ADS_1


"Nggak ngapa-ngapain, kok," jawab Tiara seraya tersenyum.


Arnold mengangguk. Pria itu menggeser tubuhnya lebih mendekat pada Tiara, tangannya terangkat mengusap rambut gadis itu.


"Romantis banget, sih, kamu." Tiara bergelayut manja di lengan Arnold, membuat pria itu mengerutkan dahi. Bingung.


"Kamu kenapa?" tanya Arnold sembari menoleh ke arah Tiara.


"Rindu kamu."


Pria yang masih lengkap dengan pakaian kantor itu, semakin bingung dengan sikap Tiara. Padahal niatnya tadi, dia hanya ingin membuang kapas yang ada di rambut Tiara, tetapi sepertinya Tiara salah mengartikan.


Sedangkan Tiara sengaja bermanja pada Arnold untuk memanas-manasi Riana. Benar saja, gadis itu melihat dengan wajah cemberut. Semakin membuat Tiara bersemangat untuk menjahili.


"Kamu mau mandi? Ayo, biar aku siapkan pakaian," ajak Tiara seraya menarik lengan Arnold dengan manja.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu kenapa, sih? Sakit?" tanya Arnold bingung.


__ADS_2