Unforgiven (Tak Termaafkan)

Unforgiven (Tak Termaafkan)
57


__ADS_3

Pemuda tampan berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah yang gesa gesa, dia ingin mengetahui tentang kabar kekasihnya.


Kedua orangtuanya mengatakan bahwa Amora sudah keluar dari ruang operasi dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan.


Ceklek ..


Ken membuka pintu ruang rawat Amora disana sudah ada kedua orangtuanya dan calon mertuanya. Ken menatap ke arah ranjang Amora dengan posisi Amora yang menyamping ke kanan.


Ken berjalan ke ranjang pasien Amora dan melihat beberapa luka di wajahnya yang lebam serta punggung dan bahu yang di perban.


"Apa yang Dokter katakan?" tanya Ken kepada kedua orang tuanya tanpa mengalihkan pandangan dari Amora yang masih memejamkan mata


"Dokter mengatakan Amora bisa selamat karena peluru itu tidak tembus ke jantungnya. Dan" Rayyan diam sejenak membuat Ken menolehkan kepalanya menatap Daddy nya


"Dan?" Ken menatap Rayyan Kayla dan kedua orangtua Amora yang menundukkan kepalanya


"Amora di nyatakan koma" Rayyan melanjutkan kembali perkataannya


Deg ..


Jantung Ken terasa mau lepas mendengar fakta tentang Amora koma.


"Ken, kita hanya bisa mendoakan untuk kesembuhan Amora" Rayyan menepuk pundak Ken untuk menyalurkan kekuatan.


Ken menatap Amora dengan mata yang memerah.


"Bisa tinggalkan kami berdua, biar Ken yang menjaga Amora malam ini" pinta Ken kepada kedua orangtuanya dan kedua orang tua Amora.


Mereka mengangguk lalu mulai meninggalkan Ken berdua dengan Amora yang terbaring memejamkan mata.


Ken mengusap lembut wajah cantik Amora yang banyak memar akibat insiden penculikan yang di alami nya. Ken mendekatkan wajahnya dan mencium semua memar yang ada di wajah Amora.


"Kau tidak mau bangun hm? Ken menatap Amora dari jarak yang sangat dekat


"Kau tidak mau memarahiku ketika aku mencium mu diam diam?" ucap Ken


"Jangan terlalu lama tidurnya aku kesepian Amor" Ken berbicara sendiri sampai meneteskan Air mata.


"Maafkan aku tidak bisa melindungi mu dengan baik, maafkan aku" Ken menundukkan kepalanya menangis


Hati Ken begitu sakit melihat Amora yang seperti ini, Ken memegang tangan lembut Amora dan menciumnya.


"Cepat bangun" bisik Ken di telinga Amora.


Setelah itu Ken menatap Amora dengan tatapan lembut. lalu Ken merebahkan kepalanya di ranjang pasien Amora dan menutup matanya dengan tangan yang masih menggenggam tangan Amora.


Ken berharap ketika dirinya bangun ini semua hanya mimpi buruk baginya.


......................


Di mansion yang mewah seorang wanita paruh baya sedang mondar mandir di kamarnya, dia merasa khawatir dengan suaminya yang tidak kunjung pulang.


Tok ..

__ADS_1


Tok ..


"Ma buka pintu" teriak seorang gadis dari luar


Wanita tersebut membukakan pintu kamarnya


Ceklek ..


pintu terbuka, dan seorang gadis cantik main nyelonong masuk dalam kamar mama nya


"Papa ga pulang ma?" tanya gadis itu


"Mama gak tau Cla, di hubungi pun ga aktif" keluh wanita tersebut


"Mungkin kemarin malam papa langsung ke kantornya ma karena sibuk" Clara


"Iya mungkin saja" Sintia


"Yasudah sekarang kita sarapan dulu, nanti kita coba hubungi lagi papa ma" bujuk Clara


Sintia mengiyakan ajakan anaknya untuk makan terlebih dulu. Mereka berjalan menuju ruang makan yang sudah tersedia berbagai macam makanan.


Mereka belum tau saja bahwa keadaan perusahaan yang papa nya miliki sebentar lagi akan mengalami kebangkrutan. Dan mereka pun tidak akan tau kejutan apa yang akan menanti mereka setelah melukai kekasih dari seorang Kenzio Alluca Barnett.


Mereka memulai sarapan dengan tenang tanpa merasa bersalah telah membuat seseorang hampir kehilangan nyawanya. Memang jahat!


Di tengah Asik mereka menikmati sarapan, seorang Maid membawakan sebuah kotak yang sudah dibungkus dengan begitu cantik.


