
Keyla mengajak Mutia menyusuri koridor dengan dinding kaca, hingga mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam pekat. Sedetik kemudian Astari meraih knop pintu, mengungkitnya, sebelum mendorong pintu tersebut ke dalam. Sembari tersenyum Astari mempersilahkan Mutia untuk masuk, lalu memintanya duduk di kursi depan meja kerja yang tampak mengkilat dengan barang-barang yang tertata begitu rapi.
Melihat pemandangan tersebut membuat Mutia seketika langsung mengetahui bagaimana kepribadian dari pemilik ruangan tempatnya berada saat ini. Seseorang yang selalu ingin segalanya sempurna, detail, cermat dan tentu saja pecinta kebersihan. Lihatlah dinding kaca ruangan ini yang tampak tembus pandang, karena tak ada sedikitpun debu yang menempel. Jika saja Mutia tak melihat kusen dan gorden yang juga ada disana, Mutia pasti berpikir bahwa ruangan ini tidak berdinding.
Mutia tidak akan terkejut bila nanti menemukan sosok bos Astari adalah orang yang kaku.
"Mutia." bersamaan dengan itu Astari menyentuh pundak wanita hamil yang kini tengah memerhatikan keadaan sekitar ruangan bos-nya, membuat atensi Mutia seketika teralihkan padanya.
"Pak bos akan segera kembali. Kamu tidak masalah kan menunggu sendirian disini? Jam istirahatku sudah selesai, jadi aku harus balik kerja dan membiarkan rekan-ku yang lain makan siang."
Sembari tersenyum, Mutia menjawab. "Tidak apa-apa, Astari. Terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu."
"No... no... no." sambil menggoyangkan jari telunjuknya, Astari berdecak pelan. "Mengutip kata-kata Shahrukh Khan di film Om Shanti Om, kalau tidak salah, dia bilang... tidak ada kata terima kasih dan maaf dalam persahabatan." kemudian satu mata Astari mengedip, dengan seulas senyum hangat menghiasi wajah cantiknya. "Btw, panggil aku Keyla. Semua orang disini mengenalku sebagai Keyla, karena Astari menurutku terdengar jadul."
"Baiklah," manik hitam Mutia menyorot jenaka, sementara bibirnya mengulas senyum geli. "Mulai sekarang aku akan memanggilmu Keyla."
"Sound good." mengacungkan ibu jarinya, Keyla tertawa renyah. "Oke, aku harus pergi sekarang. Jika kamu butuh sesuatu, aku ada di lantai dua."
Setelah mendapat anggukkan dari Mutia, Keyla keluar dari ruangan tersebut. Meninggalkan Mutia yang bergeming dengan mata menatap liar sekitar tempatnya berada saat ini.
__ADS_1
Ruangan bos Keyla sangat luas. Mungkin setara dengan ruang tamu di rumah Lamia. Ah... mengingat Lamia, tiba-tiba saja Mutia merindukan wanita dua puluh tujuh tahun itu yang selama beberapa bulan ini mau menampungnya, padahal belum satu hari ia pergi dari rumah Lamia. Meskipun ia sempat menerima perlakuan buruk dari Lamia, hal tersebut tidak lantas membuat Mutia menyimpan kemarahan apalagi dendam pada wanita itu. Seperti kata pepatah, jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga.
Entah berapa lama Mutia mengamati ruangan yang di dominasi oleh warna coklat dan putih tersebut, sehingga ia merasa tidak terlalu lama menunggu, karena tahu-tahu saja sekarang Mutia sudah mendengar suara pintu terbuka dan diikuti oleh langkah kaki yang berderap pelan —namun tegas— menghampirinya.
Serta merta Mutia beranjak dari duduk, lantas mengarahkan atensi pada sosok yang baru saja memasuki ruangan. Mutia meyakini bahwa sosok pria bertubuh tinggi tegap yang di balut oleh kemeja merah maroon itu adalah bos Keyla, sebab pria tersebut masuk tanpa mengetuk pintu. Lalu saat pria itu berhenti di jarak setengah meter darinya dan menatapnya dengan seulas senyum ramah nan hangat, tanpa sadar Mutia terkesiap sembari membelalakan mata.
Pria ini...
"Hai, kamu yang di bawa oleh Keyla?"
