
Setelah acara tukar cincin selesai para tamu undangan sedang menikmati acara yang berlangsung yaitu permainan piano yang di mainkan oleh seorang pianis yang sedang naik daun dan para tamu undangan sangat menikmatinya.
Amora bersama teman temannya sedang mengobrol santai di meja yang berbeda dengan Ken, begitupun dengan Ken yang bersama teman temannya.
Di rasa dirinya sudah sangat lelah dengan acara ini Amora berniat ingin kembali ke kamar dia ingin mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak
Amora berniat untuk bilang terlebih dulu kepada Ken, tapi di rasa Ken terlihat asyik mengobrol dengan teman temannya Amora urungkan niatnya.
Amora berdiri dari duduk nya, sebelum pergi Amora berpesan terlebih dulu kepada Sindy dan Tiara
"Sindy, Tiara aku akan ke kamar untuk beristirahat sebentar kalau Ken menanyakan ku bilang saja aku pergi ke kamar" Amora
"Yaudah kalau gitu lo istirahat aja, muka lo juga keliatan lelah gitu" ucap Tiara
"Iya bener, nanti gue bilang Ken" Sindy
"Terimakasih" ucap Amora lalu pergi meninggalkan Amora.
Seseorang melihat Amora pergi meninggalkan acara, orang itu langsung mengikutinya dari belakang.
Karena Amora merasa lelah dia dengan terburu buru berjalan menuju kamar tempat dirinya di make up tadi, sebelum sempat membuka pintu seseorang sudah memukul kepalanya dari belakang menggunakan vas bunga yang cukup besar sampai kepala Amora mengeluarkan darah.
Tentu saja Amora langsung pingsan, dan orang itu langsung membawa Amora.
Ken yang menyadari Amora tidak berada bersama teman temannya, Ken langsung menghampiri meja teman temannya Amora untuk menanyakan keberadaannya.
Belum sempat Ken bertanya. Sindy sudah mengatakan keberadaan Amora
"Ken Amora tadi bilang mau ke kamar dia butuh istirahat" ucap Sindy menyampaikan pesan Amora
Ken tidak menjawab dia langsung pergi menuju kamarnya tadi.
"Dasar kulkas berjalan" gumam Sindy yang di dengar Tiara
"Kau seperti tidak tau dia saja, sudahlah jangan mengomel" Tiara
Sindy hanya mendelik ketika sahabatnya berkata seperti itu lalu melanjutkan kembali menikmati acaranya.
Setelah Sindy memberitahukan keberadaan Amora, Ken langsung berjalan menuju kamar tadi dan membuka pintu dilihat tidak ada siapa siapa, dia memastikan untuk melihat ke kamar mandi dan tidak ada orang.
Pikiran Ken sudah tidak karuan dia takut Amora kenapa napa, Ken berjalan keluar kamar tanpa di sengaja dia menginjak sisa pecahan vas bunga yang pecah.
Ken berjongkok lalu mengambilnya Ken pikir tumben sekali hotel ini tidak menjaga kebersihan, kalau daddy nya tau mereka pasti kena surat peringatan.
Sebelum benar benar berdiri Ken melihat ada tetesan darah yang sangat kental. Ken mengusap darah itu lalu menciumnya dan itu darah yang masih segar Ken tau itu.
Pikiran Ken semakin tidak karuan, dia berjalan sedikit berlari untuk memberitahukan kepada kedua orangtuanya bahwa Amora menghilang.
Ken mencari keberadaan daddy nya, setelah ketemu Ken langsung memberitahunya.
"Dad" ucap Ken dengan wajah yang terlihat panik
__ADS_1
"Ada apa son?" ucap Rayyan melihat kepanikan di wajah anaknya
"Amora menghilang" ucapan Ken membuat Wilona dan Kayla syok
"Ken yang benar kalau kamu berbicara" Wilona panik
"benar tante, tadi temannya Amora mengatakan dia ke kamar untuk istirahat dan setelah Ken mengecek ke kamar Amora tidak ada disana dan yang Ken temukan ini" ucap Ken menunjukan pecahan vas bunga yang kecil lalu darah yang masih menempel di jari Ken
Wilona dibuat lemas dia mundur beberapa langkah untuk Arshan menahannya
"Arshan" ucap lirih Wilona
"Aku akan menghubungi Derix" Arshan
Wilona mengangguk sedangkan Ken dan kedua orangtua Ken tidak tau siapa itu Derix
"Dad aku akan mencari Amora" Ken lalu pergi tanpa mendengar jawaban kedua orangtuanya
Kayla melihat Wilona yang sudah menangis dia berusaha menenangkannya sedangkan Rayyan mengumumkan acaranya untuk di bubarkan karena sudah selesai.
