
"Loh, kok mbah kesini?" Mutia bertanya pada mbah Sriti, setibanya ia dihadapan wanita lima puluhan yang baru saja memasuki lobi dengan Yusuf berada dalam gendongannya. Mutia mengambil alih Yusuf, kemudian memerhatikan putranya dengan raut khawatir.
"Apa terjadi sesuatu pada Yusuf?"
Mbah Sriti tersenyum keibuan sembari mengusap lengan Mutia, menarik perhatian wanita dua puluhan yang selama dua bulan ini telah menjadi seorang Ibu.
"Yusuf baik-baik saja. Mbah kesini disuruh sama Mas Yudha. Tadi ada supir kantor yang jemput."
Mutia baru saja akan menangapi ucapan mbah Sri, ketika ponselnya berdering. Merogoh saku celana kerja yang ia kenakan, Mutia mendapati nama Yudha menghiasi layar ponselnya. Segera saja Mutia mengangkat panggilan itu dengan masih menggendong Yusuf.
"Assallamuallaikum, Mas."
Terdengar suara Yudha menanggapi salam Mutia. "Mut, ajak mbah keruanganku. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu."
Mas Yudha mau bicara denganku, tapi kenapa meminta mbah kemari?
Meski bingung, Mutia mengiyakan ucapan Yudha. Setelah panggilan berakhir, wanita itu mengajak mbah Sriti ke ruangan Yudha. Dan tak sampai dua puluh menit, mereka sudah tiba di tempat tujuan dan duduk di sofa yang tersedia dalam ruangan tersebut.
Yudha sendiri tak langsung menghampiri kedua wanita berbeda usia itu, justru membuka pintu ruangannya dan bicara dengan sekretarisnya.
"Tolong kosongkan jadwalku untuk satu jam ke depan." pintanya pada sang sekretaris, yang langsung mendapat anggukan kepala dari wanita yang tengah berdiri di balik meja kerjanya.
Setelah itu Yudha meninggalkan pintu, tanpa menutupnya dan mendudukkan tubuh pada sofa tunggal yang berada disamping tempat duduk Mutia.
Dengan punggung bersandar dan berpangku kaki, Yudha mengatakan maksud dari tujuannya memanggil Mutia. "Aku ingin menawarkan kontrak seumur hidup padamu."
"Kontrak seumur hidup?" Mutia menatap Yudha dengan alis bertaut dan mata menyorot bingung.
"Ya."
Sekilas Yudha menatap Yusuf yang tertidur lelap di pangkuan Mutia, lantas merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah kotak kecil berbahan beludru, kemudian mendorong kotak tersebut pada Mutia, membuat Bunda Yusuf kian mengernyitkan dahi.
"Menikahlah denganku, Mutia."
Bukan hanya Mutia yang terkesiap kaget, mbah Sri pun memberikan respon yang sama. Sudah bertahun-tahun ia bekerja pada keluarga Yudha, tak pernah sekalipun mbah Sri melihat Yudha tampak tertarik pada seorang wanita, apalagi sampai ingin menjalin sebuah hubungan.
Tapi sekarang, ia tengah menjadi saksi dari lamaran anak majikannya. Dan bahkan ia bisa melihat kesungguhan serta keyakinan di manik hitam pria dua puluh tujuh tahun itu saat menatap Mutia, seolah Ibu satu anak itulah yang selama ini Yudha cari.
"Ma-Mas Yudha, bercandanya nggak lucu." Mutia tertawa hambar. Menatap putranya dengan perasaan campur aduk.
"Aku tidak akan menjadikan hal serius seperti pernikahan sebagai lelucon, Mutia." ada nada tersinggung dalam kalimat Yudha, yang sukses membuat Mutia menatap pria itu dengan lekat.
"Semua kalimat yang keluar dari mulutku akan aku pertanggung jawabkan. Ketika aku mengajakmu menikah, itu artinya aku benar-benar ingin berkomitmen seumur hidup denganmu. Perlu kamu tahu, Mutia, bukan hal yang mudah untukku mengambil keputusan sebesar ini dan kamu menganggapku bercanda."
"Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud begitu." Merasa bersalah, Mutia menundukkan kepalanya. "Aku hanya kaget. Ini... ini begitu tiba-tiba." Kemudian Mutia teringat sesuatu, serta merta ia mengangkat wajah dan menatap Yudha dengan mata memicing. "Apa... ini karena kejadian malam itu? Karena perkataan pak Rt dan para warga?"
Yudha tak menjawab. Membiarkan Mutia menebak-nebak.
