
"Aku sudah memperbaiki kunci rumah."
Serta merta kedua bersaudara yang baru saja keluar dari kamar mengarahkan atensi pada asal suara, hanya untuk menemukan sosok Yudha tengah duduk di sofa ruang keluarga, di temani oleh televisi yang menayangkan siaran berita.
Manik jelaga Mutia tampak berbinar, tatkala bibirnya mengulas senyum lebar. "Syukurlah. Aku udah khawatir nanti malam nggak bisa tidur nyenyak karena mikirin pintu rumah yang tidak terkunci."
Kemudian Yudha beranjak dari duduk. "Baiklah, kalau begitu aku balik ke kantor sekarang."
"Mas Yudha sudah makan siang?" Faisal berhasil mengurungkan niat Yudha untuk meninggalkan ruang keluarga.
"Belum. Dari sini aku akan mampir ke tempat makan."
"Kenapa tidak makan bersama kami saja? Ayuk masak banyak makan siang. Iya, kan?" menoleh pada Mutia, Faisal meminta dukungan.
"Hah?" menerima tatapan secara tiba-tiba dari Yudha membuat Mutia gelagapan, lalu dengan kikuk ia menganggukkan kepala. "I-itu pun kalau Mas mau."
Yudha tersenyum kecil. "Apa tidak masalah? Aku akan menganggu waktu kalian melepas rindu."
"Omong kosong," Faisal mengibaskan tangan. "Aku ke Bali untuk liburan, bukan karena merindukan si cerewet ini." lantas Faisal mengajak Yudha untuk ke ruang makan, meninggalkan Mutia yang bergeming dengan bibir mengerucut.
"Dasar adik durhaka kamu." sungut Mutia sembari melemparkan tatapan jengkel pada Faisal, setibanya ia di dekat meja makan.
"Jangan galak-galak, Yuk, ntar jauh jodoh, loh." goda Faisal, membuat kekesalan Mutia kian bertambah.
"Bodoh amat tentang jodoh, sekarang yang aku pikirin bisa lahiran dengan selamat atau tidak."
"Mutia!"
"Ayuk!"
Menerima tatapan bengis dari dua orang pria beda usia di dekatnya membuat Mutia salah tingkah dan mengusap tengkuknya dengan rikuh.
"Aku tidak suka mendengarmu bicara seperti itu, Mutia." nada suara Yudha terdengar tegas dan mendapat anggukan setuju dari Faisal. "Seharusnya kamu bicara yang baik-baik, karena ucapan adalah doa."
Bak pelajar sekolah dasar yang baru saja melakukan kenakalan dan dipanggil guru, Mutia menundukan kepala, menyesali perbuatannya.
"Hidup dan mati memang di tangan Tuhan, tapi hendaknya kamu berdoa agar di berikan waktu yang cukup untuk merawat dan menjaga anak yang telah kamu lahiran, hingga dia tumbuh dewasa. Kamu mengerti, Mutia?"
"I-iya, Mas. Maaf."
Yudha tersenyum gemas melihat tingkah Mutia, masih setia menunduk dan memilin bagian depan dress hamil yang wanita itu kenakan.
__ADS_1
"Apa kita bisa makan sekarang?" Yudha mengalihkan pembicaraan, menghilangkan ketegangan. Bibirnya menyungging senyum saat Mutia mengangkat wajah. "Perutku sudah meronta minta diisi."
Tertular senyum Yudha, Mutia ikut menarik sudut bibirnya, lalu meraih piring kosong. Mengisi piring tersebut dengan nasi, lantas menunjukannya pada Yudha.
"Lagi?"
"Cukup. Kalau kurang, nanti nambah." Yudha mengedipkan satu mata, yang di tanggapi Mutia dengan kekehan geli, kemudian ia menerima piring yang Mutia berikan.
"Aku, Yuk." bersamaan dengan itu Faisal menyodorkan piringnya pada Mutia.
"Ambil sendiri." Mutia memalingkan wajah.
Faisal mencebikkan bibir. "Jahatttt." ujarnya dramatis, lantas dengan bersungut sebal mengisi piringnya.
"Rencana berapa hari disini, Sal?" tanya Yudha setelah ia mengambil lauk dan sayur tumis.
"Empat hari, Mas." sahut Faisal sembari menikmati makan siangnya. "Oh iya, Mas tahu tempat kost atau kamar yang bisa di sewa selama beberapa hari disekitar sini? Karena nggak mungkin aku tinggal bareng Ayuk, mengingat di rumah ini semua penghuninya perempuan."
"Kenapa tidak menginap di hotel saja?"
"Muahaal, Mas. Apa daya, aku hanyalah seorang pelajar SMA." menangkup tangan di dada, Faisal menunduk dengan cara berlebihan, membuat Mutia mendengus keras melihat adiknya yang suka sekali bertingkah.
"Sewa kost harian juga sama mahalnya, Sal." meraih gelas, Yudha meneguk isinya hingga tersisa setengah, sebelum kembali bicara. "Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di rumahku untuk empat hari ke depan."
"Nggak perlu, Mas."
Faisal yang beberapa detik lalu berbinar mendengar ucapan Yudha, seketika menoleh pada Mutia dengan raut masam.
