
Perkataan mbak Yuni tadi masih mengganggu pikiran Tiara, gadis itu jadi tak fokus saat membantu memasak di dapur. Sesekali dia menghela napas saat salah memotong cabai malah talenan.
Seharusnya dia tak perlu memikirkan itu, toh, punya atau tidaknya itu bukan urusan Tiara. Namun, entah mengapa dia begitu kepo. Apalagi Arnold dan kekasihnya itu, tak terlihat seperti pasangan di luar sana. Apa mungkin karena Arnold dingin?
“Neng, kenapa melamun?” Suara mbak Yuni mengagetkan Tiara.
“Eh. Nggak, kok, Mbak.” Tiara tersenyum dan menggeleng berulang kali.
“Mbak lihat loh dari tadi. Ada masalah apa? Cerita sama, Mbak,” ucap mbak Yuni.
Tiara menggaruk kepalanya, lalu menjawab, “Nggak, kok, Mbak. Tiara gak ada masalah apa pun.”
Akhirnya mbak Yuni percaya dan tak mendesaknya lagi. Mana mungkin Tiara cerita, bahwa dia terus memikirkan Arnold. Yang ada, entar wanita di sampingnya ini, jadi curiga.
**
Suasana meja makan cukup menegangkan, hanya denting sendok dan piring yang saling beradu, yang terdengar. Tiara yang berdiri tak jauh dari meja berada, sesekali melihat ke arah majikannya.
Kekasih Arnold belum kembali, malah sekarang sedang ikut makan bersama pria itu. Selama pengawasan Tiara, tak sekali pun dia melihat mereka berbicara. Biasanya kalau sepasang kekasih itu saling menyuapi, atau berkata romantis. Ini sama sekali tidak terjadi.
“Tiara,” panggil Arnold.
Tergopoh-gopoh Tiara datang menghampiri Arnold. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya gadis itu.
“Sepertinya kekasihku ingin minum air dingin, tolong ambilkan,” pinta Arnold seraya menatap Tiara. Namun, tatapannya kelihatan tak begitu serius, seperti ada sesuatu yang pria itu sembunyikan.
“Baik, Tuan.” Tiara menurut saja.
Kembalinya dia mengambil minum di kulkas, pemandangan di meja makan membuat langkah Tiara terhenti. Arnold tengah mengusap bibir kekasihnya dengan tisu, dan itu sukses menggetarkan hati Tiara.
Enggak! Aku nggak cemburu.
Dia terus meyakinkan hati dan kembali berjalan untuk meletakkan minum. Ya, mana mungkin Tiara cemburu. Itu hanya terkejut saja, ya, terkejut.
__ADS_1
“Ini minumnya, Non,” ucap Tiara sembari meletakkan gelas di meja.
“Panggil Area saja.” Gadis yang diakui sebagai kekasih Arnold, tersenyum ke arah Tiara dengan begitu ramah.
“Non Area,” ucap Tiara, mengulang kembali. Tetap memakai embel-embel ‘non’ agar terlihat sopan.
“Ah, baiklah, tidak masalah. Tapi seharusnya tak perlu berlebihan,” ujar Area.
Tiara hanya tersenyum menanggapi, lalu dia kembali ke posisinya tadi. Meski kakinya sudah lelah berdiri terus, tetapi dia tak ingin membuat Arnold marah.
“Kau tak ingin makan?”
Sebuah pertanyaan yang terlontar dari mulut Arnold, membuat gadis yang kini mengeluh capek di hatinya, melihat ke arah pria itu. Dia bingung, Arnold bertanya padanya atau Area?
“Tiara, kau tak ingin makan?” Lagi, Arnold mengulang pertanyaan yang ternyata benar untuk Tiara.
“Hah? Aku?” Tiara menunjuk dirinya dengan wajah terkejut.
“Hmm.”
Arnold terlihat menghembuskan napas, lalu pria itu meraih gelas berisi air minum dan menenggaknya hingga tandas.
“Kemarilah,” pinta pria itu seraya melambaikan tangan ke arah Tiara.
“Aku lagi?” tanya Tiara.
“Hais, kau ingin lola (loading lama) atau bagaimana? Jelas-jelas aku melambai ke arahmu,” ketus Arnold dengan perasaan kesal.
Akhirnya mau tak mau Tiara berjalan lebih mendekat lagi. Namun, tak duduk di kursi makan karena sungkan. Dia memilih berdiri kembali, sampai tangan Arnold menarik lengannya hingga membuat gadis itu terduduk dengan paksa.
“Tuan! Apa yang Anda lakukan?” Jujur, Tiara sangat terkejut dengan perbuatan Arnold.
“Diamlah!” tegas pria itu.
__ADS_1
Arnold bergerak mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk. Setelahnya dia menaruh piring itu di depan Tiara.
“Makanlah agar kau tak sakit,” kata Arnold.
“Eh?”
Sebenarnya ada apa ini? Kenapa Arnold jadi berubah gini? Dan lagi, pria itu apa tidak memikirkan perasaan kekasihnya? Tiara sungguh dibuat untuk berpikir lagi, apalagi ketika melihat Arnold yang malah peduli padanya dibanding Area.
“Aku tahu kau cemburu.”
Bisikan Arnold membuat Tiara tersedak, lekas dia mengambil minum dan langsung menenggaknya.
“Apa yang Tuan katakan? Aku tidak cemburu,” sangkal Tiara cepat.
“Terlihat dari matamu,” sahut Arnold tak mau kalah.
Tiara diam. Apa iya matanya memancarkan aura cemburu? Lagian, mana mungkin dia suka dengan Arnold. Ini sangat tidak mungkin.
“Aku bisa memutuskan dia, jika kau mau menikah denganku,” bisik Arnold lagi.
“Jangan gila!” sentak Tiara.
Arnold berbalik arah. “Area, kita putus.”
Heh! Tiara ingin melempar piring ke kepala Arnold rasanya. Gampang sekali pria itu melayangkan kata putus. Dia pikir hubungan adalah permainan.
**
Dukungannya ya guys, berupa kopi atau bunga. Biar othor juga semangat. Buat yang baca cerita ini tapi gak like, pliss, budayakan menghargai sebuah karya. Karena saya membuatnya, juga menghargai otak dan hati yang harus berjuang untuk berpikir dan mengolah kata ini.
Salam enam agama. Terima kasih. Bae Lla.
__ADS_1