Untuk Mutia

Untuk Mutia
Kamu... pembohong!


__ADS_3

"Bisakah Aa diam dan duduk. Mataku bisa juling, jika terus mengikuti gerakan Aa."


Serta merta Azril menoleh pada adik iparnya yang duduk berdampingan dengan Mutia di kursi tunggu depan ruang UGD dan melemparkan tatapan tajam.


"Memangnya siapa yang suruh kamu ngikutin pergerakanku?" ujarnya sewot.


"Lah, Aa kan mondar mandir di depanku, jadi secara otomatis pandanganku pasti ngikutin Aa. Mutia juga." menoleh pada Mutia, Ghifar meminta dukungan. Sedetik kemudian bibirnya tertarik simetris saat mendapati Mutia menganggukan kepalanya.


"See? Lebih baik Aa duduk, tenangkan diri, sebelum Mutia pusing dan berakhir muntah-muntah."


Wanita hamil itu merengut saat Ghifar menjadikannya sebagai alasan.


"Bagaimana aku bisa tenang, Ghi? Istriku sedang ada di dalam sana dan sampai detik ini aku tidak tahu kondisinya. Kalau kamu berada di posisiku, kamu pasti akan bersikap sama sepertiku." kemudian Azril menghampiri kursi disamping Mutia dan mendudukkan tubuhnya disana. Kedua tangannya bergerak mengusap wajah dengan kasar.


Ghifar melirik Mutia. Tiba-tiba saja bayangan Mutia berada di ruang UGD dan ia menunggu dengan perasaan cemas, membuat Ghifar seketika bergidik. Menggelengkan kepala, Ghifar berusaha menyingkirkan bayangan mengerikan itu dari dalam benaknya, sebelum menanggapi ucapan Azril.


"Jika Aa lupa, Teh Lamia adalah saudaraku satu-satunya. Aku juga mencemaskan keadaannya, A'. Jangan Aa kira diamnya aku, berarti aku tidak peduli pada Teh Lamia. Dalam situasi seperti ini kita harus tenang. Kepanikan membuat otak kita memunculkan pikiran-pikiran negatif."


Sekali lagi Azril mengusap wajahnya dengan kasar, kali ini ia pun menyugar rambutnya, kemudian mengangguk pelan. Menoleh pada Ghifar, ditatapnya sang adik ipar dengan mata sayu. "Kamu udah kasih tahu Mama dan Papa?"


"Belum. Aku tidak mau membuat mereka panik. Nanti, setelah kita tahu apa yang terjadi pada Teh Lamia, barulah aku atau Aa yang memberitahu mereka."


Azril mengangguk setuju, lalu menyandarkan punggung dan menutup mata dengan lelah. Menunggu dokter yang memeriksa keadaan Lamia keluar dari ruang UGD, terasa begitu lama. Dalam pejaman matanya, Azril kembali mengingat kejadian beberapa saat lalu, sebelum Lamia akhirnya di larikan ke rumah sakit.


"Aku? Egois, katamu?" menipiskan jarak, Azril menatap tepat di manik jelaga Lamia. "Tujuh tahun, Lamia. Selama tujuh tahun kita menikah, pernahkan aku memaksamu melakukan apa yang kukatakan, seperti hari ini? Pernahkah?!" kasar, Azril menyentak tubuh Lamia, membuat wanita itu terhuyung dan mundur dua langkah.


"A'..."


Mengabaikan Lamia, Azril membalik tubuh, memunggungi istrinya dan kembali mengeluarkan unek-unek yang selama ini mengedap dalam hatinya.


"Aku selalu mengalah dan bersabar menghadapimu. Kubiarkan kamu melakukan apa yang kamu inginkan, berharap suatu hari nanti kamu akan sadar bahwa ada aku yang juga membutuhkanmu. Tapi hingga hari ini, kamu tetap keras kepala mempertahankan pekerjaanmu dan mengabaikan keinginanku untuk segera memiliki keluarga utuh. Masih kurang kah yang kulakukan selama ini? Sekarang aku tanya, siapa yang egois, hah?!"


Tak ada suara Lamia yang terdengar, melainkan suara sesuatu terjatuh dengan cukup keras menghantam ubin. Serta merta Azril berbalik hanya untuk mendapati istrinya tergeletak di lantai kamar dengan wajah pucat pasi. Bergerak cepat, Azril menghampiri Lamia. Memangku kepala istrinya dan sesekali memberikan tepukan ringan di pipi.