"Faisal sewa kost aja, Mas. Kalau tinggal bareng Mas, nanti ngerepotin. Nih anak suka nyusahin soalnya." Mutia melirik sinis pada adiknya yang mencebikkan bibir.
"Tenang saja, kalau aku merasa di repotkan, Faisal akan langsung aku tendang keluar dari rumah." guyon Yudha, disertai dengan kekehan geli.
"Nah, Yuk. Mas Yudha aja nggak keberatan aku tinggal di rumahnya." ujar Faisal antusias. Lumayan, nggak ngeluarin uang sewa, batinnya riang.
"Tapi, Mas..."
"Aku yakin budget liburan Faisal terbatas. Dia pasti mau mengeksplorasi Bali. Jadi... daripada uangnya digunakan buat bayar kost, mending dipakai untuk jalan-jalan atau membeli sesuatu. Dan juga, orang yang liburan, pastinya pulang harus bawa oleh-oleh. Iya, kan?"
"Iya banget, Mas. Ya Allah, kenapa Mas Yudha lebih mengertiku, daripada kakak kandungku sendiri?" sahut Faisal bersemangat.
Mengabaikan Faisal, Mutia kembali menanggapi ucapan Yudha. "Atau begini saja, Faisal nginep di rumah Mas yang disediakan untuk karyawan pria dan Faisal akan bayar biaya sewa kamarnya. Bagaimana?" Mutia tersenyum lebar karena berpikir telah berhasil mendapatkan solusi.
__ADS_1
"Tidak ada kamar lagi disana, Mutia."
Tentu saja Yudha berbohong. Karena seperti rumah ini, rumah yang di tinggali karyawan pria pun memiliki banyak kamar dan karyawan dari luar kota yang menetap disana pun bahkan masih bisa di hitung dengan jari tangan.
Memiringkan tubuhnya pada Mutia, Yudha menatap wanita hamil dengan tajam dan lekat. "Kenapa kamu sangat keras kepala, Mutia?"
Menghela nafas, Mutia mengangguk pelan. "Baiklah."
...* * *...
"Jawab panggilanku, Mutia. Kamu dimana? Kamu baik-baik saja, kan? Aku mengkhawatirkanmu."
"Kenapa kamu pergi tanpa menungguku pulang lebih dulu? Aku tahu kesalahpahaman antara kamu dan Teteh pasti membuatmu tidak nyaman juga merasa bersalah, tapi haruskah kamu pergi tanpa memberitahuku dan menghilang seperti ini?"
"Seharusnya kamu tidak pergi, Mutia. Tunggu aku. Aku pasti akan membantumu. Mencarikan tempat tinggal dan pekerjaan baru untukmu, jika memang kamu tidak mau lagi berada di antara Teh Lamia dan Azril."
"Mutia, kumohon. Jangan abaikan aku. Telpon aku setelah kamu mendengar pesan suara ini."
"Aku masih menyayangimu. Bahkan hingga detik ini. Dan aku... merindukanmu."
Helaan nafas berat keluar dari sela bibir Mutia, bersamaan dengan ia meletakkan ponsel ke atas nakas, lalu mengusap kasar wajahnya. Sudah beberapa hari ini Ghifar rutin menghubunginya. Baik melalui telpon, pesan singkat, WA, Line, bahkan sampai melalui direct message di sosial media miliknya, namun ia selalu mengabaikan pria itu. Karena tak kunjung mendapat jawaban darinya, kini Ghifar beralih membombardir-nya dengan pesan suara.
Tidak seperti nomor Azril yang sudah ia blokir sejak meninggalkan kediaman Lamia, sebab ia benar-benar ingin memutus hubungan apapun dengan pria itu, Mutia membiarkan nomor ponsel Ghifar dan Lamia tetap tersimpan di ponselnya. Mereka bisa menghubunginya kapan saja, seperti yang sering Lamia lakukan. Namun untuk Ghifar, pria itu sepertinya baru mendapatkan cuti libur, lalu pulang dan tak lagi menemukannya di rumah Lamia, sehingga kini Ghifar mulai menghubunginya.
Mungkin sebaiknya aku memblokir nomor kak Ghifar agar dia benar-benar melupakanku.
Dan Mutia melakukannya. Meraih cepat ponsel di atas nakas, kemudian memblokir nomor Ghifar. Sedetik kemudian benda pipih dalam genggamannya bergetar dan mengeluarkan dering nyaring. Ada sederet nomor tanpa nama tertera di layar ponselnya. Panggilan masuk.
Mutia dilema. Haruskah ia menjawab panggilan dari nomor tak dikenal itu?
Tapi bagaimana kalau panggilan ini dari kak Ghifar? Atau lebih parahnya A' Azril. Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan?
Panggilan berakhir. Mutia sempat menghela nafas lega. Namun tiga detik setelahnya, panggilan dari nomor yang sama kembali masuk. Mutia ingin mengabaikannya, tapi entah kenapa hatinya justru berkata agar ia menjawab panggilan itu.
Setelah bergelut dengan pikirannya, Mutia membuang nafas kasar, kemudian memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut.
"Assalamualaikum. Se-selamat malam."
Terdengar sahutan dari seberang telpon menanggapi sapaannya.
"Ya, saya Mutia. Maaf, ini siapa ya?"
__ADS_1
Dan jawaban si penelpon membuat Mutia membelalak dengan tangan reflek menutup mulutnya yang menganga.