"Kalau benar karena kejadian malam itu, Mas Yudha tidak perlu sampai seperti ini. Lagipula semua akan baik-baik saja, selagi Mas Yudha tidak sering datang kesana. Jadi aku rasa, tidak perlu lah sampai Mas Yudha harus memaksakan diri untuk menikahiku. Karena seperti kata Mas Yudha, pernikahan adalah komitmen seumur hidup." dan aku tidak ingin lagi merasakan kegagalan. Cukup sekali.
Terjadi keheningan yang menciptakan suasana hening nan canggung. Mutia duduk dengan salah tingkah karena Yudha terus menatapnya lekat.
"Apa kamu pikir aku type pria yang akan mengambil keputusan sembrono saat merasa terdesak?" desis Yudha dengan nada rendah, namun terdengar begitu tajam. "Jika memang iya, aku pasti sudah melamarmu malam itu juga di hadapan pak RT dan para warga. Tapi pada kenyataannya, aku butuh waktu berminggu-minggu untuk memikirkan dan mempertimbangannya, hingga aku sampai pada keputusan ini."
"Lalu untuk alasan apa Mas Yudha ingin menikahiku?" tanya Mutia sembari menatap Yudha dengan lekat.
"Karena Yusuf." Yudha menjawab dengan yakin dan tegas. "Aku ingin menjadi Ayah Yusuf yang sebenarnya, dan untuk itu aku harus menikahi Ibunya."
Mutia memejamkan matanya, menikmati deyutan nyeri yang mendera hatinya saat medengar jawaban Yudha.
Hanya karena Yusuf. Memangnya apa yang kamu harapkan, Mutia? Dia berkata mencintaimu? Ekspektasimu terlalu tinggi, Sayang. Benaknya mengolok.
Kemudian dengan bibir bergetar Mutia mengeluarkan suaranya. "Mas Yudha bisa menjadi Ayah Yusuf, tanpa harus menikahiku."
"Tidak, Mutia." Yudha menggeleng pelan. "Aku sudah jatuh cinta pada Yusuf, sejak pertama kali menggendongnya dan aku tidak bisa kehilangannya. Nanti... jika kamu memutuskan menikah dengan pria lain, aku tidak bisa lagi menjadi Ayah bagi Yusuf, karena bisa saja suamimu tidak akan menyukainya."
Mutia terdiam. Ia kebingungan.
"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, Mutia. Take you're time."
Kemudian Yudha mengambil alih Yusuf dari gendongan Ibunya, menimang bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang, sebelum mengarahkan atensi pada mbah Sriti. Pengasuh Yusuf yang ia minta datang untuk menjadi saksi dari lamarannya dan juga menjadi orang ketiga agar tak kembali muncul gosip jika ia hanya berdua saja dengan Mutia di dalam ruang kerjanya.
"Ayo pulang, mbah. Aku akan mengantar kalian." mbah mengangguk dan Yudha beralih menatap Mutia. "Kamu bisa kembali bekerja, Mutia. Dan bawa kotak itu. Jika kamu menerima lamaranku, tolong pakai cincinnya."
...* * *...
Mutia sedang menyusui Yusuf saat ponselnya yang berada di atas meja rias mengeluarkan suara dering panjang, menarik perhatiannya untuk menatap benda pipih tersebut. Wanita yang beberapa bulan lalu melahirkan itu sama sekali tidak memedulikannya, tetap fokus memberikan asupan gizi pada putranya, sambil sesekali mengusap pelan surai hitam bayi mungil itu yang terasa lembut menyentuh jemarinya.
Kemudian dengan hati-hati membaringkan Yusuf. Menepuk-nepuk lembut tubuh mungil Yusuf yang di balut popok bayi, saat putranya itu menggeliat. Setelah meletakkan dua bantal guling kecil di sisi kanan dan kiri tubuh Yusuf, Mutia meraih ponselnya.
__ADS_1
"Iya, Sal?"
"Apa si brengsek menghubungi Ayuk?"
Mengabaikan nada marah dalam suara adiknya, Mutia beranjak dari ranjang, melangkah kearah balkon, lantas berdiri disana. Menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya.
"Si brengsek siapa?"
Terdengar suara erangan jengkel dari seberang telpon. "Mantan suami Ayuk!"
"Ohh, Haikal maksudmu?"
Faisal mendengus. "Memangnya Ayuk punya berapa mantan suami, hah?" sungutnya kesal, tatkala Mutia terkekeh geli.
"Tidak. Dia tidak pernah menghubungiku."
"Akhir-akhir ini?"
Mutia mendesah pelan. "Juga akhir-akhir ini. Memangnya ada apa?"
