Untuk Mutia

Untuk Mutia
Apa maksudnya ini?


__ADS_3

Usai menghubungi Faisal, Mutia melihat jam digital pada ponselnya yang menunjukkan pukul tujuh lewat seperempat menit. Sudah hampir pukul setengah delapan, namun masih belum ada tanda-tanda kepulangan pasangan suami-istri itu atau paling tidak salah satunya.


Ditengah lamunan Mutia, ponsel yang berada dalam gengaman mengeluarkan suara dering bersamaan dengan layarnya yang menyala dan menampakan wajah kedua sahabatnya. Tanpa membuang waktu Mutia langsung menerima panggilan video tersebut sembari mengulas senyum lebar.


"Hai, Mutia!" sapa keduanya dengan nada ceria dan bersemangat.


"Hai juga, *kance-kance-ku" sahut Mutia, tak kalah heboh sambil melambai-lambaikan satu tangannya yang bebas. (*teman-teman)


"Kalian kok bisa sama-sama?"


"Aku lagi nemenin Mas Sultan ninjau proyek pembangunan hotel di Jakarta." ujar Ibu muda dengan dua anak.


"Dan aku lagi libur kerja, jadi pas tadi Arumi telpon ngajakin ketemu, aku langsung setuju." kali ini wanita berambut ikal sebahu dengan wajah bulat telur menggemaskan yang mengeluarkan suaranya.


"Ihh, jahat banget sih kalian. Ketemuan, nggak ajak-ajak aku. Kan pengen juga makan bareng kalian." rajuk Mutia.


Kavira terbahak melihat raut masam yang Mutia tunjukkan, tatkala Arumi menanggapi ucapan wanita itu. "Lain kali, ya. insya'allah dalam waktu dekat aku dan Kavira akan ke Bali."


"Serius?" manik hitam Mutia tampak berbinar antusias.


"Hooh. Makanya doa'in kita sehat terus dan nggak ada halangan apapun, jadi kita bisa ketemuan. Udah lumayan lama juga kita bertiga nggak kumpul bareng." Kavira menyahut dengan Arumi yang mengangguk pelan.


"Iya, aku berdoa semoga kalian selalu sehat dan baik-baik saja, terus kita bisa secepatnya bertemu." ucapan Mutia diaminkan oleh kedua sahabatnya. "Eh... omong-omong, Ata sama Alo kemana, Rum?"


"Lagi ikut bapaknya. Mas Sultan bilang aku boleh menikmati woman time." jawab Arumi.


"Iya, asal kamu inget kalau kamu bukan lajang lagi." celetuk Kavira sembari terbahak saat perkataan terakhir Sultan melintas di kepalanya, membuat Arumi seketika mencebik, sementara Mutia terkekeh pelan. Lalu mereka pun kembali melanjutkan perbincangan. Membicarakan apa saja, dari yang normal sampai ke hal-hal konyol.


"Vir, Rum, aku ke toilet bentar ya." sela Mutia ditengah cerita —tepatnya keluhan— Kavira, tentang beberapa pembeli cerewet yang menyambangi apotek tempatnya bekerja.


Setelah mendapat anggukan dari kedua sahabatnya, Mutia beranjak melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Kamar pembantu tidak memiliki kamar mandi pribadi, anyway.


"Ah... leganya." desah Mutia usai menuntaskan buang air kecilnya dan kembali duduk di depan ponsel yang sempat ia letakan pada holder.


Sejak hamil ia menjadi sangat sering buang air kecil. Awal-awal Mutia sempat terganggu, sekaligus merasa khawatir, namun dokter mengatakan hal itu sangat wajar dialami oleh wanita hamil, sebab terjadinya perubahan hormon dan juga pertumbuhan janin yang menekan kantung kemih.


"Mut." panggilan Kavira dengan wajah serius, sukses membuat Mutia menautkan alis.


"Apa?"


"Ini mata aku yang bermasalah, sehingga salah lihat atau... kamu memang lagi hamil?"


Ucapan Kavira sontak saja membuat Mutia membelalak dan reflek memeluk perutnya yang kini memang sudah cukup menyembul. Apalagi saat ini ia memakai daster yang biasa ia pakai —karena ia belum sempat membeli baju tidur khusus ibu hamil— berbahan katun, yang tentu saja memperlihatkan perut bulatnya.

__ADS_1


Beberapa minggu telah berlalu dari sejak dokter menyatakan ia positif hamil, Mutia sama sekali tidak memberitahu siapapun, termasuk Faisal dan kedua temannya. Bukan tak ingin, Mutia hanya belum siap. Dan sekarang... Tuhan menunjukkan bahwa inilah saatnya.


"Yes, i'm pregnant." dengan itu Mutia beranjak dari duduk, memperlihatkan dengan jelas perutnya yang menonjol, sebelum kembali duduk dan mengulas senyum kecil.


"Udah jalan tiga bulan."


