
Berbeda dengan temannya Nathan yaitu Rasya ketika dirinya mengatakan cintanya kepada Sindy, perempuan itu malah meminta waktu untuk memberikan jawabannya.
Dan Rasya setuju setuju saja. Rasya tidak ingin memaksa untuk Sindy menjawabnya langsung. Sindy akui dirinya mengagumi Rasya yang tampan tapi untuk menjadi pacarnya Sindy perlu berfikir kembali.
Dia memiliki trauma ketika berpacaran, yaitu di selingkuhi dan pacarnya lebih memilih selingkuhannya. Sindy tidak mau sampai hal tersebut terulang kembali.
......................
Tok!
Tok!
Tok!
"Amor? Kau sudah bangun?" tanya Diana dari luar kamar Amora
Ceklek
"Oma?" panggil lirih Amora dengan mata terpejam
"Kau baru bangun? Ini sudah siang" Diana menggelengkan kepala
"Ada apa Oma?" tanya Amora lalu membaringkan kembali tubuhnya di kasur
"Bangun cepat! Ken menunggumu di bawah" titah Diana
"Hm"
"Sekarang Amora"
"Iya iya Oma" Amora terpaksa bangun lalu menuju kamar mandi
Diana langsung keluar dari kamar Amora ketika Amora sudah memasuki kamar mandi. Diana berjalan menuruni anak tangga dan kembali mengobrol dengan Ken dan Wilona.
Beberapa menit mereka mengobrol, walaupun Ken hanya menjadi pendengar antara Wilona dan Diana akhirnya gadis yang di tunggu tunggu oleh Ken datang juga.
"Ken?" panggil Amora ketika sudah ada di hadapannya
"Ayo" ajak Ken tiba tiba
Amora mengernyit.
"Kemana?" tanya Amora
"Mom, Oma? Kita pergi dulu" pamit Ken kepada Wilona dan Diana menghiraukan pertanyaan Amora. Dan Ken langsung menarik lembut tangan Amora ketika Wilona dan Diana menganggukkan kepalanya.
"Ken kita mau kemana?" tanya Amora ketika sudah dalam perjalanan
"Nanti kau akan tau sendiri" Ken
"Kau menyebalkan sekali, main rahasia rahasiaan" gerutu Amora.
Ken hanya tersenyum dan mengusap kepala Amora lembut. Beberapa menit perjalanan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Ken memarkirkan mobilnya lalu turun dan membukakan pintu mobil untuk Amora. Amora mengernyit heran.
"Kenapa kau mengajakku ke sini?" tanya Amora ketika sudah turun dari mobil
"Ayo kita masuk. Ada yang ingin aku tunjukan padamu" ajak Ken membawa Amora masuk ke dalam
Amora menurut dia mengikuti Ken untuk masuk ke dalam. Ken membuka pintu ruangan yang ada di ruang bawah tanah. Amora menatap sekitar bulu kuduk nya sedikit merinding.
"Ayo" ajak Ken ketika Amora masih menatap sekitar bangunan.
Amora masuk. Dan yang pertama kali Amora lihat di ruang gelap tersebut, pri paruh baya yang sedang duduk menunduk dengan tangan dan kaki terikat rantai.
__ADS_1
"Ken" panggil lirih Ken
"Yes honey. Ini kejutan untukmu, aku serahkan kepadamu mau kau apakan dia" Ken menatap Amora sedangkan Amora menatap pria yang ada di hadapannya lurus dengan mata tajamnya.
Amora mendekati pria yang sedang duduk menunduk tersebut lalu berjongkok menyamakan tingginya.
"Hay Bram? Kita bertemu lagi" sapa Amora kepada Bram dengan senyum smirk
Bram langsung mendongak lalu menatap Amora.
"Kau?" Bram membelalak
"Ya ini aku, orang yang ingin kau bunuh bukan?" Amora terkekeh "Tapi sayang keinginan mu tidak akan terlaksana" Amora menatap tajam Bram dengan mata yang sudah memerah.
"Gadis sialan!! Lepaskan aku dari sini!!" teriak Bram
"Syuut, jangan berteriak lebih baik kau simpan tenagamu untuk bisa bertahan dari siksaan yang akan aku berikan kepadamu" Amora membisik di akhir kalimatnya
"Seharusnya aku tidak membiarkan kau hidup!!" teriak Bram
Amora tertawa kecil lalu berdiri dan mengambil benda tajam yang ada di sampingnya. Amora mengambil salah satu pisau milik Ken yang sedikit panjang dengan atasnya yang bergerigi.
"Ya dan seharusnya kau lebih bersemangat untuk mencari ku" ucap Amora memainkan pisau di depan wajah Bram .
"Jauhkan pisau itu dariku sialan!!" umpat Bram ketika Amora sudah menempelkan pisau itu di lehernya
Sreeet
"Aaaaarghh" teriak Bram
"Ups .. Sorry tanganku licin" Amora tersenyum Smirk
Bram sudah tidak sanggup untuk berbicara, wajahnya sudah sangat pucat.