Faisal menghela nafas lega sebelum menanggapi ucapan Mutia. "Ahh.... syukurlah kalau begitu. Sudah beberapa hari ini si brengsek itu meneror aku dan Wak untuk menanyakan keberadaanmu. Si brengsek itu pasti ingin minta maaf pada Ayuk, karena sadar apa yang terjadi pada mereka sekarang adalah balasan dari perbuatan mereka terhadap Ayuk dulu."
"Balasan?" Mutia mengernyitkan dahi. "Apa yang sudah terjadi pada mereka, Sal?"
Bukannya menjawab pertanyaan Mutia, Faisal justru mengumpat lirih. Menyesali kalimat yang telah ia ucapkan.
"Sal?!" Mutia mendesak, membuat Faisal membuang nafas kasar.
"Sonya keguguran. Lagi."
"Apa maksudnya dengan; lagi? Sonya sudah pernah mengalami keguguran sebelumnya?"
"Yah. Anak yang dulu mereka jadikan alasan untuk bersama dan menjadi penyebab kesakitan yang Ayuk rasakan, hanya bertahan sampai usia tujuh bulan, karena Sonya terjatuh dan mengalami benturan kuat pada perutnya. Kehamilan kedua, Sonya mengalami hamil di luar rahim, sehingga janinnya harus diangkat. Lalu kehamilan ketiga, seminggu lalu Sonya baru saja menjalani operasi, karena bayinya tidak berkembang sesuai usia. Dan dia akan sulit untuk hamil lagi. Si brengsek itu menceritakan semuanya pada Wak *lanang, berharap Wak kasihan, lalu memberitahunya dimana keberadaan Ayuk dan dia ingin meminta maaf. Tapi bukannya mendapatkan apa yang dia inginkan, Wak justru memukuli si brengsek itu dan mengusirnya." (*laki-laki)
"Astaghfirullah, kasihan sekali Sonya. Dalam satu tahun terakhir dia harus mengalami tiga kali keguguran."
"Mereka pantas mendapatkannya. Mungkin itu hukuman dari Allah, karena mereka telah berbuat zina dan juga menzhalimi Ayuk."
Mutia tak menanggapi ucapan Faisal, ia tengah larut dalam pikirannya sendiri, hingga suara bernada keras menyerukan namanya, berhasil menarik kesadarannya.
"Jangan pernah berpikir untuk menghubunginya, apalagi menemuinya, Yuk. Jika memang kalian harus bertemu, biarkan Allah yang menentukan saatnya, jangan Ayuk yang mendatanginya."
"Bagus ." ada senyum dalam suara Yudha. Kemudian terdengar suara Faisal menguap. "Sudah dulu ya, Yuk. Aku mau tidur. Ingat, jangan pernah menghubungi Haikal. Selamat malam, Ayukku sayang."
Mendesahkan nafas panjang, Mutia mendongak, menatap langit malam yang gelap dihiasi oleh cahaya bulan penuh. Apakah ini jawaban dari Allah atas doa-ku?
Jika dulu keputusannya menikah dengan Haikal atas permintaan orang tuanya dan karena ia ingin menunjukkan baktinya pada mereka, kali ini Mutia melibatkan Tuhan dalam keputusan yang akan ia ambil.
Sejak lamaran Yudha sebulan lalu, Mutia kian mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Sebisa mungkin tak meninggalkan salat wajib, lalu menambahnya dengan salat malam juga ibadah sunnah lainnya. ia tengah merayu Tuhan agar memberikan yang terbaik baginya, sebab ia tak ingin gagal lagi. Bila nanti ia kembali ditinggalkan, bukan hanya ia yang akan terluka, namun juga Yusuf-nya.
"Jika dia terbaik bagiku, hamba mohon satukan kami dalam ridho-Mu ya Allah. Tapi jika tidak... hamba mohon segera pisahkan kami, sebelum perasaan yang hamba miliki semakin besar." pinta Mutia disetiap doa-nya, hingga malam ini ia menerima panggilan dari Faisal.
Meninggalkan balkon, Mutia berjalan menuju lemari pakaian. Menarik keluar laci yang ada di dalam lemari tersebut, kemudian mengambil kotak beludru warna merah pemberian Yudha satu bulan lalu. Mutia memeluknya di dada, lantas membuka kotak tersebut.
"Bismillaahir rahmaanir rahim."
...* * * ...
"Pagi, bos!"
Sapaan yang diucapkan secara serentak terdengar beberapa detik setelah Yudha memasuki lift. Pria dua puluh tujuh tahun itu membalas salam para karyawannya sembari mengulas senyum ramah dan tak lupa mengucapkan kalimat penyemangat untuk para karyawannya memulai hari, yang tentu saja mendapat sahutan bersemangat dari para pekerjanya.
