Untuk Mutia

Untuk Mutia
Memeluk erat


__ADS_3

"Anda suami pasien Mutia?" tanya dokter kandungan yang saat ini tengah memeriksa Mutia.


Ghifar tak tahu harus menjawab apa, tapi entah kenapa tiba-tiba saja kepalanya bergerak sendiri tanpa perintah dari otaknya, memberikan sebuah anggukan pelan.


"Masuk lah, pak."


Meski sedikit ragu, Ghifar tetap melangkahkan kakinya menghampiri ranjang pasien. Disana ia melihat Mutia yang berwajah pucat tengah berbaring dengan mata terpejam, sementara sang dokter sedang menempelkan stetoskop di perut buncit Mutia.


"Bagaimana keadaannya?"


"Saya sudah memeriksa keadaan istri anda beserta janin-nya, dan mereka baik-baik saja."


"Anda yakin, dok? Sebelum di bawa kemari, dia bahkan tidak bisa bangun karena perutnya kram." keukeh Ghifar, masih belum menerima hasil pemeriksaan dokter.


"Kram perut saat hamil, tergolong normal. Seiring dengan perkembangan bayi dan rahim yang membesar, hal itu juga membawa perubahan pada tubuh ibu. Selain itu, tekanan pada otot, sendi, dan pembuluh darah, peregangan ligamen, gas yang berlebihan didalam perut serta usai berhubungan ****, juga bisa menyebabkan kram pada perut bagian bawah." jelas sang dokter, tanpa menghilangkan senyum ramah dari wajah cantiknya.


"Ta-tapi beberapa hari yang lalu, saya flek, dok."


Tepat setelah Mutia menyelsaikan ucapannya, ia menerima tatapan tajam dari Ghifar.


"Kenapa kamu tidak bilang? Seharusnya hari itu kamu segera ke rumah sakit dan periksa. Bagaimana jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada bayimu?" Ghifar sedikit meninggikan suaranya, membuat Mutia berjengit kaget.


"Pak, tenang. Anda membuat pasien tertekan dan ini tidak baik untuk kandungannya." sang dokter mengingatkan, membuat Ghifar membuang nafas kasar.


"Perlu anda ketahui, wanita hamil harus selalu merasa senang dan nyaman. Stress, banyak pikiran, tertekan, kurang tidur, dan beberapa hal lainnya, bisa memberikan pengaruh buruk pada janin. Karena itu... sebagai suami, anda harus pandai mengolah emosi dan sabar dalam menghadapi wanita hamil. Sebab, saat mengandung, wanita cenderung menjadi lebih sensitif." kemudian dokter mengarahkan atensi pada Mutia.


"Ketika terjadi pembuahan, sel telur yang telah dibuahi akan menempel di dinding rahim. Hal ini menimbulkan pendarahan ringan atau keluarnya flek selama beberapa hari. Penyebab lain terjadinya flek saat hamil adalah cervical polyp. Yakni sebuah benjolan kecil di mulut rahim yang tidak berbahaya. Akibat tingginya hormon estrogen di tubuh ibu hamil, cervical polyp ini akan mengeluarkan darah. Karena meningkatnya aliran darah ke pembuluh di sekitar rahim selama kehamilan. Dan hal itu biasa terjadi saat usia kandungan berada di trimester pertama. Tapi... jika ibu hamil mengalami pendarahan bersamaan dengan rasa sakit yang amat menyiksa, sebaiknya segera di bawa ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan."


Kali ini sang dokter mendapat anggukan dari Ghifar, pertanda bahwa pria itu sudah memahami apa yang dokter tersebut jelaskan.


"Mari, saya akan memberikan resep untuk ibu Mutia." dokter meminta perawat membereskan alat pemeriksaan, lalu melenggang menuju meja kerjanya.


"Tuan, ter..."


"Cepat turun!" hardik Ghifar, membuat Mutia tersentak. "Kamu pikir aku tidak punya pekerjaan, selain menemanimu, hah?" Mutia mematung. Manik hitamnya mulai tampak berkilauan. "Aku sudah membuang banyak waktu untuk mengantarmu kemari. Jadi, cepatlah! Aku mau pulang dan istirahat." kemudian Ghifar meninggalkan Mutia dengan tak acuh.


Sorot khawatir dan kepedulian yang Mutia lihat di sepasang obsidian Ghifar beberapa saat lalu, kini telah menghilang tak berbekas. Tanpa bisa dicegah, Mutia meneteskan air mata, menerima perlakuan Ghifar yang begitu menyesakkan dada. Tampaknya, luka yang ia berikan di masa lalu sangat dalam, hingga mampu mengubah kepribadian Ghifar yang ia kenal sebagai sosok ramah nan hangat.


Nyatanya... kemarahan dan kekecewaan di masa lalu, masih memeluk erat hati Ghifar.


"Maaf." lirih Mutia.


...* * *...


Hampir empat bulan ini Lamia selalu lembur, sering kali bertengkar dengan Azril, bahkan harus mengorbankan keinginan terbesar suaminya, karena ia sedang mengejar target untuk mendapatkan promosi sebagai General Manager.

