
Matahari mulai menampakkan sinarnya, Amora mengerjapkan matanya, saat membuka mata dia sudah terbangun di tempat tidurnya.
Dia mengingat saat malam tadi Ken datang ke sini
lalu tidur di ranjangnya dan Amora tidur di sofa, apa mungkin Ken memindahkan ku pikirnya.
Amora tidak mau terlalu memikirnya. Lalu dia berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya Amora bersiap siap memakai seragam dan mengenakan make up natural dia sudah cantik jadi tidak perlu dandan berlebihan apa lagi hanya untuk berangkat ke sekolah.
Amora menuruni anak tangga dengan terburu buru, tidak lupa dia sempat menyapa kedua orangtuanya juga
"Pagi mom, pagi dad" sapa Amora menghampiri meja makan
"Ayo sayang duduk kita sarapan dulu" Wilona
"Aku sarapan di sekolah saja mom, aku lupa kemarin ada tugas dan aku belum sempat mengerjakannya" Amora
"Kau ini, yasudah kalo begitu hati hati" Wilona
"Siap mom, bye dad by mom" pamit Amora
Amora menjalankan motornya meninggalkan area mansion Aberald. Di sepanjang perjalanan Amora menyadari bahwa kendaraan dibelakang mengikutinya sejak dirinya keluar dari mansion.
Amora tau kendaraan yang mengikutinya itu sama dengan kendaraan yang tempo hari mengikutinya
"Baiklah sekarang kita lihat siapa yang sudah berani main main denganku" Amora tersenyum smrik di balik helm full face nya.
Amora sengaja mengendarai motornya menuju jalanan yang jarang dilalui oleh orang orang, dan benar saja mobil itu mengikutinya dari belakang.
Amora langsung memberhentikan motornya mendadak di depan mobil yang mengikutinya. Orang yang berada di dalam mobil tentu saja terkejut dan langsung menginjak remnya.
Mereka turun dan menutup pintu mobilnya dengan kasar.
Braaak ..
Amora masih belum turun dari motornya dia masih memperhatikan kedua orang yang sudah mengikutinya dan memantau nya selama beberapa hari ini.
"Kalau kau tidak bisa mengendarai motor dengan benar maka jangan mengendarainya" marah salah satu pria
Amora menghiraukan ucapan pria itu, lalu dia turun dan membuka kaca helmnya.
"Siapa yang telah menyuruh kalian mengikuti ku?" ucap Amora
Kedua pria itu terkejut bahwa Amora ternyata menyadarinya kalau dirinya sedang di ikuti
"Ternyata kau memiliki kepekaan yang tinggi juga, tidak heran bos kami memerintahkan untuk mencari tau tentangmu" pria itu terkekeh
"Aku tanya sekali lagi siapa yang sudah menyuruhmu, kalau kalian tidak mau menjawab aku pastikan kalian masuk rumah sakit?" ancam Amora menghiraukan ucapan pria tersebut
kedua pria itu tertawa meremehkan ancaman Amora
"Gadis kecil sepertimu mengancam kami? Yang benar saja. Lebih baik kau lanjutkan perjalananmu dan sekolah yang benar" ucap pria itu tertawa di ikuti oleh temannya yang ikut menertawakannya
Amora berjalan dengan cepat ke arah mereka berdua lalu melepas helmnya dengan kasar
__ADS_1
Bugh ..
Amora memukul keras kepala salah satu dari mereka hingga pingsan menggunakan helm nya. Amora tidak suka diremehkan.
"Kau!" ucap teman pria itu yang tersadar dari rasa terkejutnya
Tidak terima melihat temannya di pukul hingga pingsan oleh Amora pria itu langsung mengeluarkan pisau dari balik jas hitamnya.
"Kau ingin tau bukan siapa yang sudah menyuruh kami mengikuti mu, makan lawan aku dulu" ucapnya dan langsung menyerang Amora dengan pisau
Amora menghindarinya dan menangkis beberapa serangan dari pria tersebut. Amora melihat gaya bertarungnya yang bebas tidak terlatih mempermudahnya untuk cepat mengalahkannya.
Disaat Amora sedikit lengah karena memperhatikan cara gaya bertarungnya, pria itu berhasil menggores lengan kanan Amora yang tertutup oleh jaket kulit.
"*****!" umpat Amora setelah mendapat luka goresan
pria itu tersenyum miring ketika dia berhasil melukai Amora, sedangkan Amora sudah menatapnya tajam.
Pria itu kembali menyerang Amora dengan pisaunya, Amora menghindari nya lalu menahan tangan pria itu ketika akan kembali menggoresnya lalu memelintir tangannya kesamping sampai pisau tersebut terjatuh saking sakitnya.
