Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 69


__ADS_3

"Mama telepon aku, minta kita buat datang ke rumahnya."


Arnold yang baru saja masuk ke dalam kamar, langsung memberitahu perihal permintaan sang mamah. Tentu saja Tiara bingung, pasalnya hari sudah malam.


"Ada apa, ya? Kok, malam-malam begini?" tanya Tiara sembari beranjak dari ranjang. Dia baru saja ingin memejamkan mata, tetapi urung karena kedatangan Arnold.


"Entahlah, aku pun tidak tahu," balas Arnold.


Pria itu lebih dulu masuk walk in closed untuk mengganti bajunya. Setelah Arnold keluar, kini giliran Tiara yang masuk. Keduanya sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah orang tua Arnold. Meskipun merasa khawatir, tetapi Tiara tetap bungkam. Dia hanya tidak ingin banyak bicara.


Ketika dirasa sudah selesai, Arnold segera mengajak Tiara untuk keluar. Dia merasa sangat kasihan melihat istrinya itu, wajahnya sudah sayu karena mengantuk. Namun, mamahnya juga tidak bisa dibantah.


Di perjalanan, keduanya enggan membuka suara satu sama lain. Hanya derum mobil yang terdengar, bersamaan dengan kendaraan lain. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Tiara menyandarkan kepalanya di kaca mobil. Lambat laun, mata wanita itu terpejam seiring mobil yang terus bergerak.


**


"Tiara, bangun." Arnold menepuk pelan pipi Tiara, berniat membangunkan sang istri.

__ADS_1


"Tiara, Sayang, bangun." Sekali lagi Arnold melakukannya, barulah Tiara menggeliat.


Perlahan mata indah itu terbuka, Tiara mengerjap berulang kali. Hanya ingin mengenali tempat. Dia segera duduk tegak, menatap Arnold dan meminta pria itu untuk membantunya turun dari mobil.


"Maaf, aku ketiduran," cicit Tiara. Tangannya sibuk mengusap wajah.


"Tidak masalah. Aku tahu kamu mengantuk."


"Hemm, apa mamah belum tidur?" tanya Tiara sembari menatap sekitar teras rumah.


"Belum. Mamah pasti menunggu kita, kan, mau berbicara," ucap Arnold. Tiara mengangguk saja.


Jantung Tiara berdetak lebih kencang, dia merasa akan terjadi sesuatu. Perlahan, genggaman tangannya pada lengan Arnold, mengerat. Seolah-olah tidak mau ditinggal oleh pria itu. Arnold yang merasakan genggaman Tiara, menoleh ke arah istrinya seraya tersenyum.


"Semua akan baik-baik saja," ucap Arnold menenangkan. Dia juga mengusap wajah istrinya yang pias itu.


Tidak seperti biasa, Aela tetap duduk ketika sepasang suami istri itu sampai di ruang tamu. Wajahnya yang selalu menampilkan senyuman, kini dingin tak berekspresi. Arnold yang merasa telah terjadi sesuatu, memilih untuk segera duduk. Tentu saja Tiara mengikut, bahkan wanita itu sangat menempel pada Arnold.

__ADS_1


"Ada apa, Mamah meminta kami datang malam-malam begini?" Arnold langsung membuka suara. Hanya tidak ingin, suasana semakin mencekam.


"Ada yang ingin Mamah sampaikan," jawab Aela, tetapi wajahnya tetap tidak berekspresi.


Kini tatapan Aela beralih pada Tiara, membuat wanita itu menunduk. Tatapan yang dulu sangat lembut, kini berubah datar. Tiara bingung plus takut, dia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi kenapa mertuanya menatap begitu?


"Mah, jangan melihat Tiara seperti itu. Dia ketakutan," tegur Arnold.


"Memangnya kenapa dengan tatapan Mamah? Biasa saja," sahut Aela.


"Mamah ini kenapa, sih?"


Merasa tak tahan lagi, Arnold to the point. Pandangannya tetap mengarah pada sang mamah, mencoba mencari sumber masalah di sana. Namun, sejurus kemudian pandangan Arnold teralih pada sang papah. Pria itu tampak tersenyum seringai ke arahnya, membuat Arnold geram.


"Kalian yang kenapa? Kamu kenapa, Nak? Arnold? Tiara?!" teriak Aela dengan mata tajamnya.


**

__ADS_1


Nah, loh. Ada apa dengan mamah Aela?


__ADS_2