__ADS_1


Kini apa yang menjadi impiannya sejak ia bergabung di perusahaan tempatnya bekerja, telah berhasil ia raih, dan Lamia pun tidak bisa menahan diri untuk meluapkan euforia yang tengah ia rasakan.


Karena itu... hari ini Lamia memutuskan pulang sebelum jam kerja berakhir untuk membuat makanan spesial dan menikmati makan malam bersama suami serta adiknya, guna merayakan keberhasilan yang ia dapatkan.


"Lamia?"


Pemilik nama yang baru saja mematikan nyala kompor seketika membalik tubuhnya sembari tersenyum manis pada Azril, yang berdiri mematung di ambang pintu pembatas ruang makan dan dapur.


"Hai, suamiku sayang." dengan langkah anggun Lamia menghampiri Azril. Menggelayut manja di lengan suaminya, tanpa menghilangkan senyum semuringah dari wajahnya. "Kok wajahnya kaget gitu lihat aku."


Tentu saja Azril kaget, mengingat ia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Lamia pulang sebelum dirinya dan menyambutnya dengan seulas senyum hangat.


"Lupakan." mengibas tangan, Lamia tak menuntut Azril untuk menjawab. "Aa ke dapur ada perlu apa?"


"Aku... mau minum."


"Biar aku yang ambilkan. Aa ke kamar saja, terus mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat, karena aku tahu Aa tidak lama lagi akan pulang."


Kernyitan menghiasi dahi Azril. Merasa aneh dengan sikap Lamia. Wanita itu yang biasanya hanya fokus dengan pekerjaan dan sering kali mengabaikannya, kini melakukan perannya sebagai seorang istri.


Mengabaikan kebingungan serta keanehan yang ia rasakan, Azril mengangguk patuh dan beranjak meninggalkan dapur. Sementara Lamia dengan segera mengambil gelas saat tak lagi melihat sosok suaminya, lalu mengisi gelas tersebut dengan air dingin sebelum mendekati Mutia yang tengah mengaduk nasi di dalam penanak.


"Mut, kalau nasinya udah masak, kamu langsung sajikan makan malam, ya."


"Waw... sepertinya kita akan mengadakan perayaan?" Ghifar yang baru saja memasuki ruang makan, sembari mengusap rambutnya yang setengah basah menggunakan handuk kecil, menatap takjub berbagai jenis makanan yang tersedia.


"Apa seharusnya kita memperingati sesuatu yang penting hari ini dan aku melupakannya?" Azril menatap Lamia yang berdiri disampingnya dengan dahi mengernyit.


"Iya dan tidak." menarik kursi di dekat Azril, Lamia sedikit menekan pundak pria itu, memintanya duduk. Kemudian mengambil piring Azril dan mengisinya dengan nasi serta lauk pauk. "Iya, kita sedang mengadakan perayaan. Dan tidak, untuk memperingati sesuatu yang terjadi di tanggal ini, namun Aa melupakannya."


"Lalu?" Ghifar mendudukan tubuh, setelah itu memberikan piringnya pada Mutia yang tengah menuangkan air minum. Sejenak wanita hamil menatap Ghifar dengan sorot bingung, mengingat ini pertama kalinya Ghifar meminta untuk dilayani saat akan makan.


Kesadaran Mutia kembali saat Ghifar menyentuhkan piring ke lengannya sedikit kasar, membuat Mutia tersentak dan segera mengambil alih piring Ghifar dengan gugup.


"Jadi..." Lamia berhasil menarik perhatian suami dan adiknya. "Aku baru saja diangkat sebagai General Manager, yey!" dengan heboh Lamia bertepuk tangan, tak lupa mengulas senyum lebar.


Namun tarikan bibir Lamia seketika menghilang, saat mendapati respon Azril dan Ghifar yang tak sesuai ekspektasinya. Azril yang menghentikan gerakan tangannya menyuap makanan, sementara Ghifar menggeleng pelan sembari menghela nafas berat sebelum mengambil piring yang Mutia berikan.


"Hei, kenapa kalian memberikan respon seperti ini? Seharusnya kalian memberiku selamat dan ikut bahagia atas keberhasilanku." manik hitam Lamia menatap bergantian pada suami dan adiknya. "Apa hanya Mutia yang memberiku apresiasi atas pencapaianku?"


"Bahagia? Haruskah aku merasa bahagia saat kenaikan jabatan ini akan membuat tanggung jawab istriku bertambah, begitu pula dengan pekerjaannya. Waktumu akan semakin banyak digunakan untuk bekerja dan aku tersisihkan. Sebelum menjadi GM saja kamu selalu pulang malam, bahkan saat aku sudah tertidur, lalu bagaimana sekarang?!"


Tak bisa menahan emosinya, Azril melampiaskan kemarahan dengan menghempaskan sendok hingga terdengar bunyi nyaring, yang berhasil membuat Lamia dan Mutia berjengit kaget.


