
Sudah hampir sepuluh kali Tiara bolak balik kamar mandi karena mual. Tiba-tiba saja dia merasa mual ketika bangun tidur, dan anehnya, ketika muntah yang keluar hanya cairan berwarna putih. Dengan tenaga yang masih tersisa, Tiara kembali ke kamar mandi ketika mual itu datang kembali.
Mendengar suara orang muntah, perlahan mata Arnold mengerjap lalu terbuka. Karena nyawa yang belum terkumpul sempurna, jadi pria itu belum beranjak dari kasur. Perlahan dikucek kedua mata dengan tangan, pandangan Arnold beralih ke samping. Ketika tidak mendapati sang istri di sana, dia langsung meloncat dengan wajah khawatir.
“Tiara! Sayang, kamu di mana?” teriak Arnold sambil menatap ke setiap penjuru ruangan.
Sayang tidak ada jawaban. Tiara masih sibuk di kamar mandi, hingga suara air yang mengucur dari keran, membuat Arnold bernapas lega. Dia langsung berjalan ke arah kamar mandi, tetapi khawatir kembali melanda ketika mendengar Tiara yang muntah-muntah.
“Sayang, kamu kenapa?” Arnold benar-benar khawatir.
“Aku masuk, ya?” Lagi-lagi tidak ada jawaban. Akhirnya Arnold berinisiatif untuk masuk saja.
Di dalam dia melihat istrinya tengah berdiri sambil berpegangan sisi-sisi westafel. Wajah Tiara tampak pucat, dengan kepala tertunduk.
“Kamu sakit?” Arnold menyentuh kening Tiara.
“Nggak tahu, Mas. Bangun tidur tadi, tiba-tiba aku merasa lemas dan sangat mual,” jawab Tiara lirih. Baru dia kembali menundukkan kepala untuk memuntahkan isi perutnya. Namun sayang, lagi-lagi yang keluar hanya cairan.
Dengan telaten Arnold memijit leher belakang Tiara, sesekali mengusap punggung istrinya. Ketika Tiara sudah berdiri tegak, dia membantu wanita itu untuk kembali ke ranjang.
“Mending kamu istirahat lagi,” pinta Arnold sembari membantu Tiara berbaring.
“Maaf, ya, ngerepotin,” ucap Tiara segan.
“Apa, sih, kamu? Nggak perlu bilang begitu, aku pasti akan rawat kamu,” sahut Arnold ketus.
__ADS_1
Tiara menanggapi dengan senyuman.
“Mau aku buatkan teh hangat?” tawar Arnold. “Atau mau aku ambilkan makan?”
“Teh hangat saja, Mas. Takutnya perut aku belum bisa menerima, kalau makanan,” jawab Tiara.
“Oke. Kamu tunggu di sini.”
Arnold langsung melesat ke dapur untuk membuatkan istrinya teh. Dia menolak ketika pelayan ingin mengambil alih, karena Arnold ingin Tiara merasakan teh buatannya.
Ketika kembali ke kamar, Tiara masih berbaring di kasur. Wajahnya masih pucat, kelihatannya tubuh wanita itu pun lemas. Tiara masih memejamkan mata, sampai belaian Arnold barulah membuat dia membuka matanya.
“Diminum pelan-pelan,” ujar Arnold sambil menyodorkan segelas teh hangat ke depan mulut Tiara.
“Gimana? Sudah enakan?” tanya Arnold setelah meletakkan teh di meja samping ranjang.
“Jangan, lah. Kasihan kamu, dari tadi bolak balik terus,” kata Arnold.
“Cie... yang perhatian,” goda Tiara. Bisa-bisanya, ketika sedang dalam keadaan seperti itu, dia masih sempat-sempatnya menggoda Arnold.
“Kamu ini ... awas saja,” ancam Arnold sambil mendelikkan matanya.
Tiara terkikik geli melihat itu.
“Kamu sakit apa, sih?”
__ADS_1
“Mungkin masuk angin, Mas. Kan, sering telat makan juga,” jawab Tiara. Memang benar, dia jarang sekali makan ketika tidak berselera.
“Apa mau ke dokter? Aku sangat khawatir, kerja pun pasti tidak akan fokus,” ujar Arnold. Tiara segera menggeleng.
“Nggak, ah, Mas. Cukup istirahat aja, pasti nanti juga sembuh.”
“Kalau nggak sembuh, kita ke dokter.”
Tiara pasrah, mengangguk untuk menyetujui permintaan Arnold.
“Nanti aku minta Mamah ke sini. Soalnya aku khawatir, kalau harus meninggalkan kamu sendirian di rumah.”
“Iya, Mas. Tapi jangan merepotkan beliau,” tutur Tiara.
**
Tiara masuk angin, ygy😅
__ADS_1