
Dengan dijemput asisten Fan, Tiara akan pergi ke kantor Arnold untuk mengantar makanan. Berulang kali gadis itu mengecek penampilannya, sebab dia tidak ingin membuat Arnold malu karena memiliki istri seperti dia. Ketika dirasa sudah cukup, Tiara memilih menatap luar jendela. Melihat berbagai bangunan pencakar langit yang menjulang tinggi.
"Apa Nyonya ingin berhenti di suatu tempat?" Asisten sekaligus sekretaris Arnold membuka suara.
"Tidak, Mas. Lanjut saja," jawab Tiara.
"Panggil asisten saja, Nyonya. Takutnya nanti Tuan Arnold marah," pinta Fan karena tidak enak.
"Marah? Tidak. Jangan khawatir." Tiara tersenyum meyakinkan Fan bahwa semua akan baik-baik saja.
Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya, Tiara yang sibuk dengan dirinya sendiri. Begitu pun Fan yang sibuk mengemudi. Tak sampai setengah jam, mobil yang membawa Tiara sudah memasuki halaman parkir kantor Arnold. Gegas gadis itu turun, tidak lupa membawa bekal yang sudah dia persiapkan untuk suaminya.
Saat akan masuk, Tiara berpapasan dengan Bianca. Tampaknya gadis dengan pakaian formal itu terkejut melihat istri Arnold ada di sana, tetapi langsung mengubah mimik wajahnya menjadi biasa saja.
"Wah, Mbak Bianca, di sini juga?" Tiara tersenyum ramah pada Bianca.
"Iya." Bianca tampak gugup saat menjawab sapaan Tiara. Namun, dia tetap membubuhkan senyuman agar tidak disangka sombong.
__ADS_1
Sedangkan pria yang kini berdiri di belakang Tiara, mendadak waswas melihat pertemuan antara dua gadis itu. Fan sangat tahu bahwa Bianca datang ke kantor ini pasti ingin menemui bosnya. Sedangkan sekarang sedang ada Tiara, bisa gawat darurat. Bakalan panjang urusannya, pikir dia. Tanpa pikir panjang, Fan langsung mengirim pesan pada bosnya dan meminta pria itu untuk turun dan melihat situasi ini sendiri.
"Ada perlu ya, Mbak?" tanya Tiara lagi. Sengaja ingin mencairkan suasana sekaligus melihat mimik wajah gadis di depannya, yang begitu lucu dimatanya.
"Ah, iya, Mbak. Sedang ada perlu. Mbak sendiri?"
"Mau nganterin bekal suami," jawab Tiara jujur.
Di saat keduanya sedang cukup serius, Arnold datang dengan wajah tak kalah waswas dari Fan. Pria itu langsung menghampiri sang istri, menggenggam jemari Tiara dengan erat.
"Loh, kok, turun? Padahal aku baru saja mau masuk," kata Tiara sambil melihat ke arah Arnold.
Lalu Arnold melirik ke arah Bianca, tampak gadis itu tersenyum manis sambil menyelipkan anak rambut. Melihat itu, Tiara menatap dengan geli. Rupanya seperti itu seorang gadis, bila dihadapkan dengan seseorang yang dia cinta. Ya, kelihatannya Bianca memiliki rasa pada suaminya.
"Ayo, masuk. Aku temani makan siang," ajak Tiara.
"Hmm." Arnold membalas dengan deheman.
__ADS_1
"Kami masuk duluan ya, Mbak," pamit Tiara pada Bianca.
Ketika pasangan suami istri itu akan beranjak, tiba-tiba Bianca kembali membuka suara. "Tunggu Arnold!"
"Ada apa?" tanya Arnold. Dengan malas pria itu berbalik.
"Aku ingin bicara," ujar Bianca tak memedulikan tatapan Tiara.
Arnold menghembuskan napas dengan kasar, sebenarnya dia enggan bertemu Bianca. Namun, rasanya juga tak enak bila menolak. Arnold tidak ingin gadis ini berpikiran macam-macam.
"Tunggu aku di cafe dekat kantor. Setelah makan siang dengan istriku, aku akan datang ke sana," pinta Arnold yang langsung mendapat anggukan dari Bianca.
Setelah kepergian temannya itu, Arnold mengajak Tiara untuk masuk. Dia memilih makan di ruangannya saja, sebab tidak ingin diganggu oleh siapa pun.
[Kau yakin, Tuan? Apa Nyonya tidak akan marah?]
Arnold hanya membaca pesan yang Fan kirim tanpa berniat membalasnya. Lalu pria itu semakin mengeratkan genggaman pada tangan Tiara dan mengajak gadis itu untuk masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
**
Happy reading semuanya. Jangan lupa like dan kirim hadiah, ya? Biar othor semakin semangat buat lanjutin cerita ini.