"Lamia, ini tidak lucu. Jangan bercanda! Pura-pura pingsan tidak akan mengubah keputusanku." tetap tak ada sahutan. Dan kini Azril mulai panik. "Lamia, bangun. Aku tidak suka kamu menjadikan hal ini sebagai lelucon."


Karena tak kunjung mendapat respon, Azril pun berteriak memanggil Ghifar dan Mutia. Tak sampai lima menit keduanya tiba di kamar dan menatap Lamia dengan sorot terkejut bercampur khawatir.


"Aa memukul Teteh?" tuduh Ghifar, setelah ia berjongkok di depan kakak iparnya.


Azril melemparkan tatapan tajam. "Jangan asal bicara! Seumur hidup, aku tidak pernah menyakiti wanita. Kami memang berdebat tadi, namun aku tidak sampai hati melayangkan tanganku pada Lamia."


"Lalu kenapa Teteh bisa pingsan? Tidak mungkin, tanpa sebab Teteh langsung seperti ini."


"Memang itu kenyataannya. Saat kami sedang berdebat, tahu-tahu saja dia sudah pingsan."

__ADS_1


"Mana mung..."


"Aa, tuan, sebaiknya kita segera bawa Teteh ke rumah sakit. Berdebatnya di lanjutkan nanti saja." Mutia menyela, tanpa mengalihkan tatapan cemasnya dari Lamia.


Tepukan ringan di lengannya menarik kesadaran Azril dari lamunannya. Sontak Azril menoleh pada Mutia yang baru saja menepuknya, sembari menaikan satu alis. Bertanya tanpa bicara.


"Dokternya sudah keluar, A'."


Serta merta Azril mengikuti arah tatapan Mutia dan mendapati seorang pria awal empat puluhan dengan snelli membalut tubuhnya, keluar dari ruang UGD. Serentak, ketiga orang yang duduk di kursi tunggu beranjak menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Azril mewakili Ghifar dan Mutia untuk menanyakan kondisi Lamia.


"Anda suaminya?"


"Iya."


"Bisa kita bicara di ruangan saya?"


"Baik, dok."


Pria awal empat puluhan itu meminta asistennya untuk menemani Azril ke ruangannya, sementara ia berjalan lebih dulu.


Sepeninggal dokter, Azril tak langsung mengikutinya. Pria itu justru mengarahkan atensi pada Mutia yang berdiri di sampingnya. Wajah wanita hamil itu tampak pucat, keringat seukuran biji jagung menghiasi dahinya, sementara satu tangannya memegangi pinggang.


Akhir-akhir ini, Mutia memang sering kali merasakan nyeri punggung dan pinggang, serta merasa cepat lelah. Wanita itu sempat khawatir, namun dokter bilang hal tersebut wajar terjadi. Sebab semakin bertambah usia kandungan, Mutia akan semakin cepat lelah dan merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya.


"Tidak, A'. Aku juga akan tetap disini untuk menjaga Teteh." bantah Mutia.


Ghifar berdehem keras. Menarik perhatian dua orang yang tampak melupakan kehadirannya. Dan deheman Ghifar serta tatapan tajam pria itu pada tangan Azril yang bertengger di rambut Mutia, membuat Azril dengan kikuk menarik tangannya.


Manik hitam Ghifar menatap lekat pada Mutia. "Dasar keras kepala! Untuk menjaga orang yang sakit, kamu butuh tubuh yang kuat. Lah ini, kondisi tubuhmu saja memprihatinkan. Nanti bukannya menjaga Teh Lamia, kamu justru pingsan dan merepotkan kami berdua. Jadi... jangan membantah!"


Mutia beringsut mundur dan menundukan kepala. Kedua tangannya memeluk perut, sesekali memberi usapan.


Azril yang tak tega melihat Mutia tampak menciut setelah diomeli Ghifar, menggerakan tangannya mengusap punggung Mutia. Membuat kepala wanita hamil itu terangkat dan menatapnya dengan mata hitam bening yang memikat.


"Pulang, ya. Ghifar juga akan pulang bersamamu." bujuk Azril.


Ghifar memutar mata jengah. Diraihnya tangan Mutia, lalu menarik pelan wanita itu ke dekatnya. "Kamu bukan anak kecil lagi, yang harus selalu di bujuk. Apa perlu aku membelikanmu permen atau gula kapas?!"


Mutia menggeleng.


"Ayo, pulang."


Tanpa mendapat persetujuan dari Mutia, Ghifar memaksa wanita itu mengikutinya.

__ADS_1


"Hati-hati, Ghi. Dia sedang hamil."