"Oh my God!" Kavira memekik, yang Mutia yakini pasti mengundang banyak perhatian.


"Hah? Kok bisa? Kamu hamil anak siapa, Mut?"


Belum juga Mutia menanggapi ucapan Arumi, Kavira sudah menatap Arumi —seperti wanita itu adalah makhluk asing— dan mendahuluinya bicara.


"Arumi, sayang. Ya bisa lah Mutia hamil, kalau ada sperm* yang membuahi sel telurnya. Gitu aja pakek nanya. Terus... kandungan Mutia saat ini usianya tiga bulan, sementara dia pindah ke Bali baru satu bulan lebih, sekalipun ada pria disana yang menghamilinya, nggak mungkin tetiba Mutia udah hamil tiga bulan aja. Jadi... sudah jelas bahwa Ayah dari bayi dalam kandungan Mutia adalah si brengsek!"


"Kavira!" bersamaan dengan Mutia, Arumi menegur sahabatnya yang bicara tanpa di saring, namun alih-alih merasa bersalah dan meminta maaf, si empu justru nyengir lebar.


"Aelah... biarin aja kali, Haikal kan memang brengsek." kilahnya, mengundang pelototan mata dari Mutia.


"Please, aku lagi hamil sekarang, jangan perdengarkan kata-kata kasar seperti itu padanya."


"Ya Allah, Mutia. Janin itu bahkan masih berusia tiga bulan, dia juga nggak akan ngerti apa yang aku bilang." keukeh Kavira, tak mau di salahkan.


"Tetap saja tidak boleh, Kavira. Makanya hamil, biar kamu tahu bagaimana seorang Ibu ingin selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya, meskipun anak itu masih berupa janin." ucapan Arumi mendapat anggukan dari Mutia.


"Masya Allah, lo mau gue hamil? Gimana caranya? Nikah aja belum. Lo mau gue melendung tanpa nikah, gitu?" sungut Kavira dengan nada sedikit tinggi. Pertama kalinya Kavira kembali menggunakan kata lo-gue, setelah kesepakatan mereka untuk tidak menggunakannya lagi usai kelulusan bertahun-tahun silam.


Kavira dengan cepat mengangkat kedua tangannya. "Tolong, jangan bahas pernikahan. Aku masih muda, cyin. Masih dua puluh tiga."


"Terus? Aku dua puluh tiga, udah punya dua anak. Mutia dua puluh tiga, udah mau punya anak. Lah, kamu... nikah aja belum."


Memutar mata jengah, Kavira meneguk minumannya, sebelum kembali mendebat Arumi. "Aku akan menikah, tapi nanti. Saat aku sudah merasa siap."


"Kalau menunggu siap, kamu nggak akan pernah siap, Kavira. Semua orang juga begitu. Memangnya siapa yang siap menghadapi kehidupan baru bersama orang-orang baru, rutinitas berbeda, pisah dari orang tua, berbaur dengan lingkungan baru, menghadapi berbagai jenis karakteristik mertua, tinggal satu atap dengan orang yang memiliki kepribadian, pikiran dan cara pandang yang berbeda. Nggak ada, Kavira. Menikah itu, bukan tentang kesiapan, tapi merupakan penyempurna agama, sekaligus investasi di masa depan. Coba kamu bayangin, kalau sampai tua kamu tidak menikah, tidak memiliki anak, tidak ada keluarga, kamu akan sendirian. Tanpa suami, anak, cucu, dan cicit-cicit yang akan meramaikan hari tuamu. Lagipula... dengan menikah akan membuat kita terhindar dari salah satu dosa besar, yaitu zina, sebab kita memiliki seseorang yang halal." Arumi menarik nafas dalam, mengisi paru-parunya yang mulai kekurangan oksigen. "Tidak semua pernikahan akan berakhir buruk, Kavira."


"Coba kamu lihat Mutia," Kavira menanggapi. Mereka berdua pun seketika mengalihkan perhatian pada si pemilik nama. "Usianya baru dua puluh tiga, tapi Mutia sudah berstatus janda dan bahkan sekarang dalam keadaan hamil tanpa suami."


"Kavira, jangan melihat hal yang buruk saja. Kamu bisa melihat pernikahanku dengan Mas Sultan, meskipun kami sering berselisih paham. Itu hal wajar, mengingat kami adalah dua orang yang memiliki banyak sekali perbedaan. Oke, pernikahan kami mungkin masih sangat muda, jadi kamu bisa melihat kehidupan pernikahan yang lain. Contohnya kedua orang tuaku, mertuaku, orang tua Mutia, yang masih mempertahankan pernikahan mereka sampai ajal menjemput. Ayolah, pernikahan tidak semengerikan itu, Kavira."


"Dikatakan oleh orang yang memiliki banyak keberuntungan sepertimu, Arumi. Jika kamu lupa, aku tidak seberuntung kalian."


Arumi menghela nafas pelan. Antara lelah dan iba. "Vir..."


