Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 56


__ADS_3

Meskipun sudah mengusir Arnold berulang kali, tetapi pria itu tetap kekeh untuk tidur di kamarnya. Tiara tak memedulikan lagi, dia memilih membaringkan tubuh dan menyelimuti hingga leher.


"Tadi datang ke kamarku, mau bicara apa?" tanya Arnold sembari memiringkan tubuh ke arah Tiara.


Terpaksa gadis itu membalikkan badan untuk melihat Arnold, lama dia menatapi wajah rupawan bak dewa.


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin membantumu menyiapkan pakaian," jawab Tiara gugup.


"Tidak ada pakaian ketika aku masuk ke dalam walk in closed."


"Karena aku belum menyiapkannya! Kamu sudah langsung menciu--"


Ucapan Tiara terhenti, gadis itu memegangi bibirnya, lalu segera berbalik badan untuk memunggungi Arnold. Dia masih enggan untuk berbicara dengannya.


"Oke, baiklah. Selamat malam."

__ADS_1


Arnold terkikik geli dalam hati, lalu dia memejamkan mata. Sedangkan sang empunya kamar, hanya bisa menghembuskan napas berulang kali. Tiara tidak bisa tidur kalau begini, apalagi harus satu ranjang dengan Arnold. Mana ranjang khusus satu orang, dia harus memepet pada dinding karena terlalu sempit.


**


Pagi-pagi sekali Tiara sudah bangun, gadis itu langsung membersihkan diri dan segera pergi ke dapur. Matanya masih mengantuk, tetapi dia tak mungkin tidur kembali di dapur ini. Semua karena keberadaan Arnold, gadis itu tak bisa tidur hingga pukul 02.00 dini hari. Lebih parahnya, Arnold terus menguasai ranjang sehingga membuat Tiara semakin terjepit di dinding.


"Nyonya sudah bangun?" Mbak Yuni baru saja masuk ke dapur.


"Iya, Mbak. Hemm, panggil seperti biasa aja. Tiara," pinta Tiara dengan sopan.


Mbak Yuni mengangguk patuh, setelahnya wanita itu disibukkan dengan bahan-bahan yang akan dimasak. Sedangkan Tiara memilih duduk di kursi makan, menumpukan tangan di meja dan langsung menjatuhkan kepalanya di sana. Tiara sudah tak tahan, dia ingin memejamkan mata sebentar saja. Meski sudah mandi dengan air dingin yang membuat segar, tetap saja Tiara masih mengantuk.


"Apa dia sudah lama tidur di sini, Mbak?" tanya Arnold sembari memutar badan ke arah mbak Yuni.


"Sudah, Tuan. Mungkin ... satu jam," jawab mbak Yuni dengan sopan.

__ADS_1


Arnold mengangguk saja. Dia menatap kembali wajah Tiara, terlihat begitu damai ketika tidur. Dan pastinya, wajah imut itu semakin terlihat imut. Arnold berdiri dan segera mengangkat tubuh Tiara. Pria itu berniat ingin memindahkan sang istri ke kamarnya. Sampai di kamar Tiara belum juga membuka mata, membuat Arnold menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Dasar kebo!" ejek pria itu sembari berlalu dari sana.


**


Fan baru saja tiba di depan rumah Arnold, langsung dikejutkan dengan kehadiran sosok Bianca. Ya, Fan memang memilih tinggal di apartemen dari pada harus satu rumah dengan sang bos. Tanpa pikir panjang, pria dengan setelan jas rapi itu langsung berlari mengejar Bianca yang sudah sampai di teras rumah.


"Maaf, Nona Bianca, ada perlu apa Anda datang kemari?" Fan langsung menghadang Bianca.


Gadis itu mengerutkan dahinya, bingung. "Bukan urusanmu! Minggir lah!" tegas Bianca.


"Tidak bisa, Nona. Jika Anda ingin menemui Tuan Arnold lagi, maka tidak bisa hari ini," ucap Fan.


"Kenapa? Aku bisa bertemu dia kapan saja!"

__ADS_1


"Nona, saya mohon."


"Minggir!" Bianca tetap kekeh untuk bertemu dengan Arnold, bahkan dia terus berusaha untuk menyingkirkan tubuh Fan dari hadapannya.


__ADS_2