Peringatan Azril membuat Ghifar sontak melirik perut Mutia, lalu mendengus. "Kenapa dia bertingkah seperti Ayah yang mengkhawatirkan calon anaknya? Menyebalkan!"


...* * *...


"Bu RT. Masuk, bu." Ghifar memberi jalan. Keduanya pun menghampiri sofa ruang tamu dan mengambil posisi duduk berhadapan. "Cari Teteh ya, bu? Tetehnya masuk rumah sakit tadi malam. Kalau ada perlu sama Teteh, bilang saya saja, nanti saya sampaikan ke Teteh."


"Oh, bukan. Saya bukan cari Lamia, tapi saya mau ketemu Mutia."


"Ketemu Mutia?" Ghifar menegaskan. Lalu saat mendapat anggukan dari bu RT, Ghifar pun langsung berteriak memanggil Mutia yang tengah berada di dapur. Tak berapa lama Mutia pun tiba di ruang tamu dan menatap penuh tanya pada Ghifar.


"Duduklah. Bu RT mencarimu."


Menoleh pada bu RT, Mutia mendudukan tubuh di sofa tunggal sebelum mengeluarkan suaranya. "Ada apa ya, bu?"


"Begini loh, Mutia. Saya mau menanyakan tentang surat kematian suamimu. Ibu-ibu di komplek ini terus mendesak saya."


Mutia gelagapan. Dengan perasaan cemas Mutia melirik Ghifar. Pria dua puluh lima tampak tak acuh dan sibuk dengan ponselnya.


"Anu... itu, bu. Suratnya..."


"Beberapa hari yang lalu kami menerima kabar buruk dari adik Mutia di kota kelahirananya," tiba-tiba saja Ghifar mengambil alih pembicaraan, membuat bu RT seketika memaku atensi padanya.


"Rumah Mutia mengalami kebakaran akibat arus pendek. Beberapa barang tidak bisa diselamatkan, termasuk berkas-berkas penting, surat kematian suami Mutia salah satunya. Dan Ibu tahu sendiri, untuk mengurus berkas-berkas itu membutuhkan waktu. Jadi... Mutia tentunya tidak bisa menunjukan surat kematian suaminya pada Ibu sekarang. Tapi jika Ibu mau, saya bisa menemani Ibu ke tempat tinggal Mutia, untuk menemui RT disana dan meminta pernyataan secara langsung tentang kebenaran meninggalnya suami Mutia."


"Ahh... itu tidak perlu, Gus." bu RT tersenyum canggung, lalu menoleh pada Mutia. "Kalau suratnya sudah selesai di urus, tolong tunjukan pada saya ya, Mutia."


"I-iya, bu."


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu."


"Aku an-antar keluar, bu."


Bersamaan dengan bu RT beranjak dari duduk, Mutia mengikuti wanita berhijab itu. Mereka meninggalkan Ghifar yang masih duduk santai di sofa ruang tamu. Tak sampai dua menit, Mutia sudah kembali duduk di sofa tunggal.


"Tuan, terima kasih karena..."


"Tidak perlu berterima kasih. Aku tidak sebaik itu menolong wanita yang sudah menyakitiku dan membuatku kecewa di masa lalu. Apa yang kulakukan tadi hanya untuk Teh Lamia. Aku tidak mau Teh Lamia merasa begitu bodoh karena telah berhasil kamu tipu mentah-mentah, saat dia tahu kebenaran tentangmu."


"Ma-maksud, tuan?" Mutia diserang perasaan was-was.


Ghifar menegakkan duduk. Menumpu kedua siku pada pahanya dan menautkan jemari. Manik hitamnya menatap Mutia dengan lekat. "Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi? Kamu... pembohong!"


Nafas Mutia tercekat.

__ADS_1


"Untuk menutupi satu kebohongan, kamu akan membuat kebohongan yang lain. Asal kamu tahu, Mutia. Kebohongan itu sama seperti bom waktu. Dan suatu saat, bom itu akan meledak, mengungkap semua kebohonganmu. Hal tersebut bukan hanya akan merugikanmu tapi juga keluargaku. Jadi... aku ingin kamu segera menyelesaikan masalahmu, atau angkat kaki dari rumah ini." kemudian Ghifar melenggang pergi, meninggalkan Mutia yang diam membisu dengan kepala menunduk.


Kak Ghifar tahu aku berbohong. Sejak kapan? Lalu kenapa kak Ghifar tidak mengatakan hal ini pada Teh Lamia?


__ADS_2