"Aku ingin kamu berhenti bekerja dan mulai fokus dengan rumah tangga kita." putus Azril. Sudah sekian tahun ia bersabar, memberi kebebasan pada Lamia, berharap suatu hari nanti istrinya akan berhenti dengan sendirinya. Namun ternyata, semakin kesini, Lamia justru semakin menjadi.

__ADS_1


"Berhenti? Disaat aku baru saja mendapatkan jabatan yang sejak lama aku inginkan? Tidak, Aa. Untuk sampai pada posisi ini tidaklah mudah. Aa tidak bisa menyuruhku berhenti, karena aku bekerja bahkan sejak kita belum menikah." bantah Lamia dengan nada tinggi, membuat api kemarahan Azril kian tersulut.


"Itu dulu, Lamia. Tapi sekarang kamu sudah menikah, punya tanggung jawab terhadap suami."


"Lalu Aa mau aku bagaimana? Menyilang kaki dirumah, menunggu Aa pulang dan menadahkan tangan untuk meminta uang. Begitu? Aku tidak mau menjadi istri yang hanya bisa meminta, A'."


"Tidak ada yang salah dari hal itu, Lamia. Karena memang sudah kewajiban suami mencukupi kebutuhan istrinya. Meskipun tidak sebesar gajimu, tapi gajiku masih cukup untuk biaya makan dan memanjakanmu."


"Aku akan bosan jika hanya berdiam diri dirumah, A'."


Bibir Azril menipis, tatkala manik hitamnya menatap Lamia dengan sorot tajam berbalut rasa tak percaya.


"Bosan? Jadi maksudmu... menungguku pulang adalah hal yang membosankan?!"


"A'..."


Menggeleng pelan, Azril beanjak dari duduk. "Kamu tahu Lamia, beberapa saat lalu aku merasa begitu bahagia karena apa yang kamu lakukan. Menyambutku pulang dengan seulas senyum menenangkan, bermanja denganku, menyiapkan air hangat serta pakaianku dan juga makan malam bersama. Kebahagianku sesederhana itu, Lamia. Kupikir... ini akan bertahan lama, tapi ternyata... kamu justru menghancurkan kebahagianku dalam satu kedipan mata. Semua yang kamu lakukan tadi hanya untuk merayakan keberhasilanmu, bukan untuk memperbaiki hubungan kita yang merenggang karena pekerjaanmu."


Tak ada lagi nada tinggi. Suara Azril terdengar rendah dan sarat akan kekecewaan. "Apa waktu yang kuberikan masih belum cukup, Lamia? Kapan kamu akan merasa puas dan mulai memikirkan aku?"


"Aa, haruskah kita mendebatkan hal sepele seperti ini?"


Azril tertawa sumbang. "Kamu selalu mengatakan hal sepele, tanpa kamu sadar bahwa hal sepele ini layaknya duri dalam daging, yang tentu saja bisa menghancurkan rumah tangga kita."


"Aa, tolong. Jangan menanggapi segalanya secara berlebihan." ucapan Lamia layaknya bensin yang dituangkan ke dalam kobaran api.


"Ya Allah, Lamia!" kasar, Azril mengusap wajahnya. "Aku tidak mau tahu. Kamu harus berhenti bekerja atau aku akan menemui atasanmu dan memintanya untuk memecatmu."


Kemudian Azril melenggang pergi dengan kemarahan yang masih membubung tinggi. Sedetik kemudian Lamia mengikutinya sembari mengajukan protes. Meninggalkan Mutia yang masih setia berdiri disamping Ghifar, sementara pria itu dengan santai menyantap makan malamnya. Tampak tak terpengaruh oleh pertengkaran Lamia dan Azril.


"A-apa tidak sebaiknya tuan melerai mereka?"


Menghentikan aktifitasnya menyuap makanan, Ghifar menatap Mutia dengan satu alis terangkat. "Itu urusan rumah tangga mereka. Meskipun aku adik Teh Lamia, aku tidak berhak ikut campur. Lagipula... aku memahami perasaan A' Azril. Egonya pasti terluka."


"Tapi..."


"Jangan mendebatku, Mutia! Lebih baik kamu duduk dan beri anakmu makan." sela Ghifar sebelum Mutia berhasil menyelesaikan kalimatnya.


Mutia menghela nafas, lalu menarik kursi di dekatnya dan segera mengisi piringnya, membuat Ghifar tersenyum samar. Andai semua istri sepatuh, Mutia.


Tepat ketika Mutia akan memasukkan sendok ke dalam mulut, terdengar suara teriakan Azril yang memanggil namanya dan Ghifar. Dari nada suaranya, pria itu terdengar panik sekaligus khawatir.


Mutia dan Ghifar saling pandang, sebelum beranjak meninggalkan meja makan. Melihat Mutia yang berlari tergesa-gesa, Ghifar dengan cepat meraih tangan Mutia, membuat wanita hamil itu menatap bingung padanya.


"Jangan berlari! Saat ini kamu sedang hamil. Aku tidak mau kamu terpeleset, pendarahan dan kembali merepotkanku karena harus menggendongmu ke rumah sakit."

__ADS_1


__ADS_2