Seolah kehilangan kemampuan untuk bicara, Mutia pada akhirnya hanya menganggukkan kepala.
Tanpa menghilangkan senyum, pria itu mengulurkan tangannya pada Mutia. Mengajak berjabatan. "Aku Barata Yudha. Pemilik Barata Mobilindo."
"Maaf sudah membuatmu menunggu." melepas jabatan tangan, Yudha menunjuk kursi di belakang Mutia dengan sopan. "Silahkan duduk."
Apa benar dia pria yang menolongku di lorong toilet waktu itu? Tapi kenapa dia terlihat tidak mengenaliku? bersamaan dengan itu Mutia mendudukan tubuhnya, diikuti oleh Yudha yang duduk di seberangnya beberapa detik kemudian.
"Sebelumnya, aku ingin memastikan lebih dulu." meletakan kedua tangan diatas meja, Yudha menautkan jemari, tatkala obsidiannya menatap lurus pada manik jelaga Mutia. "Kamu yakin ingin bekerja sebagai sales dengan kondisi kamu yang hamil besar? Karena meski dalam keadaan hamil, aku tidak bisa memberikan pengecualian untukmu. Jika aku melakukan hal itu, tentu saja akan memunculkan kecemburuan dari calon karyawan yang lain."
__ADS_1
"Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, Mas, eh... Gus , pak bos." suara Mutia melirih di akhir kalimat dan disertai oleh suara ringisan pelan.
Yudha terkekeh kecil sembari mengibaskan tangan, tak acuh. "Terserah kamu mau panggil aku apa saja, karena aku juga bukan asli orang Bali."
"Kalau begitu, untuk saat ini aku akan panggil Mas. Setelah resmi bekerja, aku akan menggantinya dengan 'pak bos'."
Melihat raut polos Mutia, membuat Yudha tak bisa menahan diri untuk kembali terkekeh geli. "Aku bukan orang gila hormat. Semua karyawan BM memanggilku sesuai kenyamanan mereka. Aku bahkan tidak masalah saat mereka langsung menyebut namaku." bahunya mengedik sembari mengulum senyum. "Jadi, Mutia. Bisa kita mulai sesi wawancara-nya?"
"Wa-wawancara? Mas tidak melihat dulu surat lamaran, ijazah-ku, riwayat hidup, dan lain sebagainya?"
Tawa renyah Yudha bergema di ruang luas berdinding kaca tersebut, sebelum ia menanggapi pertanyaan Mutia. "Dibanding membaca, aku lebih suka berbicara Mutia. Saat kamu ada di depanku, untuk apa aku repot-repot membaca kertas lamaran kerja dan riwayat hidup kamu. Aku bisa bertanya secara langsung, bukan? Atau kamu merasa keberatan?"
"Ah... tidak. Tentu saja tidak, Mas." Mutia tersenyum kikuk.
"Aku membutuhkan seorang karyawan yang memenuhi ekspektasi-ku. Dan untuk mendapatkan itu, aku harus berinteraksi secara langsung dengan calon karyawan, agar aku bisa menilai dari caranya bicara dan juga bersikap. Karena selembar kertas tidak bisa menjamin apapun."
"Dulu pernah ada calon karyawan lulusan Columbia University melamar pekerjaan di BM. Angka yang ada di dalam skrip nilai-nya sungguh memuaskan. Dia bahkan mendapat cum laude. Tapi sayang, attitude-nya nol besar. Dia merasa tinggi hati dengan angka yang tertera di atas kertas nilai miliknya, hingga tidak memedulikan hal lain lagi. Seperti attitude, cara pandang, cara berkomunikasi dan sebagainya. Jadi setelah kejadian itu, aku lebih selektif memilih karyawan. Sebab formalitas seperti yang biasa di lakukan oleh banyak perusahaan, tidak efektif untuk mendapatkan karyawan yang benar-benar sesuai harapan."
Kali ini Yudha menatap Mutia dengan tajam dan begitu dalam, membuat Mutia merasa Yudha seolah mampu melihat hingga ke dasar hatinya dan ia tak bisa membohongi pria itu. Tanpa sadar Mutia meneguk ludah dengan kasar. Baru kali ini Mutia menemukan atasan seperti Yudha.
__ADS_1
"Kita mulai?"
Mutia mengangguk lambat-lambat.