Unforgiven (Tak Termaafkan)

Unforgiven (Tak Termaafkan)
55


__ADS_3

"Kenapa kau lakukan itu brengsek?" geram Amora


Bram terkekeh ketika Amora sudah terpancing emosinya. Bram lalu berjalan ke hadapan Amora dan menatap Amora tajam sebaliknya pun begitu Amora membalas kembali tatapan tajam Bram


...----------------...


" Kau ingin tau kenapa aku melakukan itu kepada kedua orang tuamu?" tanya Bram menatap wajah Amora


"Karena dia munafik, karena dia lebih sukses dariku, dan karena dia memiliki Ane" ucap Bram menatap Amora tersenyum menyeringai


Bram memang sejak dulu menyukai Ane tapi sayang Ane lebih memilih Frederic Liston seorang pebisnis sukses.


"Jangan pernah menyebutkan nama Mommy ku dengan mulut busuk mu brengsek!" Amora menatap tajam Bram


Bram terkekeh ketika Amora mengatainya brengsek.


"Kau sangat mirip dengan Ane" ucap Bram mendekatkan wajahnya kedepan Amora


"Cuuuih!!" Amora meludahi wajah Bramana


Grey yang melihat itu langsung berjalan kedepan dan menampar Amora


Plaaak ..


Plaaak ..


Wajah Amora tertoleh ke kiri dan ke kanan ketika Grey menamparnya, Amora terkekeh ketika wajahnya di tampar oleh Grey


Sedangkan Bram wajahnya sudah sangat merah ketika Amora meludahinya. Bram maju untuk memberinya pukulan, tapi sayang sebelum Bram benar benar dekat dengannya Amora menendang perut Bram dengan kakinya yang tidak di ikat


Bugh ..


Bram mundur kebelakang hingga terjatuh akibat tendangan Amora


"Tuan" Grey menghampiri Bram yang terjatuh akibat tendangan Amora.


"Tuan anda tidak apa apa?" Tanya Grey membantu Bram untuk bangun


"Gadis sialan! Habisi dia" titah Bram kepada Grey


Grey mengangguk lalu berjalan dengan tangan terkepal menghampiri Amora, Grey melayangkan tinju ke wajah Amora tapi dengan secepat kilat Amora menahan kepalan tangan Grey.


Grey terbelalak "Bagaimana bisa? aku mengikatnya sangat kuat" batin Grey


Tidak menyia nyiakan kesempatan Amora memutar tangan Grey kebelakang lalu mulai memiting kepalanya.


"Aargh! Gadis gila" umpat Grey


"Kau masih bisa mengumpat?" bisik Amora di telinga Grey lalu Amora mengencangkan pitingan nya hingga Grey kesulitan untuk bernafas.


Bram yang melihat Grey seperti itu langsung mengerahkan anak buahnya untuk membantunya.


"Lepaskan dia gadis sialan" umpat anak buah Grey


Amora menajamkan matanya, ternyata cukup banyak yang mengepung dirinya.


Kreeek ..


"Aaaarghh!!" Teriak Grey


Amora melepaskan pitingan nya lalu menendang punggung Grey hingga menabrak anak buahnya.


Anak buah Grey mulai menyerang Amora, dan Amora berusaha menangkis, dan menghindar dari tendangan dan pukulan yang mereka layangkan.


Gaun yang di pakai Amora menjadikannya susah untuk bergerak hingga beberapa kali Amora mendapat pukulan dari anak buah Grey.


Bram yang melihat anak buahnya sudah banyak yang tumbang karena Amora, dirinya mengeluarkan senjata di balik punggungnya lalu mulai mengarahkan pistolnya kepada Amora.


Sedangkan Amora yang sedang melawan para anak buahnya sangat susah untuk memfokuskan bidikannya. Amora terus menghajar anak buahnya satu persatu hingga tertinggal sisa satu yaitu Grey.


Jujur saja Amora sudah sangat lemas dan kepala yang sudah sangat pusing tapi untungnya Amora bisa mengalahkan anak buah Bram walaupun terkena banyak pukulan.

