Untuk Mutia

Untuk Mutia
Sakit yang sama


__ADS_3

"Tidak perlu tegang begitu, Mutia." Yudha berucap disela tawa yang coba untuk ia hentikan. "Kenapa kamu bersikap seperti aku adalah psikopat berdarah dingin yang akan membunuhmu dengan cara paling menyiksa dan menyakitkan? Atau... saat ini kamu sedang melihatku seperti seorang hakim, yang akan memberikan vonis hukuman mati padamu?"


"Ma-maaf, Mas." suara Mutia terdengar gugup. Pipinya merona malu. Dengan salah tingkah Mutia menyampirkan rambut yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga.


Kembali Yudha mengeluarkan kekehan geli. Permintaan maaf Mutia, secara tak langsung membenarkan ucapannya. Bukan karena ia seorang psikopat ataupun hakim yang akan memberikan hukuman mati, tapi terlebih karena ia terlihat menakutkan di mata wanita mungil itu.


"Santai saja Mutia, aku bukanlah orang yang kejam. Kecuali... ada yang mengganggu teritorial-ku dan membuatku kehilangan rasa nyaman. Aku... tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang!"


Mutia bersumpah, ia menangkap nada humor dalam ucapan Yudha di awal kalimat, namun sedetik kemudian suara pria itu terdengar dingin, sementara manik hitamnya menyorot tajam. Persis seperti seorang pembunuh yang siap melenyapkan korbannya kapan saja.


Tanpa sadar Mutia meneguk ludah dengan kasar, lalu mencengkram kuat pegangan kursi dan semakin melesakkan punggungnya. Ia berharap kursi berbahan lembut itu bisa menenggelamkan tubuh mungilnya dan membuat ia menghilang dari hadapan Yudha.


"Ya Allah, Mutia. Wajahmu pucat." Yudha bicara dengan santainya, sembari mengulas senyum. Ekspresi wajahnya sangat kontras dengan ucapannya yang terdengar mengkhawatirkan Mutia.


Demi Tuhan, pria seperti apa yang sedang kuhadapi ini.


"Jika kamu tidak melakukan sebuah kesalahan, seharusnya kamu tidak perlu merasa takut padaku, Mutia."


Ucapan Yudha membuat Mutia tersentak, seolah baru mendapatkan kembali kesadarannya. Yudha benar. Ia tidak melakukan sebuah kesalahan pada pria itu, lalu kenapa ia harus merasa takut?


Oh... tentu saja karena aura yang Mas Yudha keluarkan, serta bagaimana caranya mengintimidasiku hanya dengan ucapan dan tatapan matanya. Semua orang pasti akan menciut seperti balon bocor, bila berada di posisiku.


"Sepertinya kamu butuh minum untuk membuatmu sedikit rileks." beranjak dari duduk, Yudha menggulung lengan kemeja-nya, kemudian berjalan menghampiri lemari pendingin berukuran sedang di dekat rak buku. "Kamu mau minum apa, Mutia? Soda, jus, kopi atau Teh?"


Baru saja Mutia membuka mulut untuk menjawab, Yudha kembali bicara.


"Ah... kamu sedang hamil. Minuman dingin tidak baik untuk kandunganmu." menutup pintu lemari pendingin, Yudha berbalik untuk menatap Mutia. "Kopi atau Teh?"


Dan hal itu kembali terulang. Sebelum Mutia mengatakan pilihannya, Yudha sudah mengambil keputusan lebih dulu.


"Cuaca saat ini terlalu panas untuk minum kopi ataupun Teh. Jadi... air mineral saja, ya?"


Pada akhirnya Mutia hanya mengangguk pelan. Memangnya apalagi yang bisa ia lakukan selain menyetujui keputusan Yudha, yang notabene adalah pemilik ruangan tempat ia berada saat ini, sekaligus calon bos-nya.


Yudha mengambil gelas kosong. Mengisinya dengan air dari dispenser. Lalu menghampiri mejanya dan menyodorkan gelas berisi cairan bening itu pada Mutia.


"Minumlah." setelah Mutia mengambil alih gelas, Yudha kembali mendudukkan tubuhnya di hadapan Mutia.


"Minum, Mutia. Aku tidak ingin kamu semakin tegang, lalu membuat perutmu kontraksi dan aku berakhir harus membawamu ke rumah sakit, disaat aku bahkan belum memulai wawancaranya." desak Yudha, lengkap dengam tatapan tajam menusuk.