Sedangkan Ken hanya menatap datar aksi Amora yang di lakukan kepada Bram.
Jleb!
"Aaargh!" Bram berteriak untuk kesekian kalinya karena Amora menusukan pisau tersebut kepada pangkal paha Bram lalu mencabutnya langsung
"Bersyukurlah kau, karena aku sedang malas bermain main. Jadi kita cepat akhiri saja bagaimana?" Amora menatap Bram menyeringai
Bram menggeleng lemah, dirinya sudah menangis tanpa mengeluarkan suara.
Jleb!
Jleb!
"Aargh" teriak Bram yang semakin lemah
Amora memberikan beberapa tusukan kepada perut Bram. Lalu dia berdiri dan menatap Bram yang sudah tidak bedaya.
Amora menyimpan pisau tersebut, lalu mengambil pistol yang sudah di isi peluru oleh Ken. Karena Ken sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum Amora datang ke ruang gelap.
"Kau mengakhiri kedua orangtuaku dengan cara seperti ini bukan? Jadi mari kita akhiri ini sekarang" Amora menatap dengan menodongkan pistol ke arahnya.
Sedangkan Bram dirinya sudah pasrah dengan keadaannya. Walaupun selamat dirinya sudah tidak memiliki siapa siapa lagi. Anak istri dan harta semuanya sudah hilang.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
__ADS_1
Amora menembak Bram bertubi tubi sampai Bram benar benar meninggal. Darah segar milik Bram mengalir ke ujung sepatu Amora, dirinya menunduk lalu meneteskan air matanya.
Ken langsung menghampiri Amora ketika dilihat bahu Amora bergetar.
Grep ..
Ken memeluk Amora yang menangis menunduk. Amora langsung saja menangis meraung ketika Ken memeluknya.
"Semua sudah berakhir Ken, semua sudah berakhir" ucap lirih Amora dengan tangisan pilu
Sedangkan Ken memeluk erat Amora dan mengusap belakang kepala Amora, untuk menenangkannya.
Ken langsung membawa Amora keluar dengan menggendongnya ala bridal style.
"Bereskan" titah Ken kepada anak buahnya yang sudah berjaga di depan pintu
"Baik Tuan muda"
Ken memasukan Amora ke dalam mobilnya. Ken tidak berbicara sekata patah pun dia hanya menunggu Amora untuk tenang, setelah tenang Ken akan mendengar keluh kesah kekasihnya.
Beberapa menit Amora menangis, Akhirnya Amora berhenti lalu menatap Ken
"Sudah lebih baik?" tanya Ken mengusap tangan Amora
"Ya" Amora
"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Ken
"Aku ingin pulang Ken" Amora
Ken mengangguk. lalu mendekat ke arah Amora dia ingin memasangkan seatbelt nya Amora. Sedangkan Amora sudah berpikiran kemana mana sampai dirinya memejamkan mata.
Ken yang melihat Amora memejamkan mata tersenyum kecil.
Cup
Ken mencium bibir Amora, Amora langsung membuka mata kembali lalu menatap mata Ken yang cantik dengan sangat dekat.
"Boleh?" Ken bertanya dengan mengusap bibir Amora lembut
Amora mengangguk. Ken tidak menyia nyiakan kesempatan dia langsung memiringkan kepalanya dan mencium bibir Amora dengan lembut.
Ken ******* bibir Amora dan menerobos memasukan lidahnya mengabsen deretan gigi Amora, begitupun dengan Amora yang membalas ciuman dari Ken. Sungguh Amora terbuai dengan ciuman Ken yang begitu lembut.
Dirasa Amora sudah kehabisan nafas, Amora mendorong dada Ken. Ken langsung melepaskan ciumannya lalu menyatukan keningnya.
Ken mengusap bibir Amora dengan lembut. Ken tersenyum lalu mencium Amora kembali, ******* rakus bibir Amora dan memainkannya dengan menggigit kecil bibirnya. Bibir Amora menjadi candu baginya.
"Ken" ucap Amora di sela sela ciumannya
Ken melepaskan ciuman mereka lalu menatap Amora.
"Bibirmu manis aku sangat menyukainya Honey" ucap Ken
Amora menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Ken mengangkat dagu Amora. Ken sedang berusaha meredam gairah yang muncul akibat mencium Amora.
"Aku ingin segera menikahi mu honey" bisik Ken di telinga Amora
"Ken! Kita pulang" Amora
Ken terkekeh melihat wajah Amora yang semakin memerah.
"Baiklah baiklah kita pulang" ucap Ken yang sudah duduk kembali dan memakai seatbelt nya lalu mulai menjalankan mobilnya dan meninggalkan markas milik Sparta.
#bersambung
__ADS_1