__ADS_1


Sekarang tinggal sisa Grey dan Bram pikir Amora


"Ternyata kau sekuat itu bocah" Grey tersenyum smirk


Amora menatap tajam Gray sedangkan Grey langsung melayangkan pukulannya dan tendangannya, Amora menghindarinya dengan membungkuk dan memiringkan badannya kesamping.


Amora merutuki gaun yang sedang di pakainya, gerakan Amora menjadi terbatas


Bugh ..


Amora terkena pukulan diwajahnya karena pukulan Grey barusan, sampai hidung Amora berdarah. Amora mengusap darah tersebut dan kembali menatap tajam Grey lalu mulai menyerangnya kembali, Kali ini tidak akan Amora maafkan.


Sedangkan Bram melihat Grey melukai Amora dirinya menurunkan senjatanya kembali pikirnya pasti Grey bisa mengalahkan gadis sialan itu.


Tidak lama kesenangan Bram rasakan harus berakhir ketika Amora menghajar Grey membabi buta di atas tubuh Grey.


Melihat itu Bram mengangkat senjatanya lagi dan mulai membidik Amora yang berada di atas tubuh Grey yang sedang memukulinya hingga babak belur.


Dor ..


Dor ..


Amora berhenti memukuli Grey ketika di rasa dirinya merasakan timah panas menembus punggung dan bahunya.


Amora berusaha untuk berdiri dan berbalik dengan badan yang lemas dan menahan sakit, dan benar saja Bram telah menembak dirinya.


Amora jatuh dengan mata yang sudah sayu. Sebelum benar benar tidak sadarkan diri Amora melihat banyak orang menghampirinya dan meneriaki namanya


"Amooooooor!"


"Amoraaaa!"


"Nonaaaa!"


Setelah itu Amora benar benar tidak sadarkan diri. Dan Ken langsung berlari ke arah Amora dan memeluk kekasihnya dengan badan yang gemetar dan air mata yang membanjiri kedua pipinya.


"Tidak tidak aku mohon bertahanlah sayang aku mohon" ucap Ken menangis dengan tangan menahan punggung Amora yang terkena tembakan agar darahnya tidak terus keluar


"Ayo Ken kita langsung bawa Amora ke rumah sakit" Nathan


Ken langsung menggendong Amora ala bridal style untuk di bawa ke rumah sakit, di ikuti Derix di belakangnya.


Derix mengemudikan mobilnya dengan sangat cepat agar cepat sampai di rumah sakit. Sedangkan Ken dia merasa tidak tenang melihat keadaan Amora yang sangat memprihatinkan Ken tidak sanggup untuk menatapnya.


Wajah yang penuh memar, hidung yang berdarah, sudut bibir yang berdarah dan kepala yang berdarah. Mengingat siapa yang sudah membuat kekasihnya seperti ini Ken tidak akan membiarkannya hidup tenang. Ken pastikan itu.


Sepanjang perjalanan Ken menangis dan bergumam untuk tetap bertahan.


Sesampainya di rumah sakit Ken langsung membawa masuk, Suster dan Dokter dengan tergesa gesa langsung membawa Amora ke ruangan operasi.


Kemeja Ken sudah bukan berwarna putih lagi melainkan sudah berwarna merah karena darah Amora.


Ken terduduk lemas dengan memegang kepalanya sambil menunduk.


"Maaf aku datang terlambat maafkan aku" gumam Ken lirih dengan air mata yang terus mengalir


Tidak beda jauh dengan Derix dia pun melakukan hal yang sama terduduk lemas dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.


......................


Beberapa jam sebelumnya.


Ken menuju mobil di ikuti oleh teman temannya, setelah memasuki mobil Ken baru bercerita bahwa Amora di culik, tentu saja mereka syok.