"Tolong tahan pintunya!"
Mengenali suara yang baru saja berteriak, membuat tubuh Yudha bergerak refleks. Tahu-tahu saja tangannya sudah bergerak menekan tombol penahan pintu dan beberapa detik kemudian sosok Mutia yang bernafas tersengal sudah berdiri disampingnya.
"Terima kasih."
Fokus menyeka peluh yang memenuhi dahinya, Mutia sama sekali tidak menyadari bahwa Yudha lah yang menahan pintu untuknya. Karena itu, saat ia mendongak dan menoleh ke samping, Mutia begitu kaget kala menemukan pria yang selalu berhasil membuat jantungnya bekerja lebih cepat, hingga membuatnya tanpa sadar memundurkan tubuh, terhuyung dan nyaris terjungkal andai saja Yudha tidak dengan sigap menahan pergelangan tangannya.
"Ada apa denganmu? Kamu melihatku, seperti melihat hantu saja." ujarnya dengan nada geli, sembari membantu Mutia menegakkan tubuh.
Mutia tersenyum kikuk. Akhir-akhir ini ia memang mudah sekali merasa kaget dan gugup setiap kali berada di dekat Yudha.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya kag..."
Ucapan Mutia seketika terhenti saat Yudha kembali menarik pergelangan tangannya, dan kali ini pria itu menatap lekat jari manisnya.
"Kamu memakainya, Mutia." pegangan Yudha pada tangan Mutia berubah menjadi genggaman, tatkala manik hitamnya menatap Mutia dengan binar... senang?
__ADS_1
"Kamu... menerimaku."
Perlakuan dan ucapan Yudha tentu saja memancing rasa ingin tahu semua orang yang berada di dalam lift. Mereka menatap bergantian pada Yudha dan Mutia dengan raut bingung bercampur ingin tahu.
"Ma-Mas."
Canggung, Mutia mengamati sekitar, menegur tindakkan Yudha sekaligus mengingatkan pria itu bahwa ada banyak orang di sekitar mereka. Namun Yudha sama sekali tidak peduli. Pria itu masih saja menggenggam erat tangan Mutia dan tersenyum lebar, seolah ia baru saja memenangkan undian berhadiah rumah mewah lengkap dengan isinya.
"Aku akan segera menghubungi orang tuaku dan meminta mereka menemuimu secepatnya."
Yudha berucap tanpa menghilangkan senyum dari wajah tampannya, membuat beberapa wanita yang ada di dalam lift menatap dengan terkesima. Cara pria itu tersenyum kali ini, sangat berbeda dari biasanya. Senyum kali ini terlihat begitu hangat dan... hidup.
Lift berdenting pelan, pintu terbuka, mereka tiba di lantai dua, namun tak ada satupun yang bergerak untuk keluar. Segala tindak tanduk Yudha seolah menghentikan pergerakkan waktu.
Yudha berdehem, sembari menatap para karyawannya. Menarik kesadaran semua orang yang sempat berceceran. "Lantai dua. Tidak ada yang mau keluar?"
Sedetik kemudian Yudha menarik Mutia mendekat padanya saat semua orang didalam lift berbondong-bondong untuk keluar. Jika ia tidak dengan sigap menarik Mutia, bisa di pastikan wanita itu akan jatuh dan terinjak-injak.
"Ma-Mas..." kikuk, Mutia dengan perlahan menciptakan jarak, lalu memperbaiki tasnya. "Ak-aku juga harus keluar."
Yudha tersenyum sembari mengangguk, namun sama sekali tak melepaskan genggamannya.
"Mas," tegur Mutia sembari menatap tangan mereka yang bertaut, membuat Yudha mengikuti arah tatapan wanita itu.
"Oh, maaf." seketika Yudha melepaskan genggamannya, lalu dengan salah tingkah mengusap tengkuk. "Nanti pulang denganku. Aku... ingin bertemu Yusuf."
Mutia mengangguk dengan wajah merona, kemudian melangkah keluar dari lift. Sempat ia lihat Yudha melambai padanya, sebelum pintu tertutup, membuat sudut bibirnya tertarik. Namun saat membalik tubuh, senyuman Mutia langsung lenyap, berganti dengan tatapan bingung kala mendapati rekan-rekannya berdiri di hadapannya. Menatapnya bak seorang wartawan yang haus berita.