Dengan gemetar Mutia meminum air yang Yudha berikan, membuat pria bermanik hitam itu tersenyum puas.


"Good girl." tanpa mengalihkan tatapannya dari Mutia yang kini tengah meletakkan gelas, Yudha membuka laptopnya. "Sudah lebih tenang?"


"I-iya, Mas." gugup di bawah tatapan Yudha, Mutia duduk dengan gelisah.


"Kita mulai dari nama lengkapmu." satu alis Yudha terangkat, menunggu Mutia menanggapi ucapannya.


"Mu-Mutia Haruka, Mas."


"Haruka? Kamu ada keturunan Jepang?"


Sembari bertanya, jemari Yudha bergerak lincah di atas keyboard. Masih dengan tanpa mengalihkan tatapan dari Mutia, seolah ia sudah hafal letak huruf yang ada di keyboard tanpa harus melihatnya.


Mutia menggeleng. Bibirnya mengulas senyum, saat bayangan sang Ibu muncul dalam benaknya. "Ibu menyukai segala hal yang berbau Jepang. Mulai dari pakaian tradisionalnya, kebudayaannya, sampai makanannya. Aku lahir saat mereka berada di Jepang untuk liburan dan bunga sakura sedang bermekaran. Jadi... Ibu menyematkan nama Haruka di belakang nama pemberian Papa."


Mendapati Yudha yang menatapnya dalam diam, membuat Mutia tersenyum canggung. "Ma-maaf, Mas. Aku jadi kelepasan cerita."

__ADS_1


Yudha tersenyum. "Kamu merindukan Ibumu?" simpulnya, saat melihat pandangan Mutia yang tampak menerawang.


Mutia mengangguk. "Tapi aku tidak bisa bertemu mereka lagi."


"Kenapa?"


"Beda dunia." Mutia tersenyum getir.


Sementara Yudha yang berhasil menangkap maksud ucapan Mutia, membuat pandangannya seketika melembut. "Orang tuamu sudah meninggal?"


"Ya. Beberapa tahun lalu." jelas Mutia singkat, pertanda tak ingin memperpanjang pembahasan tentang orang tuanya.


Yudha mengangguk-angguk, paham. "Tempat tanggal lahir?"


"Prabumulih, 12 Desember '95."


"Prabumulih?" Yudha menautkan alis, sembari kembali mengetik.


"Iya, Mas. Salah satu kota di pulau Sumatera. Tepatnya Sumatera Selatan. Sekitar dua jam perjalanan dari kota Palembang, kalau tidak macet."


Yudha tersenyum kecil. Ia bukannya tidak tahu letak kota yang mendapat julukan sebagai kota Nanas tersebut. Hanya saja, ia sedikit kaget menemukan orang yang berasal dari kota yang sama dengannya.


"Berarti sekarang kamu berusia dua puluh tiga tahun?" Mutia mengangguk. "Kamu seusia dengan kakak iparku. Dan sekarang dia sudah punya dua anak. Terkadang aku merasa geli menyebutnya kakak ipar, disaat dia berusia lebih muda empat tahun dariku."


Yudha tersenyum geli, pun dengan Mutia. Wawancara terus berlanjut, hingga tiba lah pada pertanyaan yang Mutia harap Yudha lupakan. Sayangnya, realita sangat jarang sesuai ekspektasi.


"Lalu... bagaimana suamimu? Apa dia tidak keberatan kamu bekerja? Mengingat sekarang kamu sedang hamil besar."


Mutia menunduk. Menyembunyikan matanya dari Yudha. Ia takut pria itu tahu ia berbohong, saat menatap matanya.


"Dia... sudah meninggal. Kecelakaan kerja."


"Apa sebelum ini kamu pernah bekerja?"


"Iya, Mas. Lulus SMK aku pernah kerja di warnet, sekitar satu tahun. Terus toko jus buah, toko baju, counter ponsel dan terakhir pembantu rumah tangga."


"Di toko jus, kamu bekerja sebagai pelayan?" Mutia mengangguk. "Kalau toko baju dan counter ponsel?"


"Di toko baju, aku bagian kasir, Mas. Sementara di counter ponsel, aku juga bagian pelayan, tapi sistem kerjanya kayak BA kosmetik gitu, Mas. Nawarin produk yang aku pegang ke pembeli. Untuk gajinya, ada gaji pokok dan setiap berhasil jual produk, akan di kasih bonus bulanan."