"Ken lo yakin Amora di culik?" Dion


"Iya mungkin lagi ke toilet si Amora Ken?" David


"Gue yakin Amora di culik, gue nemuin pecahan vas bunga dan darah di dekat pintu kamar, dan darah itu masih segar gue yakin Amora di culik" Ken menatap teman temannya serius


"Trus bagaimana bisa kita nemuin Amora, lo ada petunjuk atau apa gitu?" Nathan

__ADS_1


"Lacak keberadaan Amora dia memakai cincin pertunangan" Ken menatap Rasya


"Gue butuh laptop untuk melacaknya" Rasya menatap Ken


Sedangkan Ken langsung meminta David untuk mengambil laptop ya di jok paling belakang


"Vid laptopnya di jok belakang" Ken


David mengangguk lalu mengambilnya dan memberikannya. Rasya mulai membuka laptopnya dan menyalakannya.


Beberapa menit menunggu masih mencari, mereka semua sudah harap harap cemas apa lagi Ken yang sudah tidak bisa diam dari tadi. Dirinya membatin "Semoga Amora baik baik saja"


"Ketemu" ucap Rasya


Semua mata menatap layar laptop yang di pegang Rasya


"Tapi tempat ini sedikit jauh dari sini" Rasya


"Berapa jam?" tanya Ken yang sudah siap untuk menjalankan mobilnya


"sekitar satu jam setengah" Rasya


"Siap siap" ucap Ken


Ken langsung menginjak gas mobilnya membuat teman temannya yang tidak siap langsung tersungkur kedepan, kebelakang dan ke samping.


Tentu saja membuat diri mereka ingin mengumpat tapi di tahan tidak berani.


Sedangkan Derix yang mendapat kabar dari Arshan bahwa Amora di culik langsung menuju TKP, ketika sudah sampai dirinya melihat mobil Ken yang langsung berjalan dengan cepat tanpa banyak berpikir Derix langsung mengikutinya dari belakang.


45 menit cukup untuk Ken sampai di lokasi


Sedangkan teman teman Ken sudah membuka pintu mobilnya dan cepat cepat keluar lalu memuntahkan isi dalam perutnya, karena Ken mengendarai mobil seperti di kejar setan.


"Es balok sialan!!" umpat Dion ketika sudah membuang semua isi dalam perutnya, begitu pun yang lain.


Sedangkan Ken dirinya hanya menatap datar. Ketika meraka sudah kembali tenang, mereka semua melihat gedung kosong di depan mereka.


"Gedung kosong ini Sya?" tanya Dion


"Iya titiknya disini" Rasya


Setelah Rasya mengatakan itu Ken langsung berjalan lebih dulu meninggalkan teman temannya.


"Ko ngeri gini ya tempatnya?" David


"Ayolah kita liat, dan kalau memang benar Amora ada di dalam semoga keadaannya baik baik aja" ucap Nathan yang mulai mengikuti langkah Ken di belakang.


Mereka semua mengangguk lalu menyusul temannya yang ada di depan


Sedangkan Derix yang baru sampai langsung turun dari mobil dan berjalan di belakang Ken dan teman temannya.


Disaat mereka berjalan menuju gedung kosong itu, suara tembakan berbunyi sebanyak dua kali membuat langkah mereka terhenti.


Apa lagi Ken dirinya tertegun tidak lama dari itu Ken langsung berlari menuju gedung di susul oleh teman temannya dan Derix.


Ken melihat Amora yang sudah jatuh tergeletak dengan keadaannya yang bisa di katakan sangat tidak baik baik saja membuat dirinya gemetar.


Amooooooor!" teriak Ken langsung berlari ke arah Amora


"Amoraaaa!" teriak teman teman Ken ketika melihat Amora yang sudah bersimbah darah


"Nonaaaa!" Derix langsung berlari ke arah Amora


Tidak tidak aku mohon bertahanlah sayang aku mohon" ucap Ken menangis dengan tangan menahan punggung Amora yang terkena tembakan agar darahnya tidak terus keluar


"Nona maafkan saya, maafkan saya datang terlambat" Derix menangis tidak tahan melihat kondisi Amora yang sangat mengenaskan


Teman teman Ken sebelum berjalan ke arah Amora mereka memastikan bahwa Bramana dan anak buahnya yaitu Grey tidak kabur.


#bersambung

__ADS_1


__ADS_2