"Nyonya ini ada kiriman" Maid tersebut menyerahkan kotak cantik tersebut kepada Sintia


Pasalnya dia masih takut dengan kejadian tempo hari yang mendapat hadiah dari seseorang yang entah siapa nama pengirimnya.


"Tidak ada nama pengirimnya Nyonya" ucap Maid tersebut


"Mungkin itu hadiah dari papa ma, karena semalam papa tidak pulang" jawab Clara


Sintia berpikir ada benarnya juga ucapan Clara. Sintia mengambil kotak tersebut lalu membukanya.


"Aaaaarrghhh!!!!!" teriak Sintia dan Clara


Semua Maid dan para penjaga langsung menghampiri Sintia dan Clara.


"Ada apa Nyonya?" tanya salah satu penjaga rumah


Mereka tidak menjawab, Sintia dan Clara di buat gemetar oleh isi yang ada di dalam kotak tersebut.


Sintia dan Clara merasa mual melihat isi dalam kotak tersebut. Karena penasaran penjaga rumah tersebut melihat isi dalam kotak tersebut


Mereka membelalak melihat isi dalam kotak tersebut ternyata kepala Bos nya yaitu Grey. melihat ada kertas di dalamnya penjaga rumah tersebut mengambilnya dan membacanya.


"Tunggu giliranmu" gumam pria penjaga tersebut ketika membaca isi suratnya.


Sintia langsung merebut surat tersebut dan membacanya. Sintia langsung terduduk lemas di lantai yang dingin ketika membaca surat tersebut, karena penasaran Clara mengambil surat tersebut lalu membacanya.

__ADS_1


Tidak jauh berbeda dengan Sintia, Clara pun dibuat lemas.


"Ma aku tidak mau mati ma" gumam Clara menangis meraung


Sedangkan Sintia dia menatap kedepan dengan pandangan kosong.


"Ma lakukan sesuatu ma, aku tidak mau mati seperti dia" ucap Clara menunjuk kepala Grey yang ada dalam kotak


Sintia menatap Clara.


"Kita akan baik baik saja Cla, selama masih ada papa mu kita akan baik baik saja" ucap Sintia menenangkan dirinya dan anaknya.


Para maid dan penjaga yang melihat itu di buat merinding dan ngeri. Mereka berpikir siapa yang sudah berani membunuh Grey serta mengirim teror seperti ini.


......................


Sedangkan dirumah sakit pria tampan yang tertidur karena menjaga kekasihnya terbangun ketika ada seseorang masuk kedalam ruangan Amora.


Ceklek ..


Seorang Dokter dan Suster memasuki ruang rawat Amora untuk mengecek kondisinya dan mengganti perbannya.


"Tuan muda" sapa Dokter tersebut dengan menundukkan kepalanya menyapa anak dari pemilik rumah sakit ini.


"Saya akan memeriksa Nona Amora" Dokter


Ken tidak menjawab, dia hanya menggeser tubuhnya, agar Dokter tersebut leluasa memeriksa keadaan Amora.


Ken memperhatikan bagaimana cara Dokter tersebut memeriksa Amora, Ketika Suster akan membuka baju Amora untuk diganti perbannya Ken langsung mengalihkan pandangannya lalu memasuki kamar mandi dengan wajah yang memerah.


Ketika Ken keluar dari kamar mandi, diruangan itu sudah ada Wilona dan Arshan yang sedang menatap dirinya.


"Tante, om?" Ken


"Ken kemari lah" Wilona tersenyum menatap Ken dan menyuruhnya untuk duduk


Ken menghampiri Wilona dan Arshan.


"Kau pasti lelah telah menjaga Amora semalaman, lebih baik kau istirahat dulu dan pulang ke rumah nanti kau bisa kembali kemari" usul Wilona


"Iya tan" Ken


"Kau masih memanggil tante setelah kalian tunangan?" Wilona menggelengkan kepala


Ken hanya diam tidak menjawab


"Panggil kami Daddy dan Mommy Ken mulai sekarang" pinta Wilona


Ken menatap Wilona dan Arshan, lalu mengangguk menuruti permintaan Wilona


"Kalau begitu Ken pulang dulu, kalau ada sesuatu segera hubungi Ken" Ken pamit kepada kedua orangtua Amora.


"Tenang saja orang yang akan kami hubungi pertama kali yaitu kamu Ken ketika ada sesuatu tentang Amora" jawab Wilona tersenyum

__ADS_1


Ken mengangguk. Lalu pergi dari ruang rawat Amora.


#bersambung


__ADS_2