"Aaaaargh..!" teriak pria itu kesakitan
Plak ..
Plak ..
Bugh ..
Setelah Amora memelintir tangannya dan pisaunya terjatuh Amora menampar pria itu bulak balik dengan keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah setelah itu Amora memutar tubuhnya lalu menendang wajahnya hingga jatuh tersungkur.
"Kau yakin tidak mau memberitahukan siapa bosmu?" tanya Amora dengan memainkan pisaunya di wajah pria itu
"A..a..aku akan memberitahunya, tolong jangan bunuh aku" ucap pria itu ketakutan
"Katakan!" Amora menatap tajam dengan pisau yang sudah siap menggores leher pria itu
"Tu..tuan Grey yang menyuruh kami"
"Siapa dia?" tanya Amora
Pasalnya Amora tidak tau nama pria yang membunuh kedua orangtuanya bahwa namanya Grey dia hanya tau wajahnya saja
"Ta..ta..tangan ka..ka..kanan tuan Bramana" pria itu
Amora terdiam sejenak lalu membisikan sesuatu kepada pria itu
"Katakan kepadanya bahwa aku akan membalas rasa sakit yang pria tua itu berikan padaku bahkan lebih sakit" Amora
Bugh ..
Setelah Amora memberikan sedikit pesan kepada pria itu Amora langsung memukul wajah pria itu hingga pingsan dengan darah yang mengalir di hidung.
"Ternyata kau sudah mencurigai ku pak tua, baiklah kita lihat sekarang ketika kau sudah mengetahui ku masih hidup apa yang akan kau lakukan" ucap Amora tersenyum smirk lalu kembali menjalankan motornya meninggalkan kedua pria yang sudah pingsan.
...----------------...
__ADS_1
Sesampainya di sekolah Amora memarkirkan motornya, untungnya dia datang tepat waktu. Dan seorang pria tampan sudah menunggu kedatangannya.
"Ken kau belum masuk?" tanya Amora kepada Ken yang sudah ada di hadapannya
"Aku menunggumu" ucap Ken meneliti penampilan Amora dari atas sampai bawah dia khawatir karena tidak biasanya Amora terlambat.
Dan dia melihat jaket di lengan Amora yang robek dan darah yang masih basah merembas
"Apa yang terjadi?" ken membuat Amora terkejut
"Ssshh.." desis amora merasa sakit ketika Ken menyentuhnya, perasaan Amora tadi dia tidak merasakan apa apa kenapa sekarang terasa sakit.
Ken langsung menarik lembut tangan Amora untuk di bawa ke Uks, dan sesampainya di Uks Amora di dudukannya di kursi sedangkan Ken sibuk mencari alat alat p3k.
Hal tersebut tidak luput dari pandangan Amora, dan Amora dapat menyimpulkan bahwa Ken sangat mengkhawatirkannya.
"Buka jaket mu" Ken
Amora langsung membuka jaketnya dengan perlahan
"Berikan tanganmu" Ken
Amora menurut dia mengulurkan tangannya yang terdapat luka sobek. Ken mulai mengobatinya dengan serius lalu memakaikan perban di tangannya.
Setelah selesai mengobati lukanya Amora, Ken menatap Amora menuntut penjelasan.
"Kau jujur atau aku akan bilang kepada tante Wilona?" ancam Ken
"Ish kau ini kenapa selalu mengancam" Amora cemberut
"Apa yang terjadi" tanya Ken lagi serius
Sebelum Amora menjawab pertanyaan Ken dia menatap mata Ken lalu menghela nafas panjang
"Beberapa hari ini ada seseorang yang mengikuti ku, dan tadi pagi aku sengaja memancing mereka ke tempat sepi dan disana aku mempertanyakan siapa yang menyuruhnya tapi mereka tetap bungkam sampai aku menghajar mereka" Amora menjelaskan
"Dan kau mendapatkan luka ini?" Ken
"Hm" Amora
"Mereka memberitahumu siapa yang sudah menyuruh mereka?" tanya Ken
"Bramana" amora datar
"maksudmu Bramana Listanto?" Ken
Amora mengangguk
"Tapi apa hubungannya kau dengannya?" tanya Ken menjadi penasaran
"Mungkin karena masalahku dengan anaknya" alibi Amor
Ken diam diam mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras "Kau telah menyakiti gadisku dan aku akan membalas mu pak tua lihat saja" batin Ken
#bersambung
__ADS_1
Mohon dukungannya dan tinggalkan jejak kalian. Karena dukungan kalian membuatku semangat untuk terus up tiap eps nya🤍