"Guys... kalian kok jadi bertengkar, sih? Seingatku kalian melakukan panggilan video untuk berbincang denganku, tapi kenapa kalian justru mengabaikanku."

__ADS_1


Ucapan Mutia berhasil menghancurkan ketengangan diantara Arumi dan Kavira. Sahabatnya yang berkulit putih langsat dengan wajah bulat telur menggemaskan itu memang sangat sensitif bila membahas tentang pernikahan.


"Sorry, aku kebawa emosi." lantas Kavira menyungging senyum kecil, membuat suasana kembali menghangat.


"Omong-omong, apa kamu sudah memberitahu Haikal?" Arumi bertanya.


"Aku tidak akan memberitahunya." Mutia berucap tegas sembari memeluk perutnya dengan posesif.


Arumi mengangguk maklum. "Tapi paling tidak kamu harus memberitahu om Tono. Biar bagaimana pun, om Tono adalah kakek dari bayimu."


"Aku tidak setuju! Itu sama saja bunuh diri, Arumi." sela Kavira.


"Lah, kenapa?" manik coklat madu Arumi menatap Kavira dengan sorot bingung.


Kavira memutar mata malas. "Kalo om Tono tahu Mutia hamil, beliau pasti akan meminta Haikal untuk membatalkan perceraian mereka. Yang artinya, usaha Mutia melepaskan diri dari Haikal akan berakhir sia-sia. Aku benar kan, Mut?" menoleh pada Mutia, Kavira tersenyum puas saat mendapat anggukan dari sahabatnya itu.


"Yah... kasihan om Tono, dong. Nggak tahu bahwa beliau akan memiliki cucu dari Mutia. Apa nggak terlalu kejam merahasiakan hal ini dari om Tono? Dia sayang banget sama kamu, Mut."


"Lebih kasihan mana, om Tono yang nggak tahu tentang kehadiran cucunya atau nasib Mutia yang kalau kembali pada Haikal akan hidup menderita. Haikal sudah menikahi Sonya, memangnya kamu tega lihat Mutia menjalani pernikahan dengan suami yang memiliki istri lain. Terus... bagaimana dengan nasib anaknya kelak? Jika Haikal saja tidak bisa menerima Mutia, besar kemungkinan dia juga tidak akan bisa menerima keberadaan anak Mutia. Lalu nanti saat anak Mutia sudah cukup mengerti, dia akan menyadari bahwa Ayahnya memperlakukan dia dan anak Sonya dengan cara yang berbeda. Hal tersebut akan memicu kecemburuan dan bisa saja membentuk kepribadian buruk. Memangnya kamu mau hal itu terjadi?" kali ini Kavira yang bicara panjang lebar, sementara Arumi menanggapi dengan gelengan kepala.


"Kamu sudah kasih tahu Faisal?" atensi Kavira beralih pada Mutia.


"Belum. Aku akan memberitahu Faisal secepatnya. Dan aku yakin, dia pasti memiliki pemikiran yang sama denganmu, Vir."


Perbincangan mereka terpaksa dihentikan saat Mutia mendengar suara bel. Wanita hamil itu berkata mereka akan bicara lagi lain waktu, karena saat ini majikannya sudah pulang. Lalu saat panggilan video berakhir, Mutia bergegas menuju ruang tamu dan segera membukakan pintu.


"A' Azril." ujarnya, lalu memerhatikan sekitar. "Aa nggak pulang bareng Teteh?"


"Aku sudah menjemputnya tadi," Azril melangkah masuk, diikuti oleh Mutia setelah menutup pintu. "Tapi kata sekretarisnya, Lamia sedang rapat dengan dewan direksi."


"Hah? Semalam ini?" Mutia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah sembilan.


Azril mengedikan bahu, lalu menjatuhkan tubuh lelahnya di atas sofa.


"Aa sebaiknya mandi dulu. Aku akan menyiapkan makan malam." kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Mutia,"


Panggilan Azril menghentikan langkah kaki Mutia yang baru saja akan memasuki ruang keluarga. Ketika menoleh, Mutia mendapati sosok Azril tengah berjalan menghampirinya dengan membawa dua kantung plastik putih berukuran besar.


"Untukmu." tangannya terulur pada Mutia. Setelah Mutia menerima kantung pemberiannya, dengan raut bingung, Azril melenggang pergi dan masuk ke dalam kamarnya.


Saat tubuh Azril telah menghilang di balik pintu kamar, Mutia memeriksa isi kantung dan mendapati banyak baju khusus ibu hamil, mulai dari baju tidur, baju sehari-hari dan baju berpergian, berbagai motif dan warna. Sementara kantung yang satu lagi berisi susu ibu hamil dengan kaleng berukuran besar dan bermacam rasa, camilan sehat, alat pijat pinggang serta punggung dan vitamin.

__ADS_1


"Ya Allah, apa maksudnya ini?"


...****************...


__ADS_2