Untuk Mutia

Untuk Mutia
Seutas benang tipis


__ADS_3

"Kopinya sudah dingin. Buatkan yang baru."


Bersamaan dengan itu Ghifar meletakkan sebuah cangkir keramik diatas meja bar, menarik perhatian Mutia yang tengah sibuk dengan wajan dan penggorengan untuk menyiapkan sarapan.


Sesaat Mutia menatap Ghifar, sebelum berlama-lama mengamati cangkir keramik yang baru saja pria itu letakan. Kopinya sudah dingin, katanya? Jelas saja sudah dingin, mengingat Ghifar meminta —atau lebih tepatnya menyuruh— Mutia membuat kopi tersebut, selepas sholat subuh, lalu setelah ia menyajikan kopi, pria itu justru melenggang pergi untuk jogging dan kembali sejam kemudian.


"Hei! Kamu tidak dengar? Cepat buatkan yang baru. Aku tidak bisa memulai hari tanpa secangkir kopi." ujar Ghifar, lengkap dengan nada suaranya yang menyebalkan. "Ingat, jangan kopi instan. Kamu harus..."


"Menghancurkan bijinya dengan mesin kopi dan menyeduhnya dengan air panas yang dimasak, bukan air dari dispenser." potong Mutia, membuat Ghifar melotot. "Tuan sudah mengatakannya sejak dua minggu yang lalu."


Tanpa berkata-kata lagi Ghifar meninggalkan Mutia. Meski Azril telah menceritakan semua yang terjadi pada Mutia, ia masih belum bisa berdamai dengan masa lalu.


Sementara Mutia yang ditinggal menghela nafas panjang. Manik hitamnya terus menatap lekat punggung Ghifar yang kian menjauh. Meski sudah berulang kali mengingatkan diri, bahwa ia pantas menerima perlakuan buruk dari Ghifar karena apa yang ia lakukan pada pria itu di masa lalu, tetap saja hatinya merasa sesak saat pria yang dulu mengaku mencintainya, kini memperlakukannya bak seorang musuh.


Benar adanya bahwa cinta dan benci itu hanya dipisahkan oleh seutas benang tipis. Sewaktu-waktu benang tersebut bisa saja terputus dan perasaan akan dengan cepat berubah.


"Jangan harap kamu bisa bekerja dengan tenang, Mutia. Kamu harus membayar setiap rasa sakit dan kekecewaan yang sudah kamu berikan padaku." adalah kalimat yang Ghifar ucapkan setelah keluar dari rumah sakit dan pulang ke rumah.


Mutia pikir, Ghifar tak mungkin sekejam itu padanya. Tapi ternyata... pria itu benar-benar memperlakukannya dengan buruk. Meski sudah berusaha sebaik mungkin, dimata Ghifar ia selalu salah. Ghifar akan mencari-cari kesalahannya, dan bila tak menemukan kesalahan, Ghifar akan menciptakan kesalahan itu.

__ADS_1


Seperti pagi ini, Mutia harus membuat kopi dua kali untuk Ghifar.


"Mut, sarapannya udah jadi?"


"Eh?" tersentak kaget, Mutia menoleh pada Lamia yang entah sejak kapan sudah berdiri disampingnya. "Sebentar lagi, Teh."


Mutia mematikan nyala kompor, lalu memindahkan nasi goreng udang dari wajan ke piring saji, setelah itu ia beralih pada mesin kopi.


"Kamu mau buat kopi untuk siapa lagi, Mut?" Lamia bertanya, membuat Mutia menoleh.


"Tuan Ghifar, Teh."


"Kopinya udah dingin, jadi aku minta buatin yang baru." tiba-tiba suara Ghifar terdengar menyela. Menarik perhatian dua pasang mata yang tengah membicarakannya.


"Kamu tinggal jogging selama satu jam, jelas aja kopinya mendingin. Seharusnya tadi kamu minta buatin Mutia setelah pulang dari jogging aja, kan kasihan Mutia jadi harus kerja dua kali." Lamia menghampiri adiknya yang duduk di kursi bar.