"Sales ponsel?"


"Iya, Mas."


Yudha tersenyum lebar. "Itu artinya kamu tidak asing lagi dengan teknik marketing, right?"


Kali ini Mutia mengangguk pelan.


"Bagus." menautkan jemarinya di atas meja, Yudha memaku atensi pada Mutia. "Mungkin Keyla sudah mengatakan bahwa dealler ini sekarang tengah membutuhkan banyak karyawan di bagian pemasaran, jadi aku akan memberi gambaran terlebih dulu padamu, sebelum kamu memutuskan untuk lanjut atau tidak."


Mutia hanya diam, namun dalam hati menunggu penjelasan Yudha dengan tidak sabar.


"Gedung ini memiliki empat lantai. Di lantai dasar ada bengkel dan tempat penyewaan mobil. Showroom di lantai dua. Ruang karyawan di lantai tiga. Sementara di lantai empat ada ruanganku dan tempat sholat."


"Sudah ada sembilan orang yang lulus seleksi wawancara. Jika kamu berhasil melewati sesi ini, kamu akan bergabung dengan kesembilan calon sales yang lain. Setelah seleksi wawancara, kamu akan masuk ke seleksi lapangan. Dimana selama tiga bulan ke depan kamu akan menjalani masa percobaan. Kamu dan rekanmu yang lain akan membagikan brosur yang sudah tercantum nomor ponsel kalian, pada tempat-tempat yang sudah kami tentukan."


"Dalam tiga bulan, kalian harus menjual dua mobil dengan merk apapun. Jika dalam jangka waktu tiga bulan, kamu hanya berhasil menjual satu mobil atau bahkan tidak sama sekali, maka itu artinya kamu gagal dan dengan berat hati aku tidak bisa menerimamu sebagai karyawan. Tapi..."

__ADS_1


"...jika kamu berhasil menjual dua mobil sebelum tiga bulan, di saat itu juga aku akan langsung mengangkatmu sebagai sales tetap dan bekerja di dalam kantor, seperti Keyla. Jadi... Mutia, apa keputusanmu?"


Mutia menatap Yudha dengan penuh tekad dan hati yang mantap. "Keyakinanku sama sekali tidak berubah, Mas."


"Oke." Yudha tersenyum puas, lalu kembali pada laptopnya.


Selama beberapa saat pria itu fokus dengan benda elektronik tersebut, sebelum kemudian terdengar suara printer. Sedetik kemudian Yudha menyodorkan dua lembar kertas pada Mutia.


"Itu adalah surat perjanjian sementara untuk tiga bulan ke depan. Silahkan baca dengan teliti, pastikan data dirimu benar dan bila setuju, kamu tanda tangan di kedua kertas tersebut. Saat kamu berhasil melewati masa percobaan, surat perjanjian ini akan di perbaharui dan kamu akan mendapat kontrak kerja."


"Jadi... aku lulus wawancara, Mas."


"Baca, Mutia. Setelah itu tanda tangan."


Mutia tersenyum lebar. Meski Yudha tidak memberikan jawaban secara gamblang, namun ucapan pria itu sudah cukup memberitahu Mutia bahwa ia berhasil melewati satu tahap.


Butuh lima belas menit bagi Mutia untuk membaca setiap kalimat yang tertera di kertas tersebut dan memahaminya. Setelah berulang-ulang membacanya, Mutia merasa yakin untuk membubuhkan tanda tangan di atas materai enam ribu, lalu menyerahkan dua lembar kertas itu pada Yudha, yang langsung di ambil alih.


"Selama tiga bulan ini kamu dan yang lain akan berada di luar kantor. Tapi... tepat pukul delapan pagi, kalian harus ada disini untuk absen masuk, mengambil brosur, kartu pengenal dan uang makan, setelah itu mobil kantor akan mengantar kalian ke titik dimana kalian harus menyebarkan brosur. Pukul dua belas tepat, waktunya istirahat. Silahkan makan dan sholat, hingga pukul setengah dua siang. Jam kerja kalian berakhir pukul setengah lima. Pada jam lima tepat, kalian sudah kembali ke kantor untuk absen pulang. Untuk libur, satu kali seminggu dan akan di bagi jadwalnya."