Ken menghampiri teman temannya
"Ikut gue" ucap Ken langsung berjalan mendahului mereka
Terlihat dari raut wajahnya seperti ada masalah, Teman temannya langsung mengikuti Ken dari belakang tanpa banyak tanya.
Sedangkan tamu undangan sudah mulai membubarkan diri begitu pun dengan Sindy dan Tiara. Mereka tidak berpikiran macam macam mungkin ini karena sudah larut malam jadi acaranya sudah selesai.
Di sisi lain
Sebuah mobil hitam berhenti di area gedung kosong, salah satu pria membawa seorang gadis dengan membopongnya ke dalam gedung tersebut.
Sedangkan di dalam gedung beberapa orang sudah menunggu kedatangannya.
Pria itu masuk lalu mendudukkan gadis yang tidak sadarkan diri itu di kursi lalu mengikat tangannya kebelakang dengan sangat kencang.
"Kerja bagus Grey" puji sang Tuan
"Terimakasih Tuan" ucap Grey setelah mengingat gadis tersebut yang tidak lain adalah Amora.
Seorang gadis maju mendekati Amora lalu dia menatap orang yang sudah menghancurkan impiannya itu tidak sadarkan diri dan sudah terikat di kursi serta kepala yang mengeluarkan darah.
"Gue benci lo jala**ng!" gumam gadis tersebut di depan wajah Amora
Plak ..
Plak ..
Plak ..
"Aaarghh! Gue benci lo jala** gue membenci lo sialan!" teriak perempuan itu yang terus menampar wajah Amora sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah.
__ADS_1
Sedangkan ke tiga orang yang di belakangnya hanya melihat saja ketika gadis itu menampar Amora.
Di rasa cukup papa dari gadis itu maju untuk menghentikannya.
"Cukup Cla, biar papa yang urus selanjutnya" Bram memegang tangan anaknya
"Aku ingin dia mati papa" Clara menatap Bram berkaca kaca
"Serahkan semuanya kepada papa" Bram meyakinkan Clara
Clara mengangguk, lalu Sintia menghampiri anaknya dan membawanya pergi dari gedung kosong ini biarkan Bram yang mengurus gadis tengik ini pikirnya.
Setelah kepergian anak dan istrinya di dalam gedung hanya ada Bram dan Gery serta beberapa anak buahnya untuk berjaga jaga.
"Siram dia" titah Bram
Grey menuruti perintah tuannya, dia lalu menyiram Amora yang pingsan untuk membuatnya bangun
Byuuur ..
Amora mengerjapkan matanya dengan terbatuk akibat siraman Grey, lalu dia mulai membuka matanya yang sedikit kabur dirasa sudah dapat menyesuaikan penglihatannya dengan jelas Amora merasakan kepalanya sakit.
Ketika akan memegang kepala nya dia baru sadar ternyata tangannya terikat. Amora lalu menatap lurus kedepan.
Dengan mata yang tajam walaupun sedikit gelap Amora tentu tau siapa pria yang ada di hadapannya.
Pria itu berjalan menghampiri Amora yang sudah sadar lalu mencondongkan badannya menatap Amora. Sedangkan Amora menatap dirinya datar
"Bagaimana kejutan dariku kau menyukainya? ini hadiah untuk pertunanganmu" ucap Bram tersenyum
Amora masih diam dia menatap Bram datar
"Oh iya aku juga harus memberitahu mu tentang hal ini, tapi ku rasa kau pasti sudah mengetahuinya kan? Tidak apa apa aku akan mengatakannya kembali karena ini hari special untukmu" ucap Bram menatap Amora tersenyum mengerikan
"Aku yang telah membunuh kedua orangtuamu, dan aku juga yang telah membakar mereka" lanjut Bram lalu menegakkan badannya dengan tertawa terbahak bahak bagai orang gila
Amora mulai terpancing emosi ketika Bram mengingatkan tentang kematian kedua orangtuanya.
Amora berusaha untuk tetap tenang tidak terpancing emosi, dalam ketenangannya dia berusaha untuk melepaskan ikatan tangan yang mengikatnya sangat kencang.
"Kau ingin tau kenapa aku melakukan itu?" tanya Bram dengan berjalan memutari Amora yang sedang terikat di kursi
Amora sudah tidak bisa menahannya lagi
"Kenapa kau lakukan itu brengsek?" geram Amora
Bram terkekeh ketika Amora sudah terpancing emosinya. Bram lalu berjalan ke hadapan Amora dan menatap Amora tajam sebaliknya pun begitu Amora membalas kembali tatapan tajam Bram.
#bersambung
Mohon dukungannya dan tinggalkan jejak kalian. Karena dukungan kalian membuatku semangat untuk terus up tiap eps nya🤍
__ADS_1