"Memang itu tujuanku. Membuatnya repot, tidak betah dan akhirnya pergi dari rumah ini." kemudian Ghifar melenggang pergi, tak memedulikan sang kakak yang menggeleng melihat tingkahnya.


"Mutia," Lamia beralih menatap wanita hamil yang baru saja mematikan mesin kopi. "Apa kamu dan Ghifar saling mengenal sebelum aku mengenalkan kalian?"

__ADS_1


Gerakan Mutia yang akan menyeduh kopi terhenti selama beberapa detik. Jika kak Ghifar bersikap seolah tak mengenalku, itu artinya dia tidak ingin ada yang tahu tentang masa lalu kami. Kemudian ia menanggapi dengan gelengan kepala.


"Kenapa Teteh bisa berpikir seperti itu?"


"Entahlah. Aku perhatikan Ghifar selalu menatapmu seolah kamu telah melakukan kesalahan yang sulit untuk dimaafkan." ucapan Lamia terasa seperti pisau tajam yang menusuk jantung Mutia. "Tapi di satu waktu, aku pernah tanpa sengaja menangkap sorot kerinduan dan cinta dimata Ghifar, saat dia melihatmu."


Dibanding merindukanku, kak Ghifar pasti lebih ingin meluluhlantakkan hatiku atas perbuatanku yang telah menyakitinya hingga sedemikian rupa. Tak ada lagi cinta untukku, yang tersisa hanyalah kebencian.


"Teh, bukannya tuan Ghifar pernah tinggal dan sekolah di kota Prabumulih, tapi kenapa Teteh tidak mengetahui tentang kota itu?" dibanding membahas perasaan Ghifar lebih lanjut, Mutia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.


Lamia menatap Mutia yang tengah mengambil tatakan cangkir dalam kabinet, dengan alis bertaut. "Kamu tahu darimana Ghifar pernah tinggal dan sekolah di Prabumulih?"


Mutia gelagapan, namun kemudian ia berhasil menemukan jawaban yang tepat. "Beberapa hari yang lalu aku membereskan kamar tuan Ghifar dan melihat foto-fotonya dengan latar beberapa tempat di kota kelahiranku, terus... aku juga lihat ijazah tuan Ghifar yang tergantung dalam figura. Tuan Ghifar lulusan sekolah menengah kejuruan."


Lamia mengangguk pelan sembari tersenyum. "Papa di tugaskan membantu kantor cabang di kota itu saat Mama hamil tua. Karena masa kerja Papa disana memakan waktu cukup lama, Papa membawa Mama bersamanya, sementara aku dititipkan pada Eyang. Ghifar lahir di kota itu. Setelah tugas Papa selesai, mereka mengajak Ghifar untuk pulang ke Bandung. Tapi Ghifar yang sudah merasa nyaman berada di kota itu, menolak ikut bersama Mama dan Papa. Selama beberapa tahun mereka menetap di kota itu, sesekali mengunjungiku yang tinggal bersama Eyang. Setahuku, Prabumulih itu, ya Palembang. Soalnya, kedua orang tuaku lebih sering mengatakan kota Palembang. Lalu dua setengah tahun yang lalu, entah mengapa tiba-tiba saja Ghifar memutuskan tinggal bersamaku, sementara kedua orang tua kami kembali ke Bandung."


Suara deheman memecah keheningan. Ghifar sang pelaku tengah berkacak pinggang di ambang pintu pembatas antara dapur dan ruang makan. "Jika kalian terus berbincang, kapan sarapannya. Dan kopiku pasti akan kembali mendingin. Mutia, cepat bawa sarapan ke meja makan!"


Saat sosok Ghifar telah menghilang, Lamia menghampiri Mutia dan mengusap ringan lengan wanita itu. "Jangan ambil hati semua sikap dan perkataan Ghifar. Dia memang sulit untuk beramah tamah pada seseorang."

__ADS_1


Tapi dulu aku mengenalnya sebagai pribadi yang ramah dan hangat. Apakah perubahan sikap kak Ghifar, juga karenaku?


__ADS_2