Mutia menanggapi penjelasan Yudha dengan anggukkan kepala.


"Lalu... gaji, selama masa percobaan, kalian akan menerima seperempat dari gaji sales tetap, plus uang makan setiap harinya." mengulurkan tangannya, Yudha mengajak berjabatan, yang langsung disambut oleh Mutia. "Selamat bergabung di Barata Mobilindo. Aku melihatmu sebagai sosok yang teguh pendirian, bersemangat dan pantang menyerah. Kuharap... penilaianku ini tidak salah."


"Akan kubuktikan bahwa penilaian Mas Yudha memang benar."


Yudha mengangguk untuk menanggapi, lalu menyodorkan selembar kertas perjanjian pada Mutia. "Setelah ini kamu turun ke lantai tiga. Temui pria bernama Junet, lalu serahkan surat perjanjian ini beserta ijazah, kartu tanda pengenal dan berkas-berkas lainnya milikmu pada Junet. Dia akan meng-copy berkas itu untuk dimasukkan ke dalam database."


"Baik, Mas. Kalau begitu aku permisi." beranjak dari duduk, Mutia mengambil tas-nya dan membawa serta kertas perjanjian yang Yudha berikan.


"Tunggu." ucapan Yudha sukses menghentikan gerakan Mutia untuk membuat langkah. Wanita itu pun menatapnya dengan sorot bertanya. "Kamu bilang sudah beberapa bulan tinggal di Bali, tapi kenapa kamu justru terlihat seperti baru tiba di Bali dengan membawa-bawa tas itu."


"Sebelum ini aku tinggal di rumah majikan. Lalu saat aku berhenti bekerja, tentu saja aku harus pergi dari rumahnya."


"Kenapa kamu berhenti? Dengan kondisimu yang hamil besar, akan sulit untukmu mencari pekerjaan. Tapi disaat kamu sudah memiliki pekerjaan, kamu justru memutuskan berhenti."


"Terjadi kesalahpahaman yang membuatku tidak bisa lagi berada disana."


"Kesalahpahaman seperti apa?" Yudha menaikkan satu alis, tatkala matanya menyipit curiga.


"Majikanku yang wanita menemukanku tidur di ranjangnya." menundukkan kepala, Mutia mengusap perut buncitnya dengan gerakkan pelan.


"Kamu berselingkuh dengan suaminya?!" ada penekanan dalam ucapan Yudha. Suara pria itu terdengar dingin, sinis, kecewa dan sarat akan kemarahan.


Mutia mengangkat wajah. Menantang tatapan tajam Yudha dengan seulas senyum getir nan pedih. "Saat kita tahu bagaimana rasanya tersakiti dan terkhianati, kita akan lebih waspada menjaga hati. Aku pernah merasakan sakit itu, jadi aku tidak akan memberikan sakit yang sama pada orang lain. Sebab aku percaya, segala hal yang aku lakukan, pasti akan mendapat balasan. Memang terdengar munafik, namun saat orang yang bicara itu menempati posisiku, dia baru akan mengerti."


Seperti Mutia, Yudha pun kini mengulas senyum getir. "Kamu benar. Saat kita telah merasakan pedihnya tersakiti, kita akan menjadi pribadi yang selalu berhati-hati. Semata agar kita tidak menyakiti orang lain dan juga merasakan kembali sakit itu." gumamnya. Sorot terluka yang sebelumnya menghiasi manik hitam Yudha, kini telah menghilang dan berganti dengan tatapan hangat nan lembut.


"Aku menyediakan satu rumah untuk karyawan yang berasal dari luar kota. Masih tersisa banyak kamar disana. Kamu bisa menempati salah satu kamarnya. Temui Keyla dan minta dia untuk menemanimu, katakan aku yang memintanya."


Mutia mengangguk. "Terima kasih, Mas."


"Oh ya, hampir lupa." sudut bibir Yudha tertarik membentuk lengkungan manis. "Senang bertemu denganmu lagi, Mutia."


Jadi Mas Yudha benar pria yang menolongku di lorong toilet waktu itu. Mutia membalas senyuman Yudha tak kalah lebar.


Kemudian Mutia melenggang pergi, meninggalkan Yudha yang kini bersandar lelah di kursinya dengan mata terpejam.

__ADS_1


"Merasakan sakit yang sama, ya?"


__ADS_2