"Ada apa ini?" kedatangan Fajar memutus keinginan mereka untuk bertanya pada Mutia tentang maksud ucapan Yudha di dalam lift tadi. "Perusahaan membayar kalian untuk bekerja, bukannya berkumpul tidak jelas seperti ini. Bubar!"
Tak ada yang berani membantah. Mereka pun segera membubarkan diri. Meninggalkan Fajar yang menggeleng pelan, bersama Mutia dan Keyla yang masih setia berdiri disamping sahabatnya.
"Btw, selamat ya, Mutia." Fajar menatap Mutia dengan kerlingan jahil, membuat Mutia tersipu malu. "Kamu sudah berhasil melelehkan gunung es. Dan aku doa-kan, semoga semuanya lancar."
"Kamu... tahu dari mana?" tanyanya dengan raut bingung.
"Sebulan lalu aku mau menemui pak bos. Tapi setibanya di depan ruangannya, aku justru mendengarnya melamarmu." Memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana, Fajar terkekeh geli. "Ahh... sekarang aku merasa lega, karena ternyata pak bos masih doyan perempuan." kemudian Fajar melenggang pergi, meninggalkan Mutia yang menatapnya dengan cengo.
Jadi Fajar juga berpikir Mas Yudha, gay? Batinnya geli.
Mutia terkesiap kaget saat ada yang menarik tangannya.
"Jadi beneran kamu mau nikah sama pak bos?" Keyla bertanya dengan raut serius.
Menghela nafas panjang, Mutia mengangguk.
"Demi sempaknya Gatot yang dicuci dua minggu sekali,"
"Kok kamu tahu?" potong Mutia, membuatnya mendapat delikkan dari Keyla, namun ia justru terkikik geli.
"Oh , God! Ini berita spektakuler, salah satu keajaiban dunia."
"Berlebihan kamu." Mutia berjalan menjauhi lift dan diikuti oleh Keyla.
"Pokoknya aku tunggu traktiran dan juga undangannya."
Mutia hanya menggeleng pelan. Lelah menanggapi kegilaan sahabatnya.
...* * *...
Mutia tengah berada di lantai satu gedung BM, tepatnya di bagian bengkel, menunggu Yudha yang beberapa saat lalu mengirim pesan padanya, mengajak makan siang bersama, sehingga ia terpaksa membatalkan janji makan siang dengan Keyla di detik terakhir. Ia baru saja akan meninggalkan kantor saat pesan Yudha masuk dan Keyla yang mencuri lihat ponselnya, memaksa ia untuk menunggu Yudha, sementara wanita itu sendiri melenggang pergi.
"Aku masih sulit percaya bos lamar kamu, padahal selama ini bos tidak tampak tertarik pada perempuan. Tapi sekarang bos malah tiba-tiba melamarmu."
Itjhe, satu-satunya wanita di bengkel yang memegang bagian kasir, kini tengah mengamati Mutia yang berdiri di hadapannya. Satu minggu telah berlalu, namun berita pernikahannya dan Yudha masih hangat menjadi bahan pembicaraan. Sejujurnya ia merasa risih, namun Yudha memintanya untuk bersikap tak acuh.
"Iri adalah sifat alami manusia, Mutia. Ketika kita bahagia, orang lain bersedih. Lalu ketika kita sedih, orang lain justru akan tertawa. Jika kita hidup berpatokan pada apa kata orang dan pandangan mereka, maka kita tidak akan bergerak kemana-mana. Diam di tempat dan selalu merasa serba salah. Jadi... biarkan saja mereka bicara apa. Seperti kata pepatah; anjing menggonggong, kafilah berlalu."
Mengingat ucapan Yudha waktu itu, membuat Mutia kini bisa tersenyum tanpa beban menanggapi tatapan mencemooh yang Itjhe berikan padanya.
"Aku juga masih merasa sedang bermimpi." sahut Mutia dengan nada geli.
"Ada banyak wanita cantik di kantor ini, tapi bos malah mau nikahin kamu." Itjhe menyipitkan mata. "Kamu nggak pakek ilmu hitam, kan?"
Astaghfirullah. Meski kesal menerima tuduhan itu, namun Mutia tetap memasang senyuman. "Ilmu yang aku pelajari di sekolah dulu adanya ilmu matematika, biologi, fisika, dan lain-lain. Nggak ada tuh ilmu hitam."
Itjhe menggeram. "Maksud aku guna-guna, pelet."
Sebelum Mutia sempat menanggapi ucapan Itjhe, terdengar suara seorang pria menanyakan biaya perbaikan mobilnya. Suara yang begitu Mutia kenali dan sukses membuat tubuhnya seketika mematung.
__ADS_1