Untuk Mutia

Untuk Mutia
Memperbaiki hubungan


__ADS_3

...BESOK BAB ENDING AKAN DI UPLOAD, LALU DILANJUTKAN DUA EKSTRA BAB....


...****************...


Dua hari berlalu sejak terbongkarnya kebohongan Mutia, namun hubungan keduanya tak kunjung membaik. Bagaimana Mutia bisa menjelaskan semuanya pada Yudha untuk memperbaiki hubungan mereka, jika Yudha terus menghindarinya. Selain tak pernah lagi mengunjunginya dan Yusuf, Yudha juga mengabaikannya saat di kantor. Menjaga jarak dengannya seolah ia memiliki penyakit menjijikan yang akan membuat pria itu tertular.


Bahkan kemarin seharian nomor ponsel Yudha tidak aktif dan pria itu juga tidak masuk kerja, sehingga membuat Mutia di serang perasaan khawatir. Takut terjadi hal buruk pada pria yang ia cintai.


Untuk memastikan Yudha baik-baik saja, Mutia pun mendatangi rumah yang Yudha tinggali, namun sayang... pelayan yang bekerja di rumah itu mengatakan Yudha tak ingin bertemu dengannya. Jadilah Mutia hanya menanyakan keadaan Yudha pada pelayan tersebut, dan setelah memastikan Yudha baik-baik saja, Mutia pun memutuskan untuk pulang.


Lain halnya dengan Yudha yang selalu menghindarinya, Haikal justru terus menerornya lewat pesan dan telpon selama dua hari ini. Pria itu selalu mengirimkan pesan singkat ataupun voice mail yang berisi permintaan maaf serta ungkapan penyesalannya, namun Mutia tidak pernah menanggapi. Ia sengaja membuat Haikal tersiksa karena rasa bersalah, sama seperti yang ia rasakan akibat ulah pria itu.


"Mutia, kamu sakit?" adalah pengganti sapaan selamat pagi yang biasa mbah Sriti ucapkan saat Mutia baru saja keluar dari kamar.


Mengarahkan tatapan pada mbah Sriti, Mutia mengulas senyum sembari menarik kursi dan mendudukkan tubuhnya di balik meja makan.


"Nggak kok, mbah."


Bohong! Nyatanya Mutia dalam keadaan yang sangat tidak baik-baik saja. Banyaknya pekerjaan di kantor, insomnia serta beban pikiran karena hubungannya dan Yudha yang merenggang, membuat sistem imun-nya melemah dan berefek pada kesehatannya yang menurun.


"Tapi wajahmu pucat, Nak."


Dengan itu mbah Sriti meninggalkan kompor, membawa serta mangkuk berisi nasi goreng. Menghampiri meja, mbah Sriti meletakkan mangkuk tersebut disana, bergabung dengan peralatan makan. Dan mempersilahkan Mutia untuk memulai sarapannya.


"Aku hanya kurang tidur, mbah."


Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak, jika saat menutup mata, Mas Yudha selalu muncul dalam mimpiku lengkap dengan tatapan terluka dan kecewanya. batin Mutia sembari tersenyum getir. Bahkan dua hari terakhir Mutia sering kali berhalusinasi melihat Yudha datang ke rumah ini, memanggilnya dan bersikap seperti biasa, seolah tak pernah ada pertengkaran diantara mereka.


"Sebaiknya kamu istirahat saja, Mutia. Percuma juga kamu masuk kerja dengan keadaan seperti ini, kamu nggak akan fokus, yang ada nanti kamu ketiduran di kantor." nasehat mbah Sriti. Lalu menghampiri Mutia dan menyentuh dahi wanita itu dengan punggung tangannya.


"Badanmu panas, Mutia. Kamu demam. Sebaiknya mbah temani kamu ke dokter." kali ini suara mbah terdengar panik bercampur khawatir.


Masih dengan seulas senyum menghiasi wajah pucatnya yang sudah bersimbah peluh dingin, Mutia meraih tangan mbah Sriti yang menyentuh dahinya, kemudian memberikan tepukan lembut di bagian punggung tangan.


"Aku baik-baik saja, mbah. Cukup dengan tidur sebentar, aku akan sehat kembali. Mbah nggak usah khawatir, ya. Ini cuma demam biasa kok. Sepertinya aku akan terkena flu."


...* * *...


Nyatanya hingga malam kondisi Mutia tidak kunjung membaik, justru menjadi semakin parah. Tubuh Mutia terasa begitu dingin, membuatnya menggigil dengan gigi yang menggeletuk. Mutia sudah meringkuk seperti janin, memakai mantel tebal dan menyelimuti tubuhnya hingga leher dengan selimut yang juga tak kalah tebal, namun hal itu sama sekali tidak membuat Mutia merasa hangat.


Mbah Sriti pun selalu memeriksa kondisi Mutia setiap satu jam dengan membawa teh hangat, jahe hangat atau roti untuk mengisi perut, karena Mutia menolak makan sejak tadi siang. Wanita parubaya itu juga sudah berulang kali membujuk Mutia ke dokter, tapi Mutia selalu menolak dan berkata ia akan segera membaik.


"Ya Tuhan, Mutia."


Ketika masuk ke kamar Mutia untuk mengantarkan makan malam berupa bubur sum-sum, mbah Sriti justru mendapati Mutia yang tengah membungkuk dengan posisi setengah duduk dan memuntahkan seluruh isi perutnya ke lantai. Segera saja mbah Sriti menghampiri Mutia yang sudah kembali berbaring, dengan langkah tergopoh dan wajah tuanya menampakkan raut khawatir.


"Mbah ambil lap dulu untuk membersihkan ini." ujarnya setelah meletakan nampan berisi bubur dan segelas susu coklat ke atas nakas.


Mbah Sriti baru saja akan beranjak pergi, saat Mutia menahan pergelangan tangannya.


"Jangan, mbah. Biar nanti aku yang bersihin." dengan nafas yang tersengal, membuat Mutia kesulitan untuk bicara, sehingga suaranya terdengar samar, namun beruntung mbah Sriti masih bisa mendengarnya.


"Tidak apa. Ini harus segera di bersihkan atau baunya akan memicu kamu muntah kembali." mengusap lengan Mutia yang terasa panas, berbanding terbalik dengan Mutia yang merasa kedinginan, wanita tua itu mengulas senyum khas seorang Ibu.


"Itu menjijikan, mbah. Aku tidak ingin kualat karena membiarkan orang yang lebih tua membersihkan muntahanku." meski sakit, Mutia tetap saja keras kepala.


"Untuk duduk saja kamu kesulitan, apalagi bergerak membersihkan ini." dengan gemas mbah Sriti menepuk lengan Mutia. "Tidak usah dipikirkan ya."

__ADS_1


Kemudian mbah Sriti keluar dari kamar Mutia. Dan tak sampai sepuluh menit wanita parubaya itu sudah kembali dengan membawa serta sebuah lap dan ember berisi air yang di campur pengharum lantai.


"Yusuf mana, mbah?" Mutia bertanya sembari menatap mbah Sriti yang sedang membersihkan lantai dan sama sekali tidak menampilkan raut jijik.


"Setelah mbah beri ASI dia tertidur." mbah Sriti mengarahkan tatapannya pada Mutia. "Kamu mau mbah bawa Yusuf kemari?"


Mutia menggeleng. "Aku tidak ingin dia ketularan."


"Kalau begitu kamu harus segera ke dokter untuk mendapatkan perawatan." usai membersihkan lantai, mbah Sriti memasukkan lap kotor ke dalam ember. "Kondisi kamu semakin buruk, Mutia."


Bukannya menanggapi ucapan mbah Sriti, Mutia justru berusaha untuk bangkit dari ranjang, membuat mbah Sriti yang melihatnya dengan sigap membantu wanita itu duduk.


"Kamu mau kemana, Mutia?"


"Aku mau ke kamar mandi, mbah." sembari tersenyum Mutia mengusap pelan lengan mbah Sriti. "Tidak apa. Aku bisa sendiri, mbah."


Meski ragu dengan ucapan Mutia, mbah Sriti tetap melepaskan pegangannya pada wanita itu. Ia tak ingin membuat Mutia tertekan karena merasa tak berdaya akibat tubuhnya yang lemah. Namun baru dua langkah, Mutia merasakan pandangannya berkunang-kunang dan kepalanya berputar, membuat tubuhnya limbung dan akhirnya tergeletak di lantai.


Hal terakhir yang Mutia ingat sebelum kehilangan kesadarannya adalah suara teriakan mbah Sriti yang memanggil namanya.


...* * *...


Ini aneh. Untuk pertama kalinya —sejak dua hari terakhir— Mutia bisa tidur nyenyak tanpa memimpikan Yudha yang menatapnya dengan sorot terluka dan juga kecewa, sehingga membuatnya terbuai dan merasa enggan untuk membuka mata. Ia takut bila terbangun tak bisa tidur dengan lelap lagi dan ia juga takut akan kembali berhalusinasi melihat Yudha. Namun genggaman di tangannya yang terasa begitu hangat, membuat Mutia merasa penasaran.


Dorongan untuk mengetahui siapa pemilik tangan yang menggenggamnya, memaksa Mutia untuk perlahan membuka mata. Samar ia melihat sosok yang duduk disampingnya tengah tersenyum padanya, senyum penuh kelegaan.


"Akhirnya kamu sadar juga." kemudian sosok itu beranjak dari duduk. Mungkin menekan tombol pemanggil. Lalu berdiri setengah membungkuk ke arahnya.


"Ma-Mas Yudha." Mutia berucap lirih dengan tenggorokan yang terasa sakit, hingga membuat suaranya terdengar serak.


"Tidak, tidak mungkin Mas Yudha disini." gumamnya, lantas kembali memejamkan mata dan tersenyum getir. Halusinasiku semakin parah. Batinnya, karena kali ini bayangan Yudha bicara padanya, tidak seperti biasanya yang hanya diam menatapnya dengan sorot kecewa.


Apakah karena rasa cinta yang ia miliki untuk Yudha lebih besar, daripada perasaan yang dulu ia rasakan pada Haikal?


"Mutia, hei, ada yang sakit?"


Ah, suara itu terlalu nyata untuk ia dengar dan sentuhan hangat di lengannya juga terasa nyata, jika hanya sekadar halusinasinya saja.


Membuka mata, Mutia menatap Yudha —manifestasi dari pikirannya— yang kini begitu dekat dengannya dan menatapnya dengan raut khawatir. Sembari tersenyum Mutia menggerakkan tangannya untuk menyentuh rahang Yudha, kemudian berpindah ke pipi dan mengusap lembut kedua kelopak mata pria itu yang seketika menutup karena sentuhannya.


"Ini pertama kalinya aku bisa menyentuh halusinasiku." Mutia tersenyum sedih.


"Halusinasi?" Yudha menggenggam tangan Mutia yang digunakan untuk menyusuri wajahnya, lalu membuka mata. "Jadi... sejak tadi kamu berpikir aku hanyalah halusinasimu saja?"


Dengan polos Mutia menganggukkan kepala, membuat Yudha terkekeh geli.


"Aku nyata, Sayang. Aku disini untukmu." sedetik kemudian Yudha memberikan kecupan di punggung tangan Mutia, bersamaan dengan datangnya dokter dan perawat yang akan memeriksa kondisi wanita itu.


...* * *...


"Kenapa kamu terus menatapku?"


Sesaat Yudha mengarahkan tatapannya pada Mutia, sebelum kembali mengupas apel sebagai pencuci mulut untuk Mutia yang baru saja selesai makan siang.


"Aku takut jika memalingkan tatapan atau hanya sekadar berkedip, Mas akan menghilang." ujar Mutia dengan suara lirih.


"Oh, Sayang." meletakan pisau dan apel yang baru dikupas setengah ke atas meja, Yudha beralih meraih tangan Mutia dan menggenggamnya. "Aku tidak akan kemana-mana. Jangan menyiksa mata indahmu. Lihatlah, mereka sekarang tampak memerah. Ayo, berkedip."

__ADS_1


Menghela nafas panjang, Mutia meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Lalu Mutia menutup matanya dan kembali membuka kelopak mata dengan cepat, satu kali kedipan, dua kali, bahkan hingga berkali-kali sosok Yudha sama sekali tidak menghilang dari hadapannya. Seketika Mutia menghela nafas lega sembari menyungging senyum.


"Ternyata Mas benar-benar nyata." genggamannya pada Yudha kian mengerat.


"Jadi kamu masih berpikir aku halusinasimu? Setelah satu jam berlalu?" Yudha hanya bisa mengelus dahi Mutia dengan ibu jarinya, saat wanita itu memberinya anggukkan polos.


"Bagaimana aku tidak kebingungan untuk menentukan mana yang halusinasi dan mana yang nyata, mengingat dua hari ini Mas selalu terlihat nyata di depanku, tapi saat kusentuh Mas menghilang. Rasanya begitu menyakitkan saat menyadari bahwa kehadiran Mas hanya halusinasiku saja."


Beranjak dari duduk, Yudha mengecup dahi Mutia, kemudian menatap wanita itu dari jarak yang sangat dekat. "Maafkan aku, Mutia. Tapi kamu harus tahu, aku juga sama tersiksanya berpisah denganmu selama dua hari ini."


"Lalu kenapa Mas tidak menemuiku? Mas justru selalu menghindariku. Apa Mas tidak merindukan Yusuf? Jika memang Mas tidak ingin melanjutkan rencana pernikahan kita, katakan saja, aku dan Yusuf akan pergi, Mas tidak perlu menjaga jarak dengan kami."


Kemudian Mutia terisak, membuat Yudha sedikit menciptakan jarak dan berusaha menenangkan Mutia sembari menyeka air mata wanita itu. Namun ia tetap diam, membiarkan Mutia mengeluarkan keluh kesahnya.


"Da-dari mana Mas tahu aku masuk rumah sakit?" Mutia bertanya di sela sesegukkan.


"Mbah menelponku dan mengatakan kamu pingsan. Aku yang membawamu ke rumah sakit."


Dengan tenaga tak seberapa yang ia milikki, Mutia menepis tangan Yudha dan mendorong pundak pria itu agar menjauh darinya. Sementara Yudha membiarkan saja tubuhnya terdorong dan kembali duduk.


"Jadi Mas datang karena permintaan mbah? Bukan karena Mas peduli padaku, ataupun karena Mas memang ingin bertemu denganku? Lalu keberadaan Mas disini, menemaniku, juga karena permintaan mbah?" air mata Mutia kembali mengalir, namun kali ini ia langsung menepis tangan Yudha saat pria itu akan menyeka air matanya.


Yudha mendesah menerima penolakan dari Mutia, sebelum menanggapi ucapan wanita itu. "Aku memang peduli dan mengkhawatirkanmu, Mutia. Saat mbah menelponku, memberitahu bahwa kamu pingsan, aku benar-benar kalut. Bahkan saat itu aku tanpa sengaja membentak mbah karena tidak memberitahuku kalau kamu sedang sakit."


Pengakuan Yudha membuat Mutia menghentikan tangisnya, hingga kini hanya tersisa sesegukkan dan air mata yang membasahi pipi. Saat Yudha kembali menghapus air matanya, Mutia tak lagi menolak sentuhan pria itu, membuat Yudha tersenyum.


"Dan untuk kedatanganku. Sebenarnya aku sudah berniat menemuimu hari ini untuk menyelsaikan permasalahan kita. Rasanya tidak adil, jika aku tidak memberimu kesempatan untuk memberi penjelasan tentang kenapa kamu berbohong." meraih tangan Mutia, Yudha memainkan jari-jari lentik wanita itu.


"Saat Haikal memberitahuku bahwa dia adalah mantan suamimu, aku merasa sangat marah sehingga tidak bisa berpikir jernih. Karena terbakar emosi, siang itu aku melampiaskan kemarahanku padamu. Maaf." sedikit menarik tangan Mutia, Yudha memberikan kecupan di punggung tangan.


"Lalu sesampainya di rumah aku langsung berwudhu dan sholat, untuk menjauhkan setan yang terus menghasutku. Setelah sholat aku merasa lebih tenang, pikiranku pun mulai jernih, namun aku tidak bisa langsung menemuimu, karena aku butuh menenangkan diri. Aku takut kembali lepas kendali dan berakhir dengan menyakitimu."


"Jadi... selama ini Mas menghindariku bukan karena membenciku?" manik hitam Mutia tampak berbinar.


Yudha tersenyum dan mencubit gemas pipi Mutia yang tampak tirus. Ah, baru berpisah dua hari, tapi kenapa Mutia sudah begitu kurus. Batinnya saat mendengar suara ringisan wanita itu.


"Tidak, Mutia." sorot mata Yudha begitu lembut dan hangat ketika menatap Mutia. "Aku memberi waktu tiga hari pada diriku sendiri untuk menenangkan diri, tapi ternyata semalam mbah justru memberiku kabar buruk, sehingga membuatku harus menemuimu lebih cepat dari seharusnya."


"Dan Mas menyesal?"


Yudha menggeleng. "Aku bahkan tak menyangka, saat melihatmu aku sama sekali tak merasakan lagi emosi yang menggebu-gebu seperti siang itu. Entah karena amarah itu yang memang sudah menghilang atau karena perasaan khawatirku padamu lebih besar dari kemarahan itu sendiri. Padahal aku sangat mengenal tabiat burukku, yang sangat sulit meredakan amarah. Lihat saja bagaimana hubunganku dan Papi. Tapi itu tak penting lagi bagiku, karena yang terpenting sekarang aku bisa kembali berhadapan denganmu dalam keadaan hati yang tenang."


Mutia memejamkan matanya dan tersenyum. Tampak setetes air mata menggantung di sudut matanya, namun kali ini bukan lagi tangis kesedihan, melainkan tangis penuh kelegaan.


"Mutia,"


Membuka matanya, Mutia menatap tepat dimanik hitam pekat milik Yudha.


"Aku tahu ini bukan saat yang tempat untuk membicarakannya, namun aku harus segera mendengar penjelasanmu agar bisa mengambil tindakan."


"Mengambil tindakan? Apakah artinya Mas akan meninggalkanku?"


Tiba-tiba Mutia kembali merasa ketakutan. Seharusnya ia memang tidak pernah lagi membuka mata.


Lalu Yusuf?


Ya Tuhan, bagaimana ia bisa berpikiran egois seperti itu. Beruntung Allah masih memberinya kesempatan untuk kembali menatap dunia.

__ADS_1


"Tergantung, Mutia. Jika aku bisa menerima alasan dari kebohonganmu, maka aku akan memperjuangkan hubungan kita. Tapi jika tidak, maka aku akan mengakhiri hubungan kita